----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Mohammad Kasim 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Senin, 6 November 2017 
17.58.11 GMT+1Judul: Syafii: Sila kelima Pancasila kunci tangkal radikalisme
 TOP NEWS | TERKINI | RILIS PERS | RSSKetentuan PenggunaanTentang KamiTWITTER | 
FACEBOOK | REGISTER | SIGN INSenin, 6 November 2017   
   - HOME
   - NASIONALUMUMPOLKAMHUKUMPENDIDIKANKESEHATANNAKERUNIK
   - INTERNASIONAL
   - EKONOMI
   - OLAHRAGA
   - HIBURAN
   - TEKNOLOGI
   - WARTA BUMI
   - ARTIKEL
   - OTOMOTIF
   - FOTO
   - ANTARA TV
   - ENGLISH

Syafii: Sila kelima Pancasila kunci tangkal radikalisme
 Senin, 6 November 2017 20:25 WIB  | 1.038 ViewsPewarta: Luqman HakimSyafii 
Maarif (ANTARA FOTO/Ismar Patrizki)Yogyakarta (ANTARA News) - Tercapainya sila 
kelima Pancasila merupakan kunci keberhasilan menangkal berbagai ideologi 
impor, termasuk radikalisme, kata Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden 
Pembinaan Ideologi Pancasila, Buya Syafii Maarif. 

"Ideologi impor dengan teologi maut-nya sesungguhnya tidak mempan hidup di 
Indonesia asal sila kelima (Pancasila) betul-betul diwujudkan," kata Syafii 
dalam Seminar "Pancasila dan Kebhinekeaan" di Balai Senat Universitas Gadjah 
Mada (UGM) di Yogyakarta, Senin.

Menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu, era Pemerintahan Presiden Joko 
Widodo harus mampu mengoptimalkan implementasi seluruh sila dalam Pancasila. 

"Pancasila jangan hanya retorika," kata dia.

Sila pertama, menurut dia, baru memiliki makna apabila sila kelima yang 
berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" itu menjadi kenyataan. 

Jika sila kelima dapat diwujudkan, menurut Syafii, ketimpangan sosial dan 
ekonomi bisa dihilangkan. 

Dengan demikian, kehadiran ideologi-ideologi impor yang mengancam Pancasila dan 
kebhinekaan tidak akan bertahan lama di Indonesia.

"Jangan lagi Pancasila sila kelima tergantung di awan tinggi, sedangkan rakyat 
di bumi terkapar. Itu tidak boleh," kata dia.

Menurut Syafii, ketimpangan itu masih ada di Indonesia yang ditunjukkan dengan 
masih tingginya jumlah desa tertinggal. 

Sesuai data dari Kementerian Desa saat ini, sekitar 60 persen dari 74.910 desa 
masuk katagori tertinggal dan sangat tertinggal.

"Belum lagi penguasaan tanah di Indonesia yang 80 persen dikuasai oleh 
konglomerat domestik dan 13 persen konglomerat luar," kata dia. 

(T.L007/M029)
Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017
7Berita Lainnya
MPR: Cegah upaya memecah elemen bangsa

Indonesia sudah bersepakat bersatu dalam Pancasila

Pancasila harus mampu jawab ketimpangan pembangunan

Legislator: implementasikan Pancasila dalam kehidupan kampus

Syafii Maarif: tak semua Arabisme positif

Mendag dan ribuan mahasiswa NTT deklarasi kebangsaan lawan radikalisme

Zulkifli: tidak mendukung UU Ormas bukan anti-Pancasila

Pancasila tidak mengkotak-kotakkan
Komentar Pembaca500 Karakter TersisaTopik Pilihan# 
Pernikahan Kahiyang Ayu
# 
Gudang Petasan Meledak
# 
Perppu Ormas jadi UU
# 
Gubernur Baru DKI Jakarta
# 
Krisis Rohingya
# 
Sindikat Saracen Penyebar isu SARA
# 
Kasus Novel Baswedan
# 
Kasus Korupsi e-KTP
Saudi Berantas KorupsiPenangkapan pangeran dan pengusaha Saudi kian gencarSaudi 
blokir rekening para pangeran yang ditangkapPM Lebanon, ledakan Bandara Riyadh, 
dan penangkapan pangeran SaudiDi balik penangkapan para pangeran SaudiPengusaha 
dan mantan menteri Saudi ditahan dalam penyelidikan korupsiTerpopuler   
   - Kapolda Papua akui aksi KKB makin brutal 3.250 views
   - Ketum Ansor ajak Nahdliyin dukung Cak Imin cawapres 2.978 views
   - Tim 17 kerucutkan dua nama pasangan Khofifah 2.874 views
   - Deddy Mizwar terima dukungan PAN-Demokrat-PKS 2.789 views
   - Ribuan masyarakat Siak sambut AHY 2.552 views
Top NewsSyafii: Sila kelima Pancasila kunci tangkal radikalismeRefly: UU Ormas 
berisi tiga hal penting500 tuan guru NTB dukung Jokowi 2019Mendagri: 
radikalisme perlu dideteksi mulai dari RT/RWTingkat kerawanan pemilu 2019 
tinggiwww.antaranews.com
Copyright © 2017Top NewsFokus 
BeritaNasionalInternasionalEkonomiOlahragaHiburanTeknologiWarta 
BumiArtikelFotoTVOtomotifBolaForum PembacaRilis PersGoogle+Ketentuan 
PenggunaanTentang KamiJaringanPedomanTwitterFacebookRSS   
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   - 


-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
  

Kirim email ke