Suramnya Perayaan Hari Susu Nusantara 
https://tirto.id/suramnya-perayaan-hari-susu-nusantara-bjqi Sejumlah mahasiswi 
membagikan susu gratis kepada warga di Surabaya, Jawa Timur. Antara foto/Didik 
Suhartono 13 Shares    
mailto:?subject=Suramnya%20Perayaan%20Hari%20Susu%20Nusantara&body=https://tirto.id:443/suramnya-perayaan-hari-susu-nusantara-bjqi
 Joko Widodo https://tirto.id/m/joko-widodo-g3
 Saleh Husin https://tirto.id/m/saleh-husin-eb
 Andi Amran Sulaiman https://tirto.id/m/andi-amran-sulaiman-ch


 Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan 
https://tirto.id/author/aqwamhanifan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 15 Juni, 2016dibaca normal 4 menit

 Angka konsumsi susu orang Indonesia terendah dibanding negara besar ASEAN 
lainnya Harga susu reguler di Indonesia paling murah di ASEAN Dalam benak orang 
Indonesia, susu masih identik untuk dikonsumsi balita
 Hari Susu Dunia diperingati untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya 
konsumsi susu dan produk susu setiap hari. Di Indonesia, Hari Susu itu 
diperingati tiap tahun dengan kondisi kemirisan. Konsumsi susu Indonesia 
merupakan yang terendah di ASEAN. Selain soal harga, faktor persepsi dan budaya 
bisa jadi alasan utama kurangnya minat terhadap susu di Indonesia.

 
 
 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Sejak 
2001, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) selalu memperingati tanggal 1 
Juni sebagai Hari Susu Dunia. Perayaannya dilakukan secara serempak di berbagai 
negara seperti Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan negara-negara maju 
lainnya. 

Indonesia baru ikut serta merayakan Hari Susu Dunia pada 2009. Berdasarkan 
Keputusan Menteri Pertanian No. 2182/KPTS/PD.420/5/2009, akhirnya tiap tahun 
diadakan peringatan yang sama dengan tajuk Hari Susu Nusantara. Puncak acara 
biasanya dilakukan terpusat dan didatangi langsung oleh Presiden. 

Hari Susu Nusantara ditetapkan karena latar belakang mirisnya konsumsi susu 
masyarakat Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, konsumsi 
susu orang Indonesia merupakan yang terendah. Harapannya, peringatan Hari Susu 
Nusantara bisa menggugah kepekaan orang tentang pentingnya minum susu bisa 
bertambah. 

Data USDA Foreign Agricultural Service tahun 2014 memaparkan bahwa konsumsi 
susu per kapita Indonesia hanya 13,4 liter. Angka ini sangat kecil jika 
dibandingkan dengan Brunei Darussalam (129,1), Malaysia (50,9 liter), Singapura 
(46,1 liter), Thailand (33,7 liter),  Myanmar (25,2 liter) , Filipina (22,1 
liter), dan Vietnam (20,1 liter).

Sebenarnya, secara total angka, konsumsi Indonesia merupakan yang terbanyak di 
ASEAN dengan 2,8 juta ton per tahun. Namun, jumlah penduduk Indonesia yang 
lebih dari 250 juta orang membuat angka pembaginya menjadi lebih besar sehingga 
konsumsi per kapita menjadi sangat rendah.  Di sisi lain persebaran konsumsi 
susu itu tak merata, sebesar 38,5 persen terkonsentrasi pada masyarakat kelas 
menengah saja.

Penyebab Konsumsi Rendah

Pemerintah selalu berkelit bahwa harga susu yang mahal jadi sebab susu kurang 
begitu laku jadi konsumsi pokok di Indonesia. Namun, jika merujuk dari data 
Numbeo, harga susu reguler di Indonesia paling murah di ASEAN, hanya 1,22 dolar 
per liter. Bandingkan dengan Kamboja dan Laos yang harga susunya di atas 2 
dolar US. 

Di sisi lain, muncul sebuah kesalahpahaman pada sebagian masyarakat yang 
menilai susu merupakan makanan yang mewah dan mahal. Jika merujuk pada grafis 
di bawah, anggapan ini mestinya bisa terbantahkan. (lihat grafis)

 share infografik


Selain soal harga, faktor persepsi dan budaya bisa jadi alasan utama kurangnya 
minat terhadap susu di Indonesia.  Kambing hitam ini bisa diarahkan pada 
pemerintah. Dari zaman orde lama, orde baru hingga pasca reformasi sekarang 
pemerintah tetap saja mengkampanyekan slogan empat sehat lima sempurna yang 
dicetuskan Prof. Poorwo Soedarmo. 

Dalam slogan itu susu ditempatkan pada urutan kelima, sebagai makanan pelengkap 
.Akibatnya, muncul persepsi di masyarakat bahwa meminum susu bukanlah 
prioritas, sehingga boleh diabaikan. Masyarakat lebih memprioritaskan 
mengkonsumsi makanan yang mengenyangkan dan lebih murah.

Kita mungkin akan tak percaya saat tahu konsumsi susu di India dan Pakistan 
terbanyak di Asia. Salah satu penyebab tingginya angka itu dikarenakan susu 
jadi komoditas asupan sehari-hari pendamping makanan pokok. Tak lengkap jika 
makan tanpa susu. Hal sama terjadi di Brunei, Singapura, Malaysia, dan Thailand 
yang membudayakan minum susu sebagai teman sarapan di pagi hari.

Di sini, susu identik sebagai konsumsi untuk para anak-anak atau bayi. Kelompok 
masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah berpendapat bahwa susu hanya perlu 
diberikan pada anak berusia dibawah lima tahun (Balita) saja. Analisa ini bisa 
dibenarkan jika kita mengacu dari data dari Tetra Pak yang dirilis 2014. Data 
itu memaparkan, 31 persen olahan susu di Indonesia untuk susu balita.

Sebuah fenomena menarik ditemukan Guru besar Universitas Muhammadiyah Jakarta, 
Prof Irdam Ahmad dalam penelitiannya tentang konsumsi susu di Indonesia. 

Pola konsumsi susu cair di Indonesia bertolak belakang dengan negara lain 
seperti di AS, India, Jepang, Cina, Thailand, dan bahkan Vietnam. Di beberapa 
negara ini, konsumsi susu murni segar jauh lebih banyak dikonsumsi ketimbang 
susu olahan. 

Di Indonesia susu yang mendominasi adalah susu bubuk dan susu kental manis. Hal 
ini tak lepas dari tipe produk seperti itu yang membanjiri pasar susu di 
Indonesia. Banyaknya konsumsi susu pabrik disebabkan perkembangan teknologi 
pengolahan susu modem yang disebut Ultra High Temperature(UHT). Melalui proses 
UHT, susu cair tidak cepat rusak sehingga dapat tahan lebih lama, sementara 
nilai dan rasa susu tidak berubah.

Dalam hal konsumsi susu, data BPS mencatat 70 persen susu yang dikonsumsi orang 
Indonesia adalah susu kental manis. Konsumsi per kapita susu kental manis 
mencapai 9,31 liter per tahun, lalu disusul susu cair pabrik dan susu bubuk 
berkisar 2,23 liter per tahun. Sedangkan konsumsi susu cair murni sangatlah 
rendah, hanya sekitar 0,26 per tahun. 

Tingginya konsumsi susu kental manis ini tampaknya disebabkan harga yang 
relatif lebih murah dibandingkan dengan susu bubuk dan susu cair pabrik. Di 
samping itu, rasanya yang manis disukai anak-anak yang notabene adalah pangsa 
pasar terbesar dalam industri susu di Indonesia.

Penyebab minimnya konsumsi susu murni segar disebabkan pasokan susu yang memang 
kurang. Jangankan untuk susu murni segar, untuk bahan baku susu olahan pun kita 
masih kekurangan. 

Kebutuhan bahan baku susu untuk beragam industri di dalam negeri saat ini 
sekitar 3,8 juta ton per tahun. Peternak lokal hanya bisa mencukupinya 21 
persen saja. Kekurangan itu mau tak mau harus diimpor dari Australia, Selandia 
Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. 

Masalah muncul saat kondisi peternakan sapi perah di Indonesia belum dikelola 
berskala besar. Rata-rata peternak hanya memilik 4 ekor, jauh dengan 
kepemilikan di negara lain yang berkisar dari selusin hingga ratusan ekor. 

Faktor minimnya lahan jadi sebab peternak kesulitan mengembangbiakan ternaknya. 
Data Animal Production and Health Commission for Asia and the Pacific (APCHA) 
menyebutkan, luas lahan peternak sapi perah di Indonesia merupakan yang 
terkecil di ASEAN.

Selama ini produksi susu segar di Indonesia memang masih terpusat di pulau 
Jawa. Hampir 98,5 persen susu kita di produksi di tiga provinsi saja: Jawa 
Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Sebaran industri susu berskala besar/kecil 
di Indonesia memang masih timpang. Di luar jawa, hanya Sulawesi Selatan, 
Sumatera Utara dan Sumatera Barat saja yang angka produksinya bisa mencapai 
lebih dari seribu ton per tahun. 

Untuk menangani masalah ini, Kementerian Pertanian berencana mengintensifkan 
kerjasama dengan Perum Perhutani dalam penyediaan lahan.”Kami ingin membuat 
integrasi sapi-hutan, bentuknya seperti integrasi sapi-sawit. Jadi nanti kita 
impor indukannya untuk dikembangkan di sini. Kami usahakan ada kerjasama lahan 
dengan Perhutani,” terang Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman awal Maret 
lalu. Proyek percobaan ini akan dimulai di Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa 
Tengah. Selain solusi ini, Kementan mungkin bisa mencoba membagi beban produksi 
susu ini ke daerah lain di luar pulau Jawa. 

Dalam masalah susu ini, Kementan sudah membuat rencana srategis jangka panjang, 
kenaikan produksi susu harus berkisar 6,25 persen tiap tahunnya. Artinya pada 
2020 nanti, produksi susu harus mencapai 1,065 juta ton. 

Sementara itu, Kementerian Perindustrian telah menetapkan industri pengolahan 
susu sebagai salah satu industri prioritas untuk dikembangkan dan diatur dalam 
Peraturan Pemerintah Nomor 14/2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Industri 
Nasional. 

Kemenperin menargetkan, pada 2020 produksi susu harus mencapai 2,75 juta ton. 
Awal mula pencanangan target ini memang sungguh mulia. "Keinginan kami, 
Indonesia mampu swasembada susu agar tidak perlu impor lagi karena potensi 
industri susu di Tanah Air sangat besar," ucap Menteri Perindustrian, Saleh 
Husin. 

Tapi, ambisi mulia ini tampaknya akan sulit dicapai. Swasembada susu itu hanya 
utopia mengingat tren konsumsi dan industri olahan susu di Indonesia naik 
rata-rata 7-10 persen per tahun. Di sisi lain para peternak  sapi perah 
nasibnya kini seolah mati suri. Pakan dan biaya perawatan yang mahal, lahan 
yang sempit, harga jual yang murah membuat dunia persusuan lokal di Indonesia 
semakin suram.


 share infografik


Baca juga artikel terkait SUSU 
https://tirto.id/q/susu-dfB?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword atau 
tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan  
https://tirto.id/author/aqwamhanifan?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - wam/nqm)

 

Kirim email ke