From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, November 3, 2017 11:56 AM
da

  







Peran koran Tionghoa buat Sumpah Pemuda
Senin, 30 Oktober 2017 06:00Reporter : Rendi Perdana
Koran Sin Po. ©2017 Merdeka.com/rendi


Merdeka.com - Alunan biola di tengah Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 
begitu merdu. Dimainkan seorang anak muda. Pria berkacamata dan memakai peci 
hitam. Membawakan karya ciptaannya. Berhasil membakar semangat para peserta. 
Mereka datang dari pelbagai daerah. Berkumpul di Jalan Kramat Raya 
No.106,Jakarta. Dalam sebuah gedung. Bersepakat menjadi satu bangsa. Sekaligus 
menjadi pendengar pertama lagu Indonesia Raya.

Pria berkacamata itu adalah Wage Rudolf Supratman. Akrab dikenal sebagai WR 
Supratman. Seorang anak muda dikenal bekerja sebagai pewarta dan musisi. Lagu 
ciptaannya di tengah Kongres Pemuda II itu begitu dikagumi. Sakral. Khususnya 
bagi masyarakat Indonesia. Mempunyai pesan penting. Mengajak Indonesia untuk 
menjadi negara merdeka.

Kongres Pemuda II itu menghasilkan deklarasi penting. Bernama Sumpah Pemuda. 
Berisi tiga poin. Mengajak para peserta tetap bertanah air, berbangsa dan 
berbahasa Indonesia. Dari kongres ini pula, Indonesia Raya karya WR Supratman 
menjadi lagu kebangsaan. Sampai sekarang.

Karya WR Supratman begitu penting. Harus disebarkan ke seluruh penjuru dan 
rakyat Indonesia. Surat kabar zaman pra kemerdekaan pun mengambil peran. Adalah 
Koran Sin Po. Media massa cetak milik keturunan Tionghoa di Indonesia. 
Sekaligus tempat WR Supratman bekerja sejak tahun 1925

Koran ini merupakan media pertama menyebarluaskan syair dan partitur lagu 
Indonesia Raya. Dalam edisi bahasa Melayu, WR Supratman menulis sendiri. Saat 
itu masih berjudul 'Indonesia'. Tepat tanggal 10 November 1928, edisi koran 
berisi lagu Indonesia Raya akhirnya terbit. Mencetak 5.000 eksemplar. Sekaligus 
sebagai hadiah buat WR Supratman.

Sin Po pertama kali terbit pada 1 Oktober 1910. Dalam perjalanannya, media 
cetak ini menjadi salah satu pelopor penggunaan kata 'Indonesia'. Mereka 
mengganti sebutan 'Nederlandsch-Indie', 'Hindia-Nederlansch', atau pun 'Hindia 
Olanda'. Semua berubah menjadi Indonesia. Termasuk menghapus kata 'inlander'. 
Sebab, dirasa sebagai penghinaan. Mereka dianggap memiliki pandangan politik 
pro nasionalis Tiongkok. Salah seorang wartawan terkemuka, Kwee Kek Beng, 
sempat menjabat pemimpin redaksi Sin Po sejak 1925 hingga 1947.

Gerakan pro nasionalis Tiongkok selama ini didukung Sin Po akhirnya sirna. 
Seiring kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di mana banyak tokoh 
Tionghoa terlibat. Mereka pula menyatakan etnis Tionghoa adalah bagian dari 
masyarakat Indonesia. Dan, koran ini lantas mengubah nama. Pada Oktober 1958, 
menjadi Pantjawarta. Kemudian berubah lagi dengan nama Warta Bhakti pada tahun 
1960an. Nasib Sin Po pun berakhir. Di mana masa Orde Baru muncul. Perusahaan 
media ini dianggap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Koran sudah 
bernama Warta Bhakti itu kemudian dilarang terbit sejak 1 Oktober 1965.



Koran Sin Po ©2017 Merdeka.com/rendi 
Jejak koran Sin Po pada era sekarang mulai hilang. Dalam peringatan 89 Tahun 
hari Sumpah Pemuda, lokasi kantor mereka sudah berubah. Kami mencoba 
menelusuri. Dari pelbagai sumber, kami mendapat informasi alamat kantor itu 
berada di kawasan Jalan Asemka, Jakarta Barat. Kawasan itu memang lebih dikenal 
menjadi pusat perbelanjaan grosir. Mulai dari mainan hingga cinderamata 
pernikahan. Terletak di sebelah barat dari Stasiun Beos atau sekarang dikenal 
Stasiun Jakartakota.

Kawasan ini ramai pedagang. Aktivitas jual beli di siang hari itu terlihat 
sangat sibuk. Banyak warga dan para pedagang hilir mudik. Bergantian. Lengkap 
membawa tentengan. Sesekali ada juga mereka memanggul karung barang dagangan di 
pundak. Biasanya para pembeli juga merupakan pedagang. Mereka membeli untuk 
dijual kembali. Harga ditawarkan jauh lebih murah. Banyak barang dagangan di 
situ merupakan Impor dari Tiongkok.

Penelusuran ke sejumlah lokasi di Jalan Asemka dimulai. Beberapa warga sekitar 
kami tanya tentang Koran Sin Po dan lokasi bekas kantornya. Umumnya mereka 
menjawab tidak tahu. Bahkan ada pula baru mendengar nama surat kabar tersebut. 
Lantas kami pun mencari beberapa sesepuh di sekitar Jalan Asemka. Guna mengorek 
tentang keberadaan koran Sin Po. 

Kami bertemu sempat bertemu pria tua bernama Atjionk di sebuah ruko. Dia 
Dianggap salah seorang sesepuh. Pria kelahiran tahun 1940 ini mengaku pernah 
mengetahui tentang Koran Sin Po. Itu merupakan bacaannya saat muda. Sekitar 
tahun 1950an. Isi berita pun pelbagai macam. Menurut dia, koran dengan bahasa 
Indonesia tempo dulu itu menghadirkan banyak rubrik. Mulai dari hukum, politik 
hingga berita internasional. Beberapa iklan merek ternama juga kerap mejeng di 
sana.

Ingatan Atjionk sudah mulai lemah. Hampir tak ingat berita apa saja telah 
dibaca. Namun, dia mengetahui bahwa koran itu akhirnya ditutup karena dilarang 
pemerintah. "Setahu saya itu kan ditutup pas tahun 1965 karena dianggap tidak 
sejalan dengan pemerintah," kata Atjionk ketika berbincang dengan merdeka.com, 
Selasa pekan lalu.

Sayang pria akrab disapa Koh Acong itu tidak mengetahui lokasi persis kantor 
redaksi Koran Sin Po. Meski begitu, dia membenarkan bahwa kawasan tempat dia 
berdagang ini pada zaman dahulu banyak muncul kantor media massa. Di samping 
sebagai tempat para warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Kami pun coba menelusuri ke Jalan Toko Tiga. Lokasinya tak jauh dari Jalan 
Asemka. Menurut orang sekitar, zaman dahulu memang banyak kantor media. Sebab 
di area ini banyak jasa percetakan. Bahkan hingga sekarang. Tentu saja 
bangunannya sudah berubah. Tidak ada sisa bangunan asli seperti dahulu. Kini 
kebanyakan berubah menjadi ruko, minimarket dan hotel.



Lokasi kantor redaksi Koran Sin Po ©2017 Merdeka.com/Rendi 
Di sana kami juga bertemu salah seorang sesepuh sekaligus pemiliki toko 
percetakan. Sentosa, begitu pria kelahiran tahun 1936 itu berkenalan kepada 
kami. Dia mengaku sebagai pelanggan setia Koran Sin Po pada zamannya. 
Menceritakan lebih jauh, Sentosa menyebut koran Sin Po sangat berjaya di 
zamannya. "Bisa dikatakan koran nomor satu di Jakarta," ungkap dia bercerita 
kepada kami.

Kertas dipakai itu juga memakai kualitas terbaik. Cetakannya juga masih hitam 
putih. Pria keturunan Tinghoa itu menyebut bahwa Koran Sin Po terbit setiap 
hari. Jumlah halamannya tidak banyak. Satu eksemplar koran terdiri dari lebih 
kurang 6 halaman. Memuat berita dan juga iklan.

Bukan hanya sebagai pelanggan setia. Dia juga masih mengetahui lokasi kantor 
redaksi Koran Sin Po. Dia menyebut masih berada di Jalan Asemka. Sisa gedungnya 
memang sudah tak ada. Telah berubah. Sepengetahuannya, gedung redaksi Sin Po 
kini menjadi kantor Bank BCA cabang Asemka.

Pada zaman dahulu, kata Sentosa, banyak toko maupun gedung di sana hanya dua 
lantai. Termasuk kantor Sin Po. Semua sejajar. Bahkan masih ada bentuk bangunan 
asli di sana. "Kalau Anda lihat sekarang di lokasi sana ada gedung dengan dua 
lantai yang sudah terlihat mau ambruk, nah itu bentuk aslinya. Sekarang 
bangunan itu kosong, tidak tahu siapa pemiliknya sekarang karena hanya 
ditinggalkan begitu saja," ucap Sentosa.

Lokasi Bank BCA cabang Asemka bekas kantor koran Sin Po itu berada di sebelah 
jalan layang menuju Pasar Pagi. Atau berada di seberang sisi kanan museum Bank 
Mandiri. Di sana menjulang tinggi gedung dengan dominasi warna abu-abu dan Biru.

Meski gedungnya telah berubah, edisi surat kabar milik keturunan Tionghoa itu 
masih bisa dinikmati. Silakan berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik 
Indonesia di Jalan Salemba Raya, sebelah kantor Kementerian Sosial. Dibuka 
untuk umum. Hampir semua arsip dari koran itu masih tersimpan. Rapih. Walau ada 
arsip rusak ulah tangan jahil. [ang]




Kirim email ke