Kemenangan Anies-Sandi tak bisa dilepaskan begitu saja dari sejumlah manuver 
kelompok ini. Misalnya ketika mereka menggelar "Tamasya Al-Maidah" -- 
mendatangi TPS pada hari pencoblosan dalam rangka "pengamanan" suara dan 
langkah taktis lain seperti turut serta dalam proses kampanye serta 
demonstrasi. Sementara mesin partai yang mengusung Anies-Sandi ketika itu, PKS 
dan Gerindra, menurut Eggi tidak membantu banyak. 
...
Eggi Sudjana: Anies-Sandi Tak Mungkin Menang Tanpa Alumni 212
Bakal Cagub Jatim, Eggi Sudjana (kiri) didampingi Bakal Cawagub Jatim, Edi 
Prasetio. ANTARA/Eric Ireng20.9k Shares      
   
   -    
Eggi Sudjana
tiMeter: -33
   -    
Anies Rasyid Baswedan
tiMeter: +33
Reporter: Felix Nathaniel05 November, 2017dibaca normal 2 menit   
   - Eggi Sudjana kecewa Anies Baswedan tidak datang dalam peringatan satu 
tahun aksi 411.
Eggi Sudjana mengatakan bahwa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tidak mungkin 
menang dalam Pilkada DKI Jakarta tanpa bantuan mereka.
tirto.id - Eggi Sudjana, penasihat Alumni Presidium 212 mengatakan bahwa Anies 
Baswedan dan Sandiaga Uno tidak mungkin menang dalam Pilkada DKI Jakarta tanpa 
bantuan demonstran. Presidium 212 ialah sebutan bagi pimpinan kelompok yang 
menggelar demonstrasi menuntut polisi mempercepat proses hukum Basuki "Ahok" 
Tjahaja Purnama atas dugaan penistaan agama pada 2 Desember 2016 --  

Kemenangan Anies-Sandi tak bisa dilepaskan begitu saja dari sejumlah manuver 
kelompok ini. Misalnya ketika mereka menggelar "Tamasya Al-Maidah" -- 
mendatangi TPS pada hari pencoblosan dalam rangka "pengamanan" suara dan 
langkah taktis lain seperti turut serta dalam proses kampanye serta 
demonstrasi. Sementara mesin partai yang mengusung Anies-Sandi ketika itu, PKS 
dan Gerindra, menurut Eggi tidak membantu banyak. 

"Yang bantu dia cuma umat, partai-partai nggak bisa," kata Eggi. 

Setelah Anies-Sandi menang, maka yang perlu dilakukan adalah terus mengingat 
jasa-jasa dan berhubungan baik dengan kelompok pendukungnya ini. "Jangan 
seperti kacang lupa kulitnya... Jangan belagu pokoknya," kata Eggi. 

Baca juga: Demo 4 November Lumpuhkan Sentra Elektronik Glodok

Konteks pernyataan ini adalah kekecewaan. Ungkapan ini dilontarkan Eggi ketika 
Anies Baswedan tidak menghadiri peringatan satu tahun "Aksi 411" di Masjid 
Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11) subuh kemarin, meski telah diundang 
secara resmi. 

"Tidak ada kabar, gak bilang bisa apa nggak. Itu yang kami kecewa," kata Eggi.

Aksi 411 tidak berdiri sendiri dalam menuntut polisi mempercepat penahanan 
Ahok. Terjadi juga beberapa demonstrasi lain seperti Aksi Bela Islam Jilid I 
pada 14 Oktober 2016 dan Aksi 212 -- yang kemudian melahirkan istilah Alumni 
212 sebagai penanda bagi mereka yang pernah ikut berdemonstrasi. 

Meski terkesan pamrih, namun Eggi meyakinkan publik bahwa Presidium 212 
mendukung Anies-Sandi dengan ikhlas, tanpa iming-iming apapun. "Tidak ada 
kontrak," kata Eggi, yang secara tidak langsung merujuk ke kelompok buruh 
pendukung Anies-Sandi karena pasangan ini bersedia menandatangani kontrak 
politik. 

"Kami dukung dia ikhlas. Kami melihat umat islam melawan non-muslim," jelas 
Eggi. 

Baca juga: Di Balik Susutnya Massa Aksi Bela Islam

Menurut Eggi, selain indikasi bahwa mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 
ini mulai lupa jasa-jasa pendukungnya, juga jadi bukti bahwa dirinya tidak 
dihormati sebagai salah satu "kanda" di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). "Anies 
itu junior saya di HMI," kata Eggi menegaskan.

Kekecewaan ini, menurut Eggi, harus diperhatikan betul. Sebab meski mengaku 
bahwa untuk saat ini Presidium 212 tetap mendukung Anies-Sandi sebagai Gubernur 
dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, namun bukan tidak mungkin dukungan ini akan 
dicabut. 

"Cuma mengingatkan saja. Tapi kalau dia mengulanginya lagi, barangkali bisa 
berubah (dukungan) kita. Makanya kami kasih peringatan," kata Eggi. Eggi juga 
mengatakan bahwa sebaiknya ke depan tidak ada lagi kesulitan bagi Presidium 212 
untuk berhubungan dengan Anies-Sandi. 

Dihubungi terpisah, juru bicara Anies Baswedan, Naufal Firman Yursak, enggan 
menjawab soal ancaman pencabutan dukungan ini. Naufal juga enggan menanggapi 
relasi Anies-Sandi dengan Presidium 212. Ia hanya mengatakan bahwa Anies tidak 
datang karena memang tidak tahu. 

"Tidak dapat pemberitahuan. [Undangan yang masuk] bukan 411," kata Naufal, 
sambil melampirkan undangan lain di jam dan hari yang sama dengan peringatan 
satu tahun aksi 411.

Baca juga: Manuver Politik di Balik Aksi Demo 4 November

Di luar konteks pengundangan dan ketidakhadiran Anies, pernyataan Eggi ini 
kontradiktif dengan semua alasan yang sempat dilontarkan pimpinan-pimpinan 
demonstran yang sibuk berkilah bahwa aksi hingga berjilid-jilid itu sama sekali 
tidak berkaitan dengan Pilkada DKI. 

Munarman, juru bicara GNPF MUI yang juga juru bicara Front Pembela Islam (FPI) 
misalnya, mengatakan kepada Tirto pada awal September tahun lalu bahwa "aksi 
ini [411] tidak ada kaitannya dengan Pilkada (DKI Jakarta)." Sementara Aa Gym, 
ulama yang ikut berdemo, dalam sebuah forum kajian, menyatakan bahwa aksi yang 
dilakukannya benar-benar digerakkan oleh hati nurani. Pemilik pesantren Daarut 
Tauhiid ini membantah ada pendanaan dari pihak-pihak tertentu.

Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan SBY merupakan "tokoh besar" di balik tiga 
pasangan kontestan peserta Pilkada DKI Jakarta. Jokowi di belakang pasangan 
Ahok-Djarot Syaiful Hidayat yang didukung PDI Perjuangan, Prabowo di belakang 
Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang didukung Gerindra, serta pasangan Agus 
Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang didukung SBY. 

Baca juga artikel terkait AKSI BELA ISLAM atau tulisan menarik lainnya Rio 
Apinino 
(tirto.id - rio/zen)

Kirim email ke