----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Kamis, 16 November 2017 03.10.48 
GMT+1Judul: [nasional-list] Fw: [GELORA45] IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 
Bisa 6,5 Persen
     

  From: Awind [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, November 16, 
2017 7:20 AM    


 

 

https://bisnis.tempo.co/read/1033796/imf-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-bisa-65-persen


IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa 6,5 Persen 
Reporter: 
M Rosseno Aji
Editor: 
Ali Akhmad Noor Hidayat
Rabu, 15 November 2017 05:05 WIB   
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, berbicara dengan Presiden Bank Dunia 
Jim Yong Kim, dan Direktur IMF Christine Lagarde selama Pansus rapat pelno 
musim semi World Bank/IMF Spring di markas IMF, Washington, 22 April 2017. 
AP/Jose Luis Magana

TEMPO.CO, JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan Indonesia mampu 
mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi hingga hingga di atas 5 persen. IMF bahkan 
menyatakan Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen dalam 
beberapa tahun ke depan.

“Adalah mungkin Indonesia bisa mencapai di atas 5 persen sampai 6,5 persen 
dalam beberapa tahun,” kata Kepala Divisi IMF Departemen Asia dan Pasifik Luis 
Enrique Breuer saat bertemu awak media di Jakarta, Selasa, 14 November 2017.

Simak: IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan RI

Luis menuturkan potensi pertumbuhan hingga 6,5 persen ada karena Indonesia 
memiliki banyak populasi muda. Populasi muda ini, kata Luis, akan memasuki 
pasar tenaga kerja setiap tahunnya. Hal tersebut, menurut dia, pada akhirnya 
akan menciptakan potensi pertumbuhan ekonomi. Dan yang perlu dilakukan 
pemerintah, kata Luis, adalah menciptakan lapangan pekerjaan. “Dengan begitu 
negara bisa mendapatkan keuntungan dari dividen demografis,” kata dia.

Selain membuka lapangan kerja yang lebih luas, pemerintah menurut Luis juga 
perlu melakukan beberapa pekerjaan lainnya. Luis mengatakan pemerintah perlu 
menjaga disiplin finansial, tingkat inflasi dan stabilitas makro ekonomi.

Kedua, Luis mengatakan pemerintah juga perlu meningkatkan kemampuan bereaksi 
terhadap faktor eksternal. Pemerintah, kata dia, harus waspada terhadap 
beberapa faktor, seperti pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan Cina dan suku 
bunga Amerika Serikat.

“Bagi saya, Indonesia punya penyangga untuk merespon sesuatu yang salah terjadi 
dari luar. Baik bagi Indonesia jika harga minyak naik. Tapi buruk, jika terjadi 
perlambatan ekonomi Cina atau kenaikan cepat tingkat suku bunga AS,” ujarnya.

Luis juga meminta pemerintah memodernisasi peraturan di Indonesia. Sebab, 
menurut Luis penerapan desentralisasi membutuhkan penyelarasan antara aturan 
pemerintah pusat dan daerah.

Keempat, Luis mengatakan pemerintah harus meningkatkan pendidikan untuk 
populasi muda. Dan kelima, Luis menyarankan agar pemerintah dapat membenahi 
sektor keuangan yang tidak terlalu efisien. “OJK (Otoritas Jasa Keuangan) 
terlalu banyak peraturan.”

Luis menuturkan Indonesia juga masih memiliki beberapa kendala untuk 
mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Kendala tersebut di antaranya, 
ketergantungan yang berlebihan pada komoditas. “Jika harga komoditas turun, 
pendapatan negara juga akan turun,” tutur dia.

Kendala lainnya adalah investasi pemerintah pada proyek infrastruktur yang 
butuh waktu lama untuk mempengaruhi ekonomi. Menurut dia ada sejumlah resiko 
fiskal jika proyek tersebut mangkrak. Namun, IMF menganggap proyek 
infrastruktur juga penting, sebab Indonesia tertinggal jauh dalam hal ini 
dibanding negara lain. “Dalam jangka pendek, proyek infrastruktur telah 
berdampak pada ekonomi melalui belanja pemerintah,” kata dia.

ROSSENO AJI NUGROHO | YANDHRIE ARVIAN
   
   - International Monetary Fund | IMF 

 

 

 

 

 

 

 
    

Kirim email ke