From: Awind [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, November 10, 2017 9:23 PM

  



https://bisnis.tempo.co/read/1032605/sri-mulyani-optimistis-ekonomi-kuartal-iv-2017-tumbuh-53-persen?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_1


Sri Mulyani Optimistis Ekonomi Kuartal IV 2017 Tumbuh 5,3 Persen 
Reporter: 
Tempo.co
Editor: 
Dewi Rina Cahyani
Jumat, 10 November 2017 17:05 WIB 

 
Menteri Keuangan, Sri Mulyani memberikan kata sambutan di Kompasianival di 
Lippo Mall, Jakarta Timur, 21 Oktober 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan 
pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat 2017 bisa mencapai 5,3 persen. Hingga 
akhir 2017, diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berkisar 5,1-5,17 persen.

"Saya masih menganggap, dengan growth kuartal ketiga, dengan komposisi 
investasi dan ekspor kuat serta kita bisa jaga daya beli dan harga-harga, 
mungkin kuartal keempat kita masih bisa berharap 5,3 persen. Sehingga total 
masih ada 5,10 persen hingga 5,17 persen," ujarnya di Kementerian Keuangan, 
Jumat, 10 November 2017.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan memantau kebutuhan program kementerian 
dan lembaga pada kuartal keempat sehingga belanja pemerintah terakselerasi. 
Menurutnya, realisasi belanja negara tahun ini akan tumbuh positif dibanding 
tahun lalu year-on-year (yoy). "Kalau dilihat dari kuartal keempat ini, 
terutama kenaikan dari sisi penerimaan dan belanja akan berjalan bersama-sama," 
katanya.

Pemerintah juga akan memonitor konsumsi rumah tangga. Sri Mulyani mengatakan, 
untuk masyarakat kalangan menengah ke bawah, pemerintah akan menciptakan kas 
yang bisa langsung diterima masyarakat, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) 
atau dana desa. Menurutnya, hal tersebut dapat menaikkan daya beli.

Sedangkan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas, Sri Mulyani menuturkan 
akan menjaga momentum kenaikan ekspor-impor dan investasi. Impor bahan baku dan 
investasi mengindikasikan terciptanya lapangan kerja. "Indikator seperti 
kenaikan impor bahan baku dan investasi akan menunjukkan terciptanya kesempatan 
kerja. Oleh karena itu, momentumnya kami jaga," tuturnya.

Perkiraan Sri Mulyani sama dengan perkiraan Faisal Basri, ekonom dari 
Universitas Indonesia. Faisal telah memperkirakan krisis ekonomi kecil yang 
akan terjadi pada Desember 2017. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi hanya akan 
mencapai 5 persen. ”Tahun depan paling tinggi 5,1 persen,” ujarnya, Kamis, 9 
November 2017.

Faisal mengatakan krisis tersebut bisa terjadi karena Bank Indonesia menurunkan 
suku bunga terus-menerus. Menurut Faisal, penurunan suku bunga yang terjadi di 
Indonesia menciptakan merosotnya rupiah dan cadangan devisa turun. Jika tidak 
diintervensi BI, kata Faisal, rupiah akan terganggu pada akhir tahun. "Rupiah 
sudah mulai terganggu, cadangan devisa sudah kelihatan turun. Sekalipun 
ditopang oleh intervensi, masih tetap melemah," ucapnya.

Faisal juga menilai penerimaan pajak akan jauh dari target. Ia mengaku telah 
menghitung kembali penerimaan pajak. "Kira-kira Rp 200 triliun kurangnya, tidak 
tanggung-tanggung," tuturnya. “Tahun ini diperkirakan 5 persen, tahun depan 
paling tinggi 5,1 persen." Dia juga meramalkan terjadinya krisis kecil pada 
November 2017.

Perihal pajak, Sri Mulyani mengatakan akan tetap berusaha mencapai target 
penerimaan pajak hingga akhir tahun. “Kami akan kerja keras,” katanya.

RIANI SANUSI PUTRI | DRC



                                                                             
================



https://bisnis.tempo.co/read/1032423/faisal-basri-desember-krisis-ekonomi-kecil-jangan-ugal-ugalan

Faisal Basri: Desember Krisis Ekonomi Kecil, Jangan Ugal-Ugalan 
Reporter: 
Muhammad Hendartyo
Editor: 
Yudono Yanuar
Jumat, 10 November 2017 08:03 WIB 
 
Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi 
yang membahas kebijakan pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi 
tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus 
BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar 
APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri 
memperkirakan pada Desember 2017 akan terjadi krisis ekonomi kecil.  "Hati-hati 
sampai Desember, kemungkinan ada krisis kecil jadi hati-hati sekali. Krisis 
yang diciptakan oleh pemerintah sendiri," kata Faisal Basri di Ambhara Hotel 
Jakarta, Kamis, 9 November 2017.

Menurut Faisal hal tersebut dipengaruhi karena Bank Indonesia menurunkan suku 
bunga terus menerus. "Padahal trennya lagi begini," kata Faisal.

Baca Juga: Faisal Juga Pernah Meramalkan November Terjadi Krisis Ekonomi Kecil

Faisal mengatakan hampir bisa dipastikan The Fed akan naikkan suku bunga pada 
Desember.

Penurunan suku bunga yang terjadi di Indonesia, menurut Faisal menciptakan 
rupiah yang merosot dan cadangan devisa turun. Ia menilai karena cadangan 
devisa digelontorkan untuk menjaga. "Kalau tidak diintervensi BI, udah tidak Rp 
14 ribu lagi," kata Faisal.

Dengan begitu Faisal memperkirakan akan terjadi riak-riak yang cukup mengganggu 
di akhir tahun. "Sehingga 2018 paling tidak selama triwulan satu masih berbenah 
atas riak-riak akhir tahun," kata Faisal.

"Rupiah sudah mulai terganggu, cadangan devisa sudah kelihatan turun, sekalipun 
ditopang oleh intervensi masih tetap melemah," ujar Faisal.

Menurut Faisal Basri, memang selalu ada euforia, seperti indeks harga saham 
gabungan atau IHSG yang naik terus. Namun, Ia menilai kenaikan tersebut 
merupakan tanda-tanda akan segera turun.

"Mau tidak mau, pemerintah akan menelan pil pahit karena penerimaan pajak akan 
jauh dari target. Semua menumpuk di akhir tahun, menyebabkan ada riak-riak 
itu," kata Faisal.

Faisal mengatakan sudah menghitung-hitung kembali penerimaan pajak. "Kira-kira 
Rp 200 triliun kurangnya, tidak tanggung-tanggung," kata Faisal.

Faisal menilai dengan adanya riak-riak tersebut Presiden Jokowi dan pemerintah 
harus sadar bahwa perlu ada rasionalisasi kebijakan. "Tidak bisa serba 
ugal-ugalan seperti sekarang ini," kata Faisal.

"Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 5 persen, tahun 
depan paling tinggi 5,1 persen," kata Faisal, yang juga meramalkan terjadinya  
krisis ekonomi kecil pada November 2017.













Kirim email ke