Kwee Kek Beng jadi kepala redaksi Sin Po. W.R. Supratman salah satu wartawannya. Kwee kek Beng mencetak extra 5000 koran memuat lagu Indonesia Raya. Hasil penjualannya diserahkan untuk gerakan pemuda. Karena Sin Po selalu menggunakan istilah Indonesia, kaum pergerakan Nasional membalasnya dengan istilah Tionghoa, seperti istilah Tsung Hwa dari Sun Yat Sen, dan membuang istilah Cina, yang dianggap merendahkan seperti istilah Cina kunciran. Waktu di jaman Suhato dipakai kembali istilah Cina, dua surat kabar, satu koran Merdeka di bawah B.M. Diah dan Indonesia Raya di bawah Mochtar Lubis, tetap konsekwen menggunakan istilah Tionghoa. Perlu dicatat B.M. Diah ini sekolahnya di Sekolah Taman Siswa, tidak mau di sekolah Belanda. Jadi sejak siswa sudah nasionalis. Juga pernah kerja di Sinpo. Jadi tidak lupa asalnya. Kwee Kwek Beng diburu jepang karena tulisannya anti Jepang dalam perang Tiongkok-Jepang. Dia melarikan diri ke Bandung di jalan Cicendo, precies enceng2an dengan markas tentara jepang. Jepang tidak pernah mwengira kalau orang yang dicari ada di bawah hidungnya. Dua putera Kwee Kek Beng, satu adalah arsitek Kwee Hien Goan, tinggal di Rotterdam. Waktu dosen2 Belanda pergi pulang, Kwee Hin Goan memimpin delegasi mahasiswa arasitektur Bandung menghadap bung Karno. Kwee cerita wah bung karno itu pengetahuannya luas sekali, tahu nama arsitek2 terkenal di seluruh dunia, meskipun bung Karno dulunya dari bagian Sipil, bukan arsitektur. Dan bung Karno kerjanya cepat sekali, langsung menelpon beberapa duta besar Inonesia di luar negeri unuk mengontrak arsitek2 terkenal jadi dosen di Bandung. Kwee setelah lulus pernah membangun rumah bagi Fatmawati dan para menteri. Di Belanda Kwee bekerja di bureau arsitek terkenal. Kwee pernah jadi ketua perkumpulan Inisiatip di Belanda, dan sering beri ceramah. Adiknya, Kwee Hin Houw sekolah junalistik di jerman Timur. Waktu seorang mahasiswa Sunda mengeluh di kantin Jerman adanya daging babi, dia berkomentar kalau terpaksa kan makan daging babi dibolehkan. Wah, jadi persoalan besar, pasportnya dicabut. tetapi dia tidak berani pulang indonesia, karena tahu akan dapat kesulitan. Akhirnya dibantu oleh Zhou Enlai diberi pasport Tiongkok, dan dapat kerjaan sampingan di kedutaan besar Tiongkok di jerman Timur. Waktu terjadi conflict politik antara Tiongkok dan Uni Sovyet, Jerman Timur pro uni Sovjet, dan kwee hin Houw ditahan Stassi, dengan tuduhan membawa lari orang Jerman Timur ke jerman Barat, karena dia sering naik mobil ke Jerman Barat. Ditahan lama sekali, tetapi akhirnya dibebaskan. Lalu pindah ke Jerman Barat, jadi wartawan. Pernah beberapa tahun tinggal di Belanda. Kemudian balik lagi ke jerman Barat, dan meninggal di sana. Dalam keadaan sakit Eddie Lembong pernah minta pada Widaya Poo Tjie Gwan untuk menghubungi SBY apa sebelum akhir masa jabatannya bisa menyelesaikan persoalan istilah Cina. Ternyata SBY bersedia mengeluarkan instruksi penggantian istilah ini.
2017-11-03 4:56 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > > Peran koran Tionghoa buat Sumpah Pemuda > <https://www.merdeka.com/khas/peran-koran-tionghoa-buat-sumpah-pemuda.html> > Senin, 30 Oktober 2017 06:00Reporter : Rendi Perdana > <https://www.merdeka.com/reporter/rendi-perdana/> > > - > > <https://facebook.com/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fkhas%2Fperan-koran-tionghoa-buat-sumpah-pemuda.html> > > - > > <https://twitter.com/share?text=Peran%20koran%20Tionghoa%20buat%20Sumpah%20Pemuda%20%7C%20merdeka.com&url=https%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fkhas%2Fperan-koran-tionghoa-buat-sumpah-pemuda.html&via=merdekadotcom> > > - > > <https://plus.google.com/share?url=https%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fkhas%2Fperan-koran-tionghoa-buat-sumpah-pemuda.html> > > - 221SHARES > > Koran Sin Po. ©2017 Merdeka.com/rendi > > *Merdeka.com - *Alunan biola di tengah Kongres Pemuda II pada 28 Oktober > 1928 begitu merdu. Dimainkan seorang anak muda. Pria berkacamata dan > memakai peci hitam. Membawakan karya ciptaannya. Berhasil membakar semangat > para peserta. Mereka datang dari pelbagai daerah. Berkumpul di Jalan > Kramat Raya No.106, > <https://maps.google.com/?q=Jalan+Kramat+Raya+No.106,*Jakarta+%3Chttp://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/%3E*&entry=gmail&source=g>*Jakarta > <http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/>*. Dalam sebuah gedung. Bersepakat > menjadi satu bangsa. Sekaligus menjadi pendengar pertama lagu Indonesia > Raya. > > Pria berkacamata itu adalah Wage Rudolf Supratman. Akrab dikenal sebagai > WR Supratman. Seorang anak muda dikenal bekerja sebagai pewarta dan musisi. > Lagu ciptaannya di tengah Kongres Pemuda II itu begitu dikagumi. Sakral. > Khususnya bagi masyarakat Indonesia. Mempunyai pesan penting. Mengajak > Indonesia untuk menjadi negara merdeka. > > Kongres Pemuda II itu menghasilkan deklarasi penting. Bernama Sumpah > Pemuda. Berisi tiga poin. Mengajak para peserta tetap bertanah air, > berbangsa dan berbahasa Indonesia. Dari kongres ini pula, Indonesia Raya > karya WR Supratman menjadi lagu kebangsaan. Sampai sekarang. > > Karya WR Supratman begitu penting. Harus disebarkan ke seluruh penjuru dan > rakyat Indonesia. Surat kabar zaman pra kemerdekaan pun mengambil peran. > Adalah Koran Sin Po. Media massa cetak milik keturunan Tionghoa di > Indonesia. Sekaligus tempat WR Supratman bekerja sejak tahun 1925 > > Koran ini merupakan media pertama menyebarluaskan syair dan partitur lagu > Indonesia Raya. Dalam edisi bahasa Melayu, WR Supratman menulis sendiri. > Saat itu masih berjudul 'Indonesia'. Tepat tanggal 10 November 1928, edisi > koran berisi lagu Indonesia Raya akhirnya terbit. Mencetak 5.000 eksemplar. > Sekaligus sebagai hadiah buat WR Supratman. > > Sin Po pertama kali terbit pada 1 Oktober 1910. Dalam perjalanannya, media > cetak ini menjadi salah satu pelopor penggunaan kata 'Indonesia'. Mereka > mengganti sebutan 'Nederlandsch-Indie', 'Hindia-Nederlansch', atau pun > 'Hindia Olanda'. Semua berubah menjadi Indonesia. Termasuk menghapus kata > 'inlander'. Sebab, dirasa sebagai penghinaan. Mereka dianggap memiliki > pandangan politik pro nasionalis Tiongkok. Salah seorang wartawan > terkemuka, Kwee Kek Beng, sempat menjabat pemimpin redaksi Sin Po sejak > 1925 hingga 1947. > > Gerakan pro nasionalis Tiongkok selama ini didukung Sin Po akhirnya sirna. > Seiring kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di mana banyak tokoh > Tionghoa terlibat. Mereka pula menyatakan etnis Tionghoa adalah bagian dari > masyarakat Indonesia. Dan, koran ini lantas mengubah nama. Pada Oktober > 1958, menjadi Pantjawarta. Kemudian berubah lagi dengan nama Warta Bhakti > pada tahun 1960an. Nasib Sin Po pun berakhir. Di mana masa Orde Baru > muncul. Perusahaan media ini dianggap simpatisan Partai Komunis Indonesia > (PKI). Koran sudah bernama Warta Bhakti itu kemudian dilarang terbit sejak > 1 Oktober 1965. > > *Koran Sin Po ©2017 Merdeka.com/rendi* > > Jejak koran Sin Po pada era sekarang mulai hilang. Dalam peringatan 89 > Tahun hari Sumpah Pemuda, lokasi kantor mereka sudah berubah. Kami mencoba > menelusuri. Dari pelbagai sumber, kami mendapat informasi alamat kantor itu > berada di kawasan Jalan Asemka, Jakarta > <https://maps.google.com/?q=Jalan+Kramat+Raya+No.106,*Jakarta+%3Chttp://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/%3E*&entry=gmail&source=g> > Barat. Kawasan itu memang lebih dikenal menjadi pusat perbelanjaan grosir. > Mulai dari mainan hingga cinderamata pernikahan. Terletak di sebelah barat > dari Stasiun Beos atau sekarang dikenal Stasiun Jakartakota. > > Kawasan ini ramai pedagang. Aktivitas jual beli di siang hari itu terlihat > sangat sibuk. Banyak warga dan para pedagang hilir mudik. Bergantian. > Lengkap membawa tentengan. Sesekali ada juga mereka memanggul karung barang > dagangan di pundak. Biasanya para pembeli juga merupakan pedagang. Mereka > membeli untuk dijual kembali. Harga ditawarkan jauh lebih murah. Banyak > barang dagangan di situ merupakan Impor dari Tiongkok. > > Penelusuran ke sejumlah lokasi di Jalan Asemka dimulai. Beberapa warga > sekitar kami tanya tentang Koran Sin Po dan lokasi bekas kantornya. Umumnya > mereka menjawab tidak tahu. Bahkan ada pula baru mendengar nama surat kabar > tersebut. Lantas kami pun mencari beberapa sesepuh di sekitar Jalan Asemka. > Guna mengorek tentang keberadaan koran Sin Po. > > Kami bertemu sempat bertemu pria tua bernama Atjionk di sebuah ruko. Dia > Dianggap salah seorang sesepuh. Pria kelahiran tahun 1940 ini mengaku > pernah mengetahui tentang Koran Sin Po. Itu merupakan bacaannya saat muda. > Sekitar tahun 1950an. Isi *berita > <http://www.merdeka.com/berita-hari-ini/>* pun pelbagai macam. Menurut > dia, koran dengan bahasa Indonesia tempo dulu itu menghadirkan banyak > rubrik. Mulai dari hukum, politik hingga berita internasional. Beberapa > iklan merek ternama juga kerap mejeng di sana. > > Ingatan Atjionk sudah mulai lemah. Hampir tak ingat berita apa saja telah > dibaca. Namun, dia mengetahui bahwa koran itu akhirnya ditutup karena > dilarang pemerintah. "Setahu saya itu kan ditutup pas tahun 1965 karena > dianggap tidak sejalan dengan pemerintah," kata Atjionk ketika berbincang > dengan merdeka.com, Selasa pekan lalu. > > Sayang pria akrab disapa Koh Acong itu tidak mengetahui lokasi persis > kantor redaksi Koran Sin Po. Meski begitu, dia membenarkan bahwa kawasan > tempat dia berdagang ini pada zaman dahulu banyak muncul kantor media > massa. Di samping sebagai tempat para warga Indonesia keturunan Tionghoa. > > Kami pun coba menelusuri ke Jalan Toko Tiga. Lokasinya tak jauh dari Jalan > Asemka. Menurut orang sekitar, zaman dahulu memang banyak kantor media. > Sebab di area ini banyak jasa percetakan. Bahkan hingga sekarang. Tentu > saja bangunannya sudah berubah. Tidak ada sisa bangunan asli seperti > dahulu. Kini kebanyakan berubah menjadi ruko, minimarket dan hotel. > > *Lokasi kantor redaksi Koran Sin Po ©2017 Merdeka.com/Rendi* > > Di sana kami juga bertemu salah seorang sesepuh sekaligus pemiliki toko > percetakan. Sentosa, begitu pria kelahiran tahun 1936 itu berkenalan kepada > kami. Dia mengaku sebagai pelanggan setia Koran Sin Po pada zamannya. > Menceritakan lebih jauh, Sentosa menyebut koran Sin Po sangat berjaya di > zamannya. "Bisa dikatakan koran nomor satu di Jakarta," ungkap dia > bercerita kepada kami. > > Kertas dipakai itu juga memakai kualitas terbaik. Cetakannya juga masih > hitam putih. Pria keturunan Tinghoa itu menyebut bahwa Koran Sin Po terbit > setiap hari. Jumlah halamannya tidak banyak. Satu eksemplar koran terdiri > dari lebih kurang 6 halaman. Memuat berita dan juga iklan. > > Bukan hanya sebagai pelanggan setia. Dia juga masih mengetahui lokasi > kantor redaksi Koran Sin Po. Dia menyebut masih berada di Jalan Asemka. > Sisa gedungnya memang sudah tak ada. Telah berubah. Sepengetahuannya, > gedung redaksi Sin Po kini menjadi kantor Bank BCA cabang Asemka. > > Pada zaman dahulu, kata Sentosa, banyak toko maupun gedung di sana hanya > dua lantai. Termasuk kantor Sin Po. Semua sejajar. Bahkan masih ada bentuk > bangunan asli di sana. "Kalau Anda lihat sekarang di lokasi sana ada gedung > dengan dua lantai yang sudah terlihat mau ambruk, nah itu bentuk aslinya. > Sekarang bangunan itu kosong, tidak tahu siapa pemiliknya sekarang karena > hanya ditinggalkan begitu saja," ucap Sentosa. > > Lokasi Bank BCA cabang Asemka bekas kantor koran Sin Po itu berada di > sebelah jalan layang menuju Pasar Pagi. Atau berada di seberang sisi kanan > museum Bank Mandiri. Di sana menjulang tinggi gedung dengan dominasi warna > abu-abu dan Biru. > > Meski gedungnya telah berubah, edisi surat kabar milik keturunan Tionghoa > itu masih bisa dinikmati. Silakan berkunjung ke Perpustakaan Nasional > Republik Indonesia di Jalan Salemba Raya, sebelah kantor Kementerian > Sosial. Dibuka untuk umum. Hampir semua arsip dari koran itu masih > tersimpan. Rapih. Walau ada arsip rusak ulah tangan jahil. *[ang]* > > > >
