Tim Cook: Sosial Media Diperalat Untuk Memecah Belah 
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171103145758-185-253257/tim-cook-sosial-media-diperalat-untuk-memecah-belah/
 Kustin Ayuwuragil , CNN Indonesia | Sabtu, 04/11/2017 04:11 WIB
 Bagikan :    
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171103145758-185-253257/tim-cook-sosial-media-diperalat-untuk-memecah-belah/#
  
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171103145758-185-253257/tim-cook-sosial-media-diperalat-untuk-memecah-belah/#
  
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171103145758-185-253257/tim-cook-sosial-media-diperalat-untuk-memecah-belah/#
 Tim Cook adalah orang nomor satu di perusahaan teknologi Apple sebagai 
pengganti Steve Jobs yang kini telah tiada. (dok. REUTERS/Carlo Allegri)
 Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Apple, Tim Cook, mengungkapkan pendapatnya 
mengenai kontroversi keterlibatan Rusia terhadap iklan hoaks dalam perhelatan 
Pemilihan Presiden AS 2016 silam. 

Menurut dia, masalah sebenarnya bukanlah pada iklan asing tersebut. Tapi ia 
menyoroti soal kerentanan media sosial. Media sosial rentan dijadikan sebagai 
alat untuk memanipulasi, memecah belah masyarakat dengan menyebarkan kebohongan.

"Saya tidak yakin masalah besarnya adalah iklan dari pemerintah luar negeri 
[...] Isu lebih besarnya adalah beberapa alat media sosial yang dipakai untuk 
memecah belah, memanipulasi masyarakat," ujarnya dalam wawancara khusus NBC 
News, seperti dilaporkan dari The Verge 
https://www.theverge.com/2017/11/1/16595596/apple-ceo-tim-cook-fake-news-russia-election-ad-interference,
 Jumat (3/11). 


 
 

 Lihat juga: 'Pengakuan Dosa' Bos Facebook Atas Konten Hoax dan Pemilu 
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170928150627-185-244628/pengakuan-dosa-bos-facebook-atas-konten-hoax-dan-pemilu/
 
Pasalnya, berita bohong yang tersebar itu mampu mempengaruhi pikiran masyarakat.

“Menyebarkan berita palsu kepada masyarakat dengan jumlah besar bisa mengubah 
cara mereka berpikir. Ini yang menurut saya menjadi masalah nomor 1 dari 10 isu 
(lainnya),” lanjutnya.

Sebelumnya, kemenangan pemilihan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, 
mendulang kontroversi. Ia dituduh menang berkat hoaks yang disebarkan Rusia di 
AS lewat Facebook. 


 Lihat juga: Facebook Serahkan Salinan Iklan Terkait Rusia 
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170916122350-106-242162/facebook-serahkan-salinan-iklan-terkait-rusia/
 Selama ini, dugaan itu hanya dikira sekadar isapan jempol. Namun, belakangan 
Facebookmembuat pengakuan pada Kongres. Facebook mengidentifikasi adanya 3.000 
iklan yang diiklankan 470 akun bodong.

Iklan ini sengaja membelah opini masyarakat dengan isu-isu seperti imigrasi, 
ras, dan hak gay. Iklan ini tayang antara Juni 2015 dan Mei 2017. Akun-akun 
tersebut diasosiasikan dengan perusahaan penyebar berita pro-Kremlin yang 
dikenal dengan nama Badan Penelitian Internet. 

Oleh karena itu, Facebook tengah berbenah diri agar iklan maupun kampanye 
politik serupa tak terjadi lagi. Apalagi otoritas hukum AS mengancam akan 
membuat regulasi khusus untuknya. (eks)

 

Kirim email ke