----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: Tatiana 
Lukman <[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; Chan CT <[email protected]>Terkirim: Jumat, 10 
November 2017 03.12.58 GMT+1Judul: Re: [GELORA45] Terungkap! Ini Dia Kesaksian 
'Pasukan Elit' Soekarno Dibalik Kejadian G30S/PKI
     

 Blame the victim?

    On Thursday, November 9, 2017, 5:36:03 PM PST, Chan CT 
<[email protected]> wrote:  
 
 Haaaiiiyaaa, ini nenek dalam tempurung sudah lupa atau memang SUDAH PIKUUUN! 
Bahwa PKI sebagai Partai REVOLUSIONER HARUS BERANI BERTANGGUNGJAWAB atas setiap 
gerak REAKSIONER yang terjadi dalam masyarakat! Harus bisa BERLAWAN, ... 
mengambil langkah2 bijaksana dan TEPAAAAAT agar TIDAK jatuh KORBAN yang TIDAK 
DIPERLUKAN, ...! Lalu, apa yang terjadi dengan PKI di tahun 1965 itu? Aidit 
sebagai ketua menyingkir di Jateng, bukan untuk memimpin meneruskan perjuangan, 
tapi sekadar BERSEMBUNYI! Tidak memberi komando apa yang harus dilakukan dan 
diperjuangkan, tapi hanya “MENUNGGU PERINTAH Pangti Presiden Soekarno!” yang 
berarti membiarkan gerak REAKSIONER menjadi-jadi dan membiarkan segenap 3 JUTA 
anggota PKI menyerahkan kepala untuk digorok, ... Lalu, dimana TANGGUNGJAWAB 
PKI atas kesalahan fatal ini??? Sudisman sebagai pemimpin tertinggi yang masih 
bisa bicara ketika itu, sudah BENAR mengambil oper tanggungjawab PKI, mengakui 
KESALAHAN2 yang terjadi dan berakibat jatuhnya banyak KORBAN, ...! Atau anda 
merasa PKI cukup bersembunyi saja dibalik KESALAHAN Presiden Soekarno yang 
tidak juga menurunkan perintah yg ditunggu-tunggu itu??? Hehehee, ... Katanya 
pengikut setia Mao, ... bagaimana anda melihat masalah? Mengapa TIDAK BELAJAR 
BAIK bagaimana Ketua Mao melancarkan PERLAWANAN gigih untuk menghindari jatuh 
korban lebih besar saat menghadapi penghianatan KMT, Chiang Kai Sek tahun 1927, 
sekalipun HARUS BERTENTANGAN dengan garis Komintern bahkan Mao berani tidak 
pedulikan dimaki Stalin “Bandit Komunis, ...!” Jadi tidak seperti PKI yang 
berhasil dibasmi tuntas, ... dan sampai sekrang gak bisa bangun tegak lagi! 
Sebaliknya PKT dengan demikian berhasil memimpin rakyat Tiongkok setapak demi 
setapak mencapai kemenangan, ... Salam,ChanCT  From: Tatiana Lukman 
[email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, November 8, 2017 4:12 PMTo: 
[email protected] ; [email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD ; 
Yahoogroups ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry Singgih ; Gol ; Farida 
Ishaja ; [email protected] ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Oman 
Romana ; Billy Gunadi Subject: Re: [GELORA45] Terungkap! Ini Dia Kesaksian 
'Pasukan Elit' Soekarno Dibalik Kejadian G30S/PKI   

Bisa dipercaya kesaksian ini? Bukan hoax? kalau memang bisa dipercaya, kok dia 
nggak cerita keterlibatan PKI, ya? Atau barangkali karena dia hanya bawahan, 
jadi nggak tahu konspirasi tingkat atas dengan PKI? Karena kalau orang 
mengikuti logika dan pendapat Letjen Agus , yang bunuh para jenderal itu adalah 
PKI!!! Dalam soal itu sama sekali tidak berubah pendapat sang jenderal. Seperti 
juga jenderal-jenderal anti komunis lainnya. Maka itu Chan menuntut supaya PKI 
sama-sama bertanggung jawab atas semua yang terjadi tahun 1965-66!!!! 

On Wednesday, November 8, 2017 2:58 AM, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:


  


Terungkap! Ini Dia Kesaksian 'Pasukan Elit' Soekarno Dibalik Kejadian G30S/PKI

Selasa, 31 Oktober 2017 12:02 WIB


Ishak, bekas anggota pasukan Cakrabirawa.

TRIBUNNEWS.COM - Dalam film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI, peristiwa 
penculikan terhadap enam jenderal pada 1 Oktober 1965 oleh pasukan Cakrabirawa, 
membuat gambaran bahwa pasukan elit itu sangat kejam. Apalagi satu bocah berusa 
lima tahun Ade Irma Nasution, turut jadi korban.

Tapi dua bekas anggota pasukan Cakrabirawa; Sulemi dan Ishak, mengatakan yang 
sebaliknya. Seperti apa ceritanya? Berikut kisah lengkapnya seperti dilansir 
dari Program Saga produksi Kantor Berita Radio (KBR).Ishak, bekas anggota 
pasukan Cakrabirawa –pasukan elit pengawal Presiden Sukarno mengisahkan ulang 
apa yang ia lihat dan ketahui ketika mengantar Komandan Batalyon Cakrabirawa, 
Letnan Kolonel Untung ke Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965.
Lelaki kelahiran 1936 ini mengaku sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada 
dini hari sebelumnya.“Saya berkali-kali mengatakan. Saya tidak tahu masalah 
itu. Setahu saya, hanya diperintah Pak Untung supaya ikut, itu saja. Tahu-tahu 
dibawa ke Lubang Buaya. Di sana adanya ya militer. Angkatan Udara, Angkatan 
Darat, Brigif, tahu-tahu ada perintah, menjemput jenderal-jenderal. Setelah 
datang, saya kira hidup-hidup. Ternyata ada yang mati. Pak Yani mati, Haryono 
mati, Pandjatian mati,” dia mengungkapkan.30 September 1965, Ishak – yang 
merupakan bekas ajudan Untung, mengawal Presiden Sukarno menghadiri Musyawarah 
Nasional Teknik (Munastek) di Istora Senayan.Esoknya, dia bertugas mengawal 
Sukarno ke Bogor, Jawa Barat. Tapi, siang hari, Ishak diperintahkan atasannya 
Letkol Untung mengantarnya ke Lubang Buaya.“Saya mau mengawal ke Bogor, kan 
habis Jumat, Musyawarah besar teknisi. Saya kan sebagai komandan regu, saya 
dicegat oleh Pak Untung. Ayo ikut saya. Tanggal 30 itu. Jadi saya mau mengawal 
Sukarno ke Pertemuan Nasional Teknik. Tapi di jalan, ‘Hei, siapa itu 
pengawalnya, komandannya? Ishak, ‘Ganti dengan Kahono. Ini ikut saya,” Ishak 
mengisahkan.Malam di 1 Oktober 1965, Ishak berangkat bersama Untung ke Lubang 
Buaya. Begitu sampai, ia menunggu di lokasi parkir.Menurut Ishak, suasana malam 
itu berubah suram kala tiga jenderal yang hendak dijemput menghadap Presiden 
Sukarno, sudah tak bernyawa. Seketika, firasat Ishak menjadi tak enak. Belum 
lagi, ia sempat mendengar rentetan tembakan dari dalam Lubang Buaya.Para 
jenderal itu oleh Komandan Batalyon Cakrabirawa, Letnan Kolonel Untung dan 
Letnan Satu Dul Arif, disebut-sebut bakal menggulingkan Sukarno pada 5 Oktober 
1965.Dasar itulah yang kemudian membuat Untung, memutuskan menggagalkan rencana 
itu dan menyeret para Dewan Jenderal ke hadapan Presiden Sukarno. Aksi ini pun 
turut didukung Panglima Kostrad, Soeharto.Dini hari di 1 Oktober 1965, kurang 
dari 150 prajurit Cakrabirawa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka 
diperintah menjemput para jenderal dalam keadaan hidup atau mati.Di tengah 
situasi yang kalut itu, Ishak diperintah menembak seorang polisi bernama 
Sukitman. Tapi ia menolak. Sebab Sukitman, hanya polisi yang secara kebetulan 
berpatroli di sekitar rumah Jenderal D.I. Pandjaitan pada dini hari itu.Maka, 
ia pun menyuruh Sukitman bersembunyi di jipnya yang terparkir di area Lubang 
Buaya. Sukitman menurut. Ia meringkuk di jip hingga pagi datang. Sukitman 
lantas ikut terbawa ke Istana Negara. Sampai di sana, Sukitman buru-buru 
meninggalkan Istana.Sementara Ishak, beberapa jam setelah dari Istana Negara, 
ditangkap dan dijebloskan ke penjara bersama anggota Cakrabirawa lainnya karena 
dituduh pendukung PKI. Belakangan pada 28 Maret 1966, pasukan elit ini 
dibubarkan.Ishak lalu dibui di Rutan Cipinang. Sepekan di Cipinang, Ishak 
kemudian dipindah ke Salemba. Detik itu juga, hidupnya seakan roboh. Ia pun 
menyanggah tudingan tersebut. Sebab sebelum menjadi tentara, Ishak seorang 
santri dan aktif di Muhammadiyah juga Masyumi.Di penjara, Ishak diperlakukan 
tak manusiawi. Makanan yang diberikan terdiri dari jagung pipilan yang direbus. 
Kadang, jagung itu disebar di halaman penjara dan para tahanan memunguti satu 
persatu.Agak beruntung, karena Ishak tak disiksa habis-habisan seperti tahanan 
lain lantaran dianggap kooperatif saat ditangkap.“Ya saya mengajar agama 
langsung. Di Salemba juga saya mengajar agama. Jadi tidak ada yang mengira. Ini 
pasti korban fitnah. Orang salut dengan saya. Baik dengan saya. Karena saya 
kaum santri. Sampai sekarang pun saya masih kadang mengajar mengaji. Ya tahun 
1978, keluar. Jadi di luar, lain dengan orang-orang lainnya mungkin ya 
(Cakrabirawa lain). Jadi waktu keluar, saya pun disambut alumni. ‘Aduh, ini Pak 
Is,” tutur Ishak.Hingga di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), Ishak 
dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.Selama di bui, tahanan hanya mendapat 
setengah gelas jagung rebus per hari sebagai makanan. Perlakuan semacam ini, 
berlangsung kurang lebih tiga tahun pada 1965-1968. Akibatnya, bobot tubuh 
Ishak melorot drastis. Dari sebelumnya 75 kilogram menjadi 40. Persis tulang 
berbalut kulit.“Saya menyadari, bahwa siksaan-siksaan itu pasti menimpa kepada 
kita, orang yang kalah. Saya dikasih makan itu jagung. Disebari. Kemudian kita 
punguti. Kalau mau minum itu ya, air selokan, di situ. Disedot dengan batang 
daun pepaya. Maka, saat itu, zaman antara tahun 1965-1966, mungkin tiap hari 
ada orang yang mati, 15 orang, 15 orang, itu kan orang sipil banyak yang mati, 
tiap hari ada yang mati, kadang 10 orang. Beri-beri, kutu rambut, tinggi, itu 
sudah merambat semua. Bobot tubuh saya yang tadinya 75 itu tinggal 40 kilogram 
kok,” tuturnya.Ketika masih di penjara Salemba, Ishak bertemu kembali dengan 
Sukitman. Sukitman pun masih ingat pada Ishak. Tapi Sukitman tak bisa berbuat 
apapun.Sialnya, sang istri yang sedang hamil muda dan tinggal di Purbalingga, 
menggugat cerai. Dia memaklumi keputusan istrinya yang ketakutan jika memiliki 
pertalian dengan anggota Cakrabirawa. Sebab pasukan elit itu sudah terkenal 
beringas dan kejam. Apalagi ada embel-embel terlibat PKI.Hingga pada 1978, 
setelah dipenjara selama 13 tahun, Ishak bebas dan pulang ke Kalimanah, 
Purbalingga. Lebih cepat tujuh tahun lantaran adanya tekanan Lembaga HAM 
PBB.“1965 saya pindah ke sana (penjara Salemba). Istri saya, digeledah semua 
rumah saya. Kemudian pulang (ke Purbalingga). Istri saya, hamil muda, baru satu 
bulan. Waktu itu baru menikah. Sewaktu saya pulang, anak saya berumur 13 tahun. 
Anak saya, cintanya ya cinta ke bapaknya. Kalau sama saya malah takut. Pokoknya 
hidupnya terlunta-lunta,” Ishak menuturkan.Di kampungnya, Ishak mendapat sangu 
dari seorang kawan di militer sebesar Rp50 ribu. Uang itu dipakai untuk membeli 
peralatan pertanian dan pertukangan. Ishak, lantas menjadi buruh lepas selama 
dua tahun.Beruntungnya, karena Ishak dikenal dari kalangan terpelajar, ia 
mengajar mengaji dan membuka bisnis jual-beli sepeda motor.Bertahun, Ishak 
hidup menyendiri. Suatu hari seorang kawan dari Dinas Pekerjaan Umum 
Purbalingga mengenalkan pada adik iparnya, Sri Sumarni. Jadilah keduanya 
kawin.Kini, Ishak menghabiskan hari-hari dengan membaca dan berolahraga. 
Sesekali, ia menjual kendaraan; sepeda motor atau mobil.Ishak dan Sulemi, 
adalah dua anggota pasukan Cakrabirawa yang tersisa di Purbalingga. Tapi stigma 
pada mereka tak juga luntur selama pemerintah tak membuka secara terbuka 
peristiwa kelam itu.


      

Kirim email ke