Pada Minggu, 19 November 2017 05.31.26 GMT+1, Chalik Hamid 
<[email protected]> menulis:  
 
  

   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 19 November 2017 04.15.33 
GMT+1Judul: [GELORA45] Orang Rimba masuk Islam demi KTP: 'Kini mereka mengenal 
Tuhan' kata Menteri Khofifah
     





Orang Rimba masuk Islam demi KTP: 'Kini mereka mengenal Tuhan' kata Menteri 
Khofifah
Rebecca HenschkeBBC Indonesia   
   - 17 November 2017
   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim


Image captionBeberapa bulan lalu, bocah-bocah ini masih hidup di dalam hutan 
dengan tradisi leluhur.
Hutan di Provinsi Jambi, Sumatera, adalah rumah Orang Rimba atau juga dikenal 
dengan Suku Anak Dalam. Kepercayaan mereka dan cara hidup mereka yang nomaden 
tidak diakui negara. Kini, ketika hutan mereka dihabisi untuk membuka 
perkebunan kelapa sawit, banyak di antara mereka yang dipaksa memeluk agama 
Islam demi bertahan hidup.

Di sebuah rumah panggung, sekelompok anak berbaju putih duduk di lantai yang 
terbuat dari kayu. Dengan kompak, mereka melantunkan syair "Cinta Islam, Cinta 
Islam, sampai saya mati" dan memekikkan kalimat "Tiada Tuhan selain Allah, dan 
Muhammad Rasul Allah".

Dari luar rumah, seorang ibu berteriak memanggil putranya. Dia menyuruh si 
bocah untuk memakai baju dan bergabung dengan teman-temannya yang menyanyi. 
Kecuali tali ketapel yang digunakan untuk berburu burung, si bocah bertelanjang 
bulat.
   
   - Orang Rimba di Jambi: Masuk Islam untuk dapat KTP
   - Jalan panjang mengakui rumah Orang Rimba
   - Kisah fotografer temukan suku yang tak alami era modern

Beberapa bulan lalu sebanyak 58 keluarga dari Suku Celitai pindah agama untuk 
memeluk Islam.

Mereka dijemput menggunakan bus menuju ke Kota Jambi dan diberikan baju, 
sajadah, dan kerudung bagi kaum perempuan.

Front Pembela Islam atau FPI memfasilitasi proses tersebut.
Image captionUstad Reyhan dari kelompok Islam, Hidayatullah membantu memastikan 
praktek agama dengan benar.
Sebelumnya percaya pada roh-roh

"Ini adalah proses, tidak terjadi hanya dalam semalam," kata Ustad Reyhan dari 
kelompok Islam, Hidayatullah.

"Kini kami berfokus pada anak-anak, lebih mudah bagi mereka untuk berpindah 
agama. Pikiran mereka tidak dipenuhi banyak hal. Tapi, yang susah adalah 
orang-orang dewasa."

"Tapi mereka tidak ada di sini selamanya. Seberapa panjang sih umur manusia? 
Maksimal 60 atau 70 tahun," ujarnya dengan ceria.

"Sebelum berpindah ke Islam, mereka percaya pada roh-roh, dewa dan dewi, tapi 
bukan Allah Yang Maha Esa. Mereka tidak tahu pencipta kita. Ketika seseorang 
meninggal dunia, mereka tidak menguburkannya. Mereka hanya meninggalkan jenazah 
di hutan. Kini hidup mereka punya makna dan tujuan," papar Ustad Reyhan.

Tapi, apakah sebelumnya hidup mereka tidak punya tujuan? Tanya saya.

"Bagaimana mereka punya tujuan, mereka hidup di hutan. Mereka hanya menjalani 
hari demi hari, momen demi momen. Saat mereka meninggal, mereka meninggal 
begitu saja. Tapi kini mereka punya agama, mereka tahu ada akhirat."
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionAnak-anak Orang Rimba diajari salat.
Kebutuhan bertahan hidup

Namun, kepala desa Orang Rimba, Muhammad Yusuf, atau dulu dikenal dengan nama 
Yuguk, tidak memikirkan akhirat saat memutuskan memeluk agama Islam. 
Keputusannya lebih didasari oleh kebutuhan bertahan hidup.

"Keputusannya saat itu sangat berat dan sulit, namun kami merasa tidak punya 
pilihan jika kami ingin maju," ujarnya, bisik-bisik.

"Ini kami lakukan agar anak-anak kami punya kesempatan yang sama seperti orang 
luar, orang terang. Kami tidak punya pilihan lain, tiada jalan lagi, kami semua 
harus berpindah ke Islam."

Orang Rimba menjuluki masyarakat luar sebagai 'orang terang' karena hidup di 
ruang terbuka, bukan di bawah pepohonan rimbun seperti mereka.

Populasi Orang Rimba sendiri tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan 
sebanyak 3.000 Orang Rimba hidup di Provinsi Jambi.

"Jika ibu dulu datang ke sini, ibu akan melihat hutan kami yang elok dengan 
pohon-pohon besar," kata Yusuf.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionHutan yang dihuni Orang Rimba tergerus 
oleh perkebunan kelapa sawit.
Sembari berbincang, kami menyusuri sisa-sisa hutan Orang Rimba. Pada satu sisi, 
tumpukan pohon yang telah dibakar dan berubah menjadi abu putih, sedang sisi 
lainnya barisan pohon kelapa sawit yang berjajar rapi. Ketiadaan bunyi-bunyian 
satwa, entah itu burung atau kawanan monyet, terasa begitu janggal.

"Semuanya habis, terjadi hanya dalam beberapa tahun terakhir. Perkebunan sawit 
muncul dan kemudian hutan mulai terbakar."

Yusuf menceritakan kebakaran dua tahun lalu yang melalap hutan dan kawasan 
gambut seluas 21.000 kilometer persegi—setara dengan 30 kali luas Singapura.

Sebanyak setengah juta orang terdampak asap beracun dari kebakaran dan puluhan 
orang meninggal dunia akibat penyakit menyangkut pernapasan.

"Saya takut, kami semua merasa sangat ngeri pada api dan asap di sekeliling 
kami."

Guna menghindari api, dia dan sebagian besar anggota sukunya kabur ke desa 
terdekat. Lainnya lari jauh ke dalam hutan di taman nasional.
Image caption"Keputusannya saat itu sangat berat dan sulit, namun kami merasa 
tidak punya pilihan jika kami ingin maju."
Di desa tempat mereka berlindung itulah, proses masuk agama Islam dimulai.

"Setelah beberapa lama, kami ingin mengirim anak-anak kami ke sekolah, tapi 
guru di sekolah ingin melihat akta kelahiran mereka. Untuk memperoleh akta 
kelahiran harus ada akta perkawinan dan untuk mendapat akta perkawinan harus 
memeluk agama yang diakui negara."

"Kami lalu mengadakan pertemuan suku dan membahas agama apa yang kami pilih. 
Kami lalu memutuskan memilih Islam," jelas Yusuf.

Indonesia hanya mengakui enam agama secara resmi, yakni Islam, Kristen 
Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, serta Konghucu.

Dalam kartu tanda penduduk dan kartu keluarga, setiap warga negara harus 
mencantumkan salah satu dari enam agama tersebut di kolom agama.

Baru pada 7 November 2017, Mahkamah Konstitusi memutuskan penghayat kepercayaan 
bisa mencantumkan kepercayaan mereka pada kolom agama KTP dan KK.

Penghayat kepercayaan mengalami kesulitan mendapatkan akta perkawinan, akta 
kelahiran, dan dokumen-dokumen lainnya.

Para pegiat kini berjuang agar parlemen mengubah Undang-Undang Administrasi 
Kependudukan tahun 2013.
Image captionKepada Orang Rimba dikatakan bahwa mereka perlu agama resmi agar 
bisa mendapat KTP dan agar anak-anak mereka dapat bersekolah.
Belum menjadi manusia

Rukka Sombolinggi, selaku sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), 
merupakan salah satu tokoh pegiat yang memperjuangkan hak para penghayat 
kepercayaan.

"Kami sudah ada di sini sebelum agama baru tiba di Indonesia. Namun, sekarang 
mereka seperti menguasai kami dan ingin membasmi kami dari negara ini. Kami 
harus melawan," ujarnya.

Orang Rimba, kata Rukka, merupakan salah satu suku asli Indonesia yang rawan 
punah dan sangat menderita.

"Mereka telah sampai pada titik keputusasaan dan mereka melihat bahwa memeluk 
salah satu agama yang diakui negara mungkin akan menolong mereka keluar dari 
situasi yang sangat, sangat buruk. Ini masalah bertahan hidup."

Masyarakat di Sumatera yang mayoritas muslim menjuluki Orang Rimba, Kubu.

"Itu artinya mereka sangat kotor, mereka sampah, bahkan jangan dilihat karena 
terlalu jijik. Kubu juga bisa bermakna primitif, bodoh, bau busuk. Pada 
dasarnya belum menjadi manusia, evolusinya belum sempurna," papar Butet 
Manurung, antropolog yang telah tinggal bersama Orang Rimba selama 
bertahun-tahun.
Image captionBagi Orang Rimba hutan adalah tempat pohon-pohon yang disakralkan 
dan juta obat.
Tiada tempat hidup

Saya menangkap kesan bahwa Orang Rimba didiskriminasi tatkala saya bertolak 
menuju permukiman mereka—tempat mereka mempraktikkan budaya nomaden dan 
kepercayaan terhadap dewa-dewi.

Kami singgah sejenak di sebuah desa untuk beristirahat dan makan sebelum masuk 
hutan.

Hanya dalam beberapa menit, dua kendaraan berhenti di dekat kami. Dari dalam 
muncul seorang polisi dan pegawai negeri dari pemerintah daerah setempat. 
Mereka menanyakan tujuan kami dan izin masuk hutan.

Mijak, pemandu kami yang merupakan Orang Rimba, bangkit berdiri dan terlihat 
kesal. Dia bertanya kepada kedua petugas itu mengapa kami perlu izin masuk ke 
ranah Orang Rimba.

"Kami tidak punya tempat hidup. Kami selalu disebut orang nomaden, tanpa agama, 
tanpa budaya. Kami tidak dihormati," kata Mijak kepada saya sembari menatap ke 
arah kedua petugas.
Image captionOrang Rimba kini tinggal di seputar Perkebunan Sawit.
"Agama kami, kepercayaan kami tidak dihormati. Pemerintah selalu berkeras agar 
kami pindah agama dan hidup di rumah permanen di satu tempat. Kami tidak bisa 
melakukan itu, cara hidup kami tidak seperti itu."Polisi dan PNS itu terlihat 
tersinggung, namun Mijak melanjutkan perkataannya.

"Mengapa kalian membuat hidup kami begitu susah?"

Kedua figur itu tidak terpengaruh dengan pernyataan Mijak dan tetap meminta 
surat-surat imigrasi.

"Kami perlu mengawasi mereka," kata salah seorang polisi.

"Mereka tidak paham konsep mencuri. Mereka bilang buah itu tumbuh dengan 
sendirinya di pohon jadi bisa diambil. Tapi itu kan ditanam oleh seseorang. 
Mungkin kepercayaan mereka begitu, tapi hal demikian tidak baik di masyarakat 
kita."
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionOrang Rimba berburu dan menyantap babi 
hutan, tapi tidak makan hewan ternak.
Masalah babi

Petugas itu juga mengatakan bahwa Orang Rimba menciptakan ketegangan dengan 
memburu dan menyantap babi hutan.

"Ini adalah komunitas Muslim. Jika warga melihat darah babi atau sisa bangkai 
babi ditinggal berserakan, warga akan merasa terganggu," ujarnya.

Pandangan sang petugas adalah cerminan kontradiksi Orang Rimba dengan umat 
Muslim, jelas Butet Manurung.

"Orang Rimba tidak memakan hewan ternak, seperti ayam, sapi, atau kambing. 
Mereka menganggap itu adalah bentuk pengkhianatan. Anda memberi makan hewan, 
tapi ketika hewan itu gemuk, Anda memakannya. Yang adil adalah bertarung. 
Siapapun yang menang dapat menyantap yang kalah."

Benturan kebudayaan semacam itu mengemuka pada 1980-an ketika Presiden Soeharto 
memberikan lahan kepada para transmigran dari Pulau Jawa dan 
perusahaan-perusahaan.

Sejak saat itu, area hutan yang menjadi rumah Orang Rimba, kian terbuka. 
Sejalan dengan langkah tersebut, perkebunan kelapa sawit, karet, dan kayu 
produksi leluasa merambah hutan tanpa berunding atau memberi kompensasi kepada 
penduduk asli.
Image captionSejak lahir Orang Rimba selalu merasa dekat dengan pepohonan.
Zulkarnain, seorang pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang 
membantu memfasilitasi perpindahan agama Suku Celitai, mengaku saat masih 
kanak-kanak mengira Orang Rimba bukan manusia.

"Suatu hari anak Kubu mencuri buah dari salah satu tetangga saya dan tetangga 
saya itu menembaknya. Kami menghampiri jasadnya dan saya sadar dia bukan 
sejenis hewan, dia manusia, seperti kita."

"Saya sadar kita harus membantu mereka. Saya kasihan pada mereka, mereka akan 
kelaparan kalau mereka tidak berubah."

'Kepala terasa berputar...'

Dalam 20 tahun terakhir, jutaan hektare lahan hutan telah dibuka di Indonesia. 
Beberapa kajian menyebutnya sebagai deforestasi tercepat di dunia.

Adapun luas perkebunan kelapa sawit telah meningkat antara 300.000 sampai 
500.000 hektare per tahun selama 10 tahun terakhir.

Semasa saya hidup, selama 30-an tahun, lebih dari setengah hutan-hutan di 
Sumatra menghilang dan digantikan perkebunan kelapa sawit.
Image captionKeluarga Sigungang kesulitan mencari makan setelah hutan mereka 
dihabisi.
Keluarga Sigungang adalah salah satu keluarga yang hidup di tengah perkebunan 
kelapa sawit. Dia berupaya memburu babi hutan saat hewan itu muncul.

"Namun jika kami tidak bisa menemukan apa-apa, kami terpaksa makan buah kelapa 
sawit. Kepala terasa berputar dan hampir membunuh anak-anak yang makan minyak 
kelapa sawit," ujar Sigungang.

Perkebunan kelapa sawit penuh dengan pestisida dan keluarganya mengalami sakit 
perut karena minum air di perkebunan.

"Tidak ada hutan bagi mereka untuk berburu. Sungai tempat mereka memancing dan 
minum sudah terpolusi dan begitu pula udaranya. Jadi kami memberikan mereka 
rumah, desa untuk hidup," kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa.

Berkaitan dengan itu, pemerintah telah bekerja sama dengan 
perusahaan-perusahaan perkebunan untuk membangun sejumlah unit rumah untuk 
Orang Rimba.
Image captionRumah-rumah untuk Orang Rimba banyak ditinggalkan.
Tahun lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan kawasan permukiman dan lahan untuk 
Orang Rimba setelah bertemu dengan tetua suku. Pertemuan semacam itu adalah 
yang pertama dilakukan seorang presiden Indonesia.

Bagian yang tak kalah pentingnya dari proses tersebut, menurut Khofifah, adalah 
agama.

"Pada KTP, mereka harus menyatakan agama yang mereka anut. Ada yang menjadi 
Muslim, ada pula yang menjadi Kristen. Jadi kini mereka mengenal Tuhan."

'Kami ingin hutan, bukan rumah'

Bagaimanapun, rumah-rumah untuk Orang Rimba itu kini telah ditinggalkan dan 
berubah menjadi kota hantu.

Tanpa ada sumber nafkah untuk keluarga mereka, Orang Rimba yang sempat tinggal 
di rumah permanen kembali bermukim di hutan.
Image captionNgantap mengatakan ia tidak akan pernah pindah agama karena "hidup 
saya di hutan."
"Yang kami inginkan dari mereka adalah berhenti mengambil hutan kami. Kami 
tidak ingin rumah seperti orang luar," kata Ngantap, salah satu tetua suku 
Makekal Hulu.

"Saya damai dan bahagia di hutan, saya adalah penghuni hutan," tambahnya.

Saya merasakan damai yang disebut Ngantap saat berjalan di tengah hutan Orang 
Rimba. Daun-daun dari pepohonan seolah membentuk tembok hijau, akar-akar saling 
membelit pohon-pohon besar, dan suara siamang yang sahut-menyahut jelas 
terdengar.

Kawasan ini adalah hutan adat suku Makekal Hulu, tempat banyak pohon 
dikeramatkan.
Image captionSuku Makekal Hulu berupaya agar hutan ini diakui sebagai milik 
mereka.
Kami berhenti di depan sebuah pohon kedondong yang besar. Pandangan Ngantap 
mengarah ke atas pohon.

"Ini adalah salah satu pohon keramat yang paling kami lindungi. Siapapun yang 
menebang pohon ini akan dicari dan dihukum."

Saat bersama saya, Ngantap memakai cawat khas Orang Rimba dan sekantong rokok 
terikat di pinggang.

Di antara kami terdapat perempuan belum menikah yang memakai kain sarung untuk 
menutupi payudara. Begitu menikah kain itu akan diikatkan di pinggang dan 
membiarkan payudara terbuka agar mudah menyusui bayi. Namun, kini banyak pula 
yang memakai kaus.
Image captionDari kelahiran sampai kematian, Orang Rimba selalu dekat dengan 
pepohonan.
Ngantap mengatakan mereka akan berpegang teguh pada kepercayaan leluhur.

"Salah bila mengatakan kami tidak beriman. Iman, agama, adalah hak pribadi 
setiap manusia. Sangat salah menjelekkan kepercayaan seseorang."

Soal kepercayaan, Butet Manurung yang tinggal bertahun-tahun bersama Orang 
Rimba menjelaskan.

"Orang Rimba menyembah banyak dewa. Harimau adalah salah satu yang terkuat," 
kata Butet.

"Mereka punya dewa lebah, dewa burung rangkong, lalu ada dewa dan dewi dari 
berbagai pohon. Mereka juga menyembah dewa mata air. Mereka meyakini bahwa 
sungai jangan diperlakukan buruk. Mereka tidak pernah pergi ke WC atau menaruh 
sabun di sungai supaya orang bisa minum langsung dari sungai," tutur Butet.
Image captionSetelah seorang bayi dilahirkan, tiga pohon harus ditanam.
Ngerung, istri Ngantap, menjelaskan keterkaitan Orang Rimba dengan pohon.

"Setelah seorang bayi dilahirkan, tiga pohon harus ditanam. Satu untuk tali 
pusar, satu untuk si bayi, dan satu untuk namanya. Pohon-pohon itu tidak boleh 
ditebang atau dilukai," kata Ngerung, seorang perempuan Orang Rimba yang 
memiliki 11 anak.

"Ada seorang dukun yang akan mencari nama yang cocok untuk bayi dan bagian dari 
pohon itu akan dibalurkan ke kepala si bayi," timpal Ngantap.

Ngantap mewanti-wanti banyak pohon keramat di hutan dan tidak boleh dilukai.

"Jika kami kehilangan hutan, kami kehilangan cara hidup, budaya kami. Dewa-dewa 
kami akan hancur. Padahal, dewa-dewa yang melindungi perempuan dan anak-anak. 
Dukun-dukun akan kehilangan kekuatan mereka, sebaliknya penghancuran dan 
bencana akan berkuasa."

Berpindah agama

Mijak, pemandu saya, berpindah ke agama Islam—sebuah keputusan yang menurutnya 
diambil agar bisa bepergian dan berjuang melindungi hutan leluhur.

Orang Rimba berusaha mendaftarkan hutan mereka sebagai tanah ulayat menyusul 
putusan Mahkamah Konstitusi pada 2013. Melalui putusan itu, hutan adat dapat 
dikelola oleh masyarakat adat yang menempatinya selama berabad-abad.
Image captionNgantap mendapatkan maknan dengan cepat di hutan, berupa 
umbi-umbian.
Sebagai dampak dari keputusannya berpindah agama, Mijak dapat ikut ambil bagian 
dalam pertemuan suku tapi tidak dilibatkan dalam ritual kepercayaan.

Bahkan, karena Mijak kini menggunakan sabun untuk mandi serta makan sapi dan 
ayam, dia tidak bisa masuk rumah keluarga.

"Selalu ada pengorbanan yang harus dilakukan. Saat saya dididik dengan cara 
orang luar, ada banyak hal yang harus saya korbankan."

"Namun saya menerimanya karena saya adalah pembawa pesan dan jembatan bagi 
banyak orang di sini dengan dunia luar, dengan pemerintah mengenai hutan dan 
hak kami."

Meski demikian, Mijak masih takut dengan dewa dan dewi Orang Rimba setiap kali 
dia ke hutan.

"Orang-orang suci, dukun perempuan, merekalah yang saya takutkan dan kami 
hormati. Mereka bisa berkomunikasi dan melihat dewa-dewi."

"Dukun bisa berubah menjadi harimau, bisa berubah menjadi gajah jika dewa-dewa 
sangat marah dan menyerang manusia. Saya takut itu, saya khawatir melanggar 
aturan."

Di atas semua ketakutannya, kengerian terbesar Mijak adalah cara hidup Orang 
Rimba akan punah.
Image captionCara hidup Orang Rimba mendapat tekanan besar.
Kehidupan baru

Muhammad Yusuf, kepala suku Celitai dari Orang Rimba yang telah menganut agama 
Islam, mengaku kehidupannya berubah dalam hitungan bulan.

Dia telah secara resmi memperistri tiga orang. Hamida, istri ketiga Yusuf, 
mengatakan kondisinya sangat berbeda.
Image captionBagi istri pertama Muhammad Yusuf, kehidupan mereka sangat berubah.
"Sangat, sangat berbeda dalam hal kebersihan, apa yang kami makan, anak saya 
bisa sekolah, dan mereka bisa membaca Al-Quran. Sekarang, alhamdullilah kami 
bisa menyantap makanan halal."

Hamida sekarang memakai jilbab dan sering menggunakan kalimat Arab saat 
berbicara.

Apakah ada yang Anda rindukan dari kehidupan lama di hutan dan mendengar 
nyanyian burung? Tanya saya.

"Tidak. Alhamdullilah tiada yang kami rindukan (dari kehidupan lama), sekarang 
sangat berbeda, saya bahagia dengan kehidupan baru."

Saya bertanya lagi, apakah sama sekali tidak ada budaya Orang Rimba yang ingin 
Anda wariskan ke anak-anak? Mungkin bagaimana Orang Rimba menjaga kebersihan 
sungai dan melindungi hutan?

Dia tampak khawatir salah bicara dan menatap ke arah suaminya untuk mencari 
persetujuan. Yusuf mengangguk.

Istri pertama Yusuf mengambil alih pembicaraan. "Tiada yang kami rindukan. 
Sangat melelahkan berpindah terus di hutan. Tapi, ya, saya akan mengajar 
anak-anak untuk tidak membuang sampah di sungai."

Selagi kami menyantap mie instan, istri pertama Yusuf berkelakar bahwa mereka 
dulu hidup berpindah-pindah di hutan, kini giliran Yusuf yang setiap malam 
berpindah-pindah antara rumah istri pertama, kedua, dan ketiga.



      

Kirim email ke