Ocehan orang remo, anti PKI dan antek imperialis!!!!
On Friday, November 10, 2017 2:36 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:
Haaaiiiyaaa, ini nenek dalam tempurung sudah lupa atau memang SUDAH PIKUUUN!
Bahwa PKI sebagai Partai REVOLUSIONER HARUS BERANI BERTANGGUNGJAWAB atas setiap
gerak REAKSIONER yang terjadi dalam masyarakat! Harus bisa BERLAWAN, ...
mengambil langkah2 bijaksana dan TEPAAAAAT agar TIDAK jatuh KORBAN yang TIDAK
DIPERLUKAN, ...! Lalu, apa yang terjadi dengan PKI di tahun 1965 itu? Aidit
sebagai ketua menyingkir di Jateng, bukan untuk memimpin meneruskan perjuangan,
tapi sekadar BERSEMBUNYI! Tidak memberi komando apa yang harus dilakukan dan
diperjuangkan, tapi hanya “MENUNGGU PERINTAH Pangti Presiden Soekarno!” yang
berarti membiarkan gerak REAKSIONER menjadi-jadi dan membiarkan segenap 3 JUTA
anggota PKI menyerahkan kepala untuk digorok, ... Lalu, dimana TANGGUNGJAWAB
PKI atas kesalahan fatal ini??? Sudisman sebagai pemimpin tertinggi yang masih
bisa bicara ketika itu, sudah BENAR mengambil oper tanggungjawab PKI, mengakui
KESALAHAN2 yang terjadi dan berakibat jatuhnya banyak KORBAN, ...! Atau anda
merasa PKI cukup bersembunyi saja dibalik KESALAHAN Presiden Soekarno yang
tidak juga menurunkan perintah yg ditunggu-tunggu itu??? Hehehee, ... Katanya
pengikut setia Mao, ... bagaimana anda melihat masalah? Mengapa TIDAK BELAJAR
BAIK bagaimana Ketua Mao melancarkan PERLAWANAN gigih untuk menghindari jatuh
korban lebih besar saat menghadapi penghianatan KMT, Chiang Kai Sek tahun 1927,
sekalipun HARUS BERTENTANGAN dengan garis Komintern bahkan Mao berani tidak
pedulikan dimaki Stalin “Bandit Komunis, ...!” Jadi tidak seperti PKI yang
berhasil dibasmi tuntas, ... dan sampai sekrang gak bisa bangun tegak lagi!
Sebaliknya PKT dengan demikian berhasil memimpin rakyat Tiongkok setapak demi
setapak mencapai kemenangan, ... Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman
[email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, November 8, 2017 4:12 PMTo:
[email protected] ; [email protected] Cc: DISKUSI FORUM HLD ;
Yahoogroups ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry Singgih ; Gol ; Farida
Ishaja ; [email protected] ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Oman
Romana ; Billy Gunadi Subject: Re: [GELORA45] Terungkap! Ini Dia Kesaksian
'Pasukan Elit' Soekarno Dibalik Kejadian G30S/PKI Bisa dipercaya kesaksian
ini? Bukan hoax? kalau memang bisa dipercaya, kok dia nggak cerita keterlibatan
PKI, ya? Atau barangkali karena dia hanya bawahan, jadi nggak tahu konspirasi
tingkat atas dengan PKI? Karena kalau orang mengikuti logika dan pendapat
Letjen Agus , yang bunuh para jenderal itu adalah PKI!!! Dalam soal itu sama
sekali tidak berubah pendapat sang jenderal. Seperti juga jenderal-jenderal
anti komunis lainnya. Maka itu Chan menuntut supaya PKI sama-sama bertanggung
jawab atas semua yang terjadi tahun 1965-66!!!!
On Wednesday, November 8, 2017 2:58 AM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Terungkap! Ini Dia Kesaksian 'Pasukan Elit' Soekarno Dibalik Kejadian G30S/PKI
Selasa, 31 Oktober 2017 12:02 WIB
Ishak, bekas anggota pasukan Cakrabirawa.
TRIBUNNEWS.COM - Dalam film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI, peristiwa
penculikan terhadap enam jenderal pada 1 Oktober 1965 oleh pasukan Cakrabirawa,
membuat gambaran bahwa pasukan elit itu sangat kejam. Apalagi satu bocah berusa
lima tahun Ade Irma Nasution, turut jadi korban.
Tapi dua bekas anggota pasukan Cakrabirawa; Sulemi dan Ishak, mengatakan yang
sebaliknya. Seperti apa ceritanya? Berikut kisah lengkapnya seperti dilansir
dari Program Saga produksi Kantor Berita Radio (KBR).Ishak, bekas anggota
pasukan Cakrabirawa –pasukan elit pengawal Presiden Sukarno mengisahkan ulang
apa yang ia lihat dan ketahui ketika mengantar Komandan Batalyon Cakrabirawa,
Letnan Kolonel Untung ke Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965.
Lelaki kelahiran 1936 ini mengaku sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada
dini hari sebelumnya.“Saya berkali-kali mengatakan. Saya tidak tahu masalah
itu. Setahu saya, hanya diperintah Pak Untung supaya ikut, itu saja. Tahu-tahu
dibawa ke Lubang Buaya. Di sana adanya ya militer. Angkatan Udara, Angkatan
Darat, Brigif, tahu-tahu ada perintah, menjemput jenderal-jenderal. Setelah
datang, saya kira hidup-hidup. Ternyata ada yang mati. Pak Yani mati, Haryono
mati, Pandjatian mati,” dia mengungkapkan.30 September 1965, Ishak – yang
merupakan bekas ajudan Untung, mengawal Presiden Sukarno menghadiri Musyawarah
Nasional Teknik (Munastek) di Istora Senayan.Esoknya, dia bertugas mengawal
Sukarno ke Bogor, Jawa Barat. Tapi, siang hari, Ishak diperintahkan atasannya
Letkol Untung mengantarnya ke Lubang Buaya.“Saya mau mengawal ke Bogor, kan
habis Jumat, Musyawarah besar teknisi. Saya kan sebagai komandan regu, saya
dicegat oleh Pak Untung. Ayo ikut saya. Tanggal 30 itu. Jadi saya mau mengawal
Sukarno ke Pertemuan Nasional Teknik. Tapi di jalan, ‘Hei, siapa itu
pengawalnya, komandannya? Ishak, ‘Ganti dengan Kahono. Ini ikut saya,” Ishak
mengisahkan.Malam di 1 Oktober 1965, Ishak berangkat bersama Untung ke Lubang
Buaya. Begitu sampai, ia menunggu di lokasi parkir.Menurut Ishak, suasana malam
itu berubah suram kala tiga jenderal yang hendak dijemput menghadap Presiden
Sukarno, sudah tak bernyawa. Seketika, firasat Ishak menjadi tak enak. Belum
lagi, ia sempat mendengar rentetan tembakan dari dalam Lubang Buaya.Para
jenderal itu oleh Komandan Batalyon Cakrabirawa, Letnan Kolonel Untung dan
Letnan Satu Dul Arif, disebut-sebut bakal menggulingkan Sukarno pada 5 Oktober
1965.Dasar itulah yang kemudian membuat Untung, memutuskan menggagalkan rencana
itu dan menyeret para Dewan Jenderal ke hadapan Presiden Sukarno. Aksi ini pun
turut didukung Panglima Kostrad, Soeharto.Dini hari di 1 Oktober 1965, kurang
dari 150 prajurit Cakrabirawa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka
diperintah menjemput para jenderal dalam keadaan hidup atau mati.Di tengah
situasi yang kalut itu, Ishak diperintah menembak seorang polisi bernama
Sukitman. Tapi ia menolak. Sebab Sukitman, hanya polisi yang secara kebetulan
berpatroli di sekitar rumah Jenderal D.I. Pandjaitan pada dini hari itu.Maka,
ia pun menyuruh Sukitman bersembunyi di jipnya yang terparkir di area Lubang
Buaya. Sukitman menurut. Ia meringkuk di jip hingga pagi datang. Sukitman
lantas ikut terbawa ke Istana Negara. Sampai di sana, Sukitman buru-buru
meninggalkan Istana.Sementara Ishak, beberapa jam setelah dari Istana Negara,
ditangkap dan dijebloskan ke penjara bersama anggota Cakrabirawa lainnya karena
dituduh pendukung PKI. Belakangan pada 28 Maret 1966, pasukan elit ini
dibubarkan.Ishak lalu dibui di Rutan Cipinang. Sepekan di Cipinang, Ishak
kemudian dipindah ke Salemba. Detik itu juga, hidupnya seakan roboh. Ia pun
menyanggah tudingan tersebut. Sebab sebelum menjadi tentara, Ishak seorang
santri dan aktif di Muhammadiyah juga Masyumi.Di penjara, Ishak diperlakukan
tak manusiawi. Makanan yang diberikan terdiri dari jagung pipilan yang direbus.
Kadang, jagung itu disebar di halaman penjara dan para tahanan memunguti satu
persatu.Agak beruntung, karena Ishak tak disiksa habis-habisan seperti tahanan
lain lantaran dianggap kooperatif saat ditangkap.“Ya saya mengajar agama
langsung. Di Salemba juga saya mengajar agama. Jadi tidak ada yang mengira. Ini
pasti korban fitnah. Orang salut dengan saya. Baik dengan saya. Karena saya
kaum santri. Sampai sekarang pun saya masih kadang mengajar mengaji. Ya tahun
1978, keluar. Jadi di luar, lain dengan orang-orang lainnya mungkin ya
(Cakrabirawa lain). Jadi waktu keluar, saya pun disambut alumni. ‘Aduh, ini Pak
Is,” tutur Ishak.Hingga di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), Ishak
dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.Selama di bui, tahanan hanya mendapat
setengah gelas jagung rebus per hari sebagai makanan. Perlakuan semacam ini,
berlangsung kurang lebih tiga tahun pada 1965-1968. Akibatnya, bobot tubuh
Ishak melorot drastis. Dari sebelumnya 75 kilogram menjadi 40. Persis tulang
berbalut kulit.“Saya menyadari, bahwa siksaan-siksaan itu pasti menimpa kepada
kita, orang yang kalah. Saya dikasih makan itu jagung. Disebari. Kemudian kita
punguti. Kalau mau minum itu ya, air selokan, di situ. Disedot dengan batang
daun pepaya. Maka, saat itu, zaman antara tahun 1965-1966, mungkin tiap hari
ada orang yang mati, 15 orang, 15 orang, itu kan orang sipil banyak yang mati,
tiap hari ada yang mati, kadang 10 orang. Beri-beri, kutu rambut, tinggi, itu
sudah merambat semua. Bobot tubuh saya yang tadinya 75 itu tinggal 40 kilogram
kok,” tuturnya.Ketika masih di penjara Salemba, Ishak bertemu kembali dengan
Sukitman. Sukitman pun masih ingat pada Ishak. Tapi Sukitman tak bisa berbuat
apapun.Sialnya, sang istri yang sedang hamil muda dan tinggal di Purbalingga,
menggugat cerai. Dia memaklumi keputusan istrinya yang ketakutan jika memiliki
pertalian dengan anggota Cakrabirawa. Sebab pasukan elit itu sudah terkenal
beringas dan kejam. Apalagi ada embel-embel terlibat PKI.Hingga pada 1978,
setelah dipenjara selama 13 tahun, Ishak bebas dan pulang ke Kalimanah,
Purbalingga. Lebih cepat tujuh tahun lantaran adanya tekanan Lembaga HAM
PBB.“1965 saya pindah ke sana (penjara Salemba). Istri saya, digeledah semua
rumah saya. Kemudian pulang (ke Purbalingga). Istri saya, hamil muda, baru satu
bulan. Waktu itu baru menikah. Sewaktu saya pulang, anak saya berumur 13 tahun.
Anak saya, cintanya ya cinta ke bapaknya. Kalau sama saya malah takut. Pokoknya
hidupnya terlunta-lunta,” Ishak menuturkan.Di kampungnya, Ishak mendapat sangu
dari seorang kawan di militer sebesar Rp50 ribu. Uang itu dipakai untuk membeli
peralatan pertanian dan pertukangan. Ishak, lantas menjadi buruh lepas selama
dua tahun.Beruntungnya, karena Ishak dikenal dari kalangan terpelajar, ia
mengajar mengaji dan membuka bisnis jual-beli sepeda motor.Bertahun, Ishak
hidup menyendiri. Suatu hari seorang kawan dari Dinas Pekerjaan Umum
Purbalingga mengenalkan pada adik iparnya, Sri Sumarni. Jadilah keduanya
kawin.Kini, Ishak menghabiskan hari-hari dengan membaca dan berolahraga.
Sesekali, ia menjual kendaraan; sepeda motor atau mobil.Ishak dan Sulemi,
adalah dua anggota pasukan Cakrabirawa yang tersisa di Purbalingga. Tapi stigma
pada mereka tak juga luntur selama pemerintah tak membuka secara terbuka
peristiwa kelam itu.
#yiv1360950798 #yiv1360950798 -- #yiv1360950798ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-mkp #yiv1360950798hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mkp #yiv1360950798ads
{margin-bottom:10px;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mkp .yiv1360950798ad
{padding:0 0;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mkp .yiv1360950798ad p
{margin:0;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mkp .yiv1360950798ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-sponsor
#yiv1360950798ygrp-lc {font-family:arial;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-sponsor #yiv1360950798ygrp-lc #yiv1360950798hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-sponsor #yiv1360950798ygrp-lc .yiv1360950798ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1360950798 #yiv1360950798actions
{font-family:verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1360950798
#yiv1360950798activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1360950798
#yiv1360950798activity span {font-weight:700;}#yiv1360950798
#yiv1360950798activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv1360950798 #yiv1360950798activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1360950798 #yiv1360950798activity span
span {color:#ff7900;}#yiv1360950798 #yiv1360950798activity span
.yiv1360950798underline {text-decoration:underline;}#yiv1360950798
.yiv1360950798attach
{clear:both;display:table;font-family:arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv1360950798 .yiv1360950798attach div a
{text-decoration:none;}#yiv1360950798 .yiv1360950798attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1360950798 .yiv1360950798attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1360950798 .yiv1360950798attach label a
{text-decoration:none;}#yiv1360950798 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv1360950798 .yiv1360950798bold
{font-family:arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1360950798
.yiv1360950798bold a {text-decoration:none;}#yiv1360950798 dd.yiv1360950798last
p a {font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv1360950798 dd.yiv1360950798last p
span {margin-right:10px;font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv1360950798
dd.yiv1360950798last p span.yiv1360950798yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv1360950798 div.yiv1360950798attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv1360950798 div.yiv1360950798attach-table
{width:400px;}#yiv1360950798 div.yiv1360950798file-title a, #yiv1360950798
div.yiv1360950798file-title a:active, #yiv1360950798
div.yiv1360950798file-title a:hover, #yiv1360950798 div.yiv1360950798file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1360950798 div.yiv1360950798photo-title a,
#yiv1360950798 div.yiv1360950798photo-title a:active, #yiv1360950798
div.yiv1360950798photo-title a:hover, #yiv1360950798
div.yiv1360950798photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1360950798
div#yiv1360950798ygrp-mlmsg #yiv1360950798ygrp-msg p a
span.yiv1360950798yshortcuts
{font-family:verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1360950798
.yiv1360950798green {color:#628c2a;}#yiv1360950798 .yiv1360950798msonormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv1360950798 o {font-size:0;}#yiv1360950798
#yiv1360950798photos div {float:left;width:72px;}#yiv1360950798
#yiv1360950798photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1360950798
#yiv1360950798photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1360950798
#yiv1360950798reco-category {font-size:77%;}#yiv1360950798
#yiv1360950798reco-desc {font-size:77%;}#yiv1360950798 .yiv1360950798replbq
{margin:4px;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-mlmsg select, #yiv1360950798 input, #yiv1360950798 textarea
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-mlmsg pre, #yiv1360950798 code {font:115%
monospace;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-mlmsg #yiv1360950798logo
{padding-bottom:10px;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-msg p a
{font-family:verdana;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-msg
p#yiv1360950798attach-count span {color:#1e66ae;font-weight:700;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-reco #yiv1360950798reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-sponsor
#yiv1360950798ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-sponsor #yiv1360950798ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-sponsor #yiv1360950798ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-text
{font-family:georgia;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv1360950798 #yiv1360950798ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1360950798
#yiv1360950798ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv1360950798