Bagaimana agar intoleransi tak berlanjut sesudah pilkada DKI Jakarta?


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Bagaimana agar intoleransi tak berlanjut sesudah pilkada DKI Jakarta?

Kajian Setara Institute mengungkapkan DKI Jakarta memiliki indeks toleransi 
terendah dari 94 kota/kabupaten, nam...
 |

 |

 |



   
   - 19 November 2017
   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoED WRAY/GETTY IMAGES)Image captionSejumlah demonstrasi dilakukan 
menentang salah satu pasangan calon dengan isu penistaan agama jelang pilkada 
DKI Jakarta.
Kajian organisasi pemerhati masalah HAM, Setara Institute, mengungkapkan DKI 
Jakarta memiliki indeks toleransi terendah dari 94 kota/kabupaten. Namun 
sebelumnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta menilai situasi di 
Jakarta sudah membaik pasca pilkada.

Dalam studi ini, Setara mengukur regulasi pemerintah kota, tindakan pemerintah, 
regulasi sosial dan demografi agama sepanjang November 2016-Oktober 2017. Pada 
masa setahun terakhir itu, tercatat sedikitnya terjadi 24 peristiwa pelanggaran 
kebebasan beragama dan beribadah atau KBB.

Sebelumnya DKI Jakarta menempati posisi 65, namun merosot drastis akibat 
peningkatan intoleransi dan politisasi identitas keagamaan dalam proses pilkada 
2017 lalu. Selain Jakarta, kota lain dengan indeks toleransi terendah antara 
lain Banda Aceh, Bogor, Cilegon, dan Depok.
   
   - Toleransi siswa Indonesia terpengaruh Pilkada Jakarta?
   - Seperti apa wajah politik Indonesia setelah Pilkada Jakarta berakhir?
   - Benarkah ada 'ujaran kebencian dan ajakan kekerasan' terkait Pilkada 
Jakarta?

Akan tetapi, Ketua FKUB DKI Jakarta, Ahmad Syafii Mufid, menilai situasi di 
Jakarta pascapilkada sudah semakin membaik.

"Saya kira semakin baik, saya mencermati ada kelompok yang sepertinya sudah 
begini titik, sekarang tidak, sudah menerima kenyataan meskipun ada dendam. Ini 
juga penting bagi kepemimpinan baru di Jakarta atau di Indonesia, kuncinya 
rekonsiliasi," jelas dia usai diskusi dan peluncuran buku Ketika Agama Bawa 
Damai, Bukan Perang: Belajar dari Imam dan Pastor, (9/11) lalu.
Hak atas fotoREUTERSImage captionPilkada DKI Jakarta putaran pertama diikuti 
tiga pasangan calon, dan putaran kedua dua pasangan yaitu Anies Basweda- 
sandiaga Uno, Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat.
Upaya dialog

Meski pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta sudah beberapa bulan berlalu, 
tetapi upaya untuk merajut toleransi masih terus dilakukan hingga kini melalui 
dialog lintas agama sampai ke tingkat kecamatan, seperti disampaikan Ketua 
Forum Kerukunan Umat Beragama DKI Jakarta Ahmad Syafii MUfid.

"Ya itu sudah bicara di mimbar-mimbar sudah bicara, kalau FKUB ini kita 
mengadakan pertemuan sampai ke tingkat kecamatan, di tiap kecamatan kita 
kumpulkan 100an orang, sudah berjalan dan rencananya di 20 kecamatan dan 
tinggal empat kecamatan yang belum."

Apa saja yang dilakukan FKUB DKI Jakarta untuk meredakan eskalasi ketegangan 
pasca pilkada yang sarat dengan penggunaan isu agama dan memastikan ketegangan 
itu tidak berlanjut?

"Yang dilakukan adalah bina damai, jadi agama itu mengajarkan perdamaian, agama 
itu menghormati perbedaan, agama itu juga memotivasi mendorong untuk kemajuan 
progressiveness itu ada di dalam tiap agama, bahwa grass root itu ketua RT/RW 
dan tokoh-tokoh setempat itu mengerti nanti agenda yang rawan itu apa, 
kerawanan itu disebabkan oleh apa dan bagaimana kita harus menyikapinya, itu 
disampaikan," kata Mufid.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionSentimen agama digunakan untuk 
menjatuhkan lawan politik dalam pilkada Jakarta 2017.
Mufid mengatakan selain mengajak tokoh agama dan masyarakat sampai tingkat 
bawah, FKUB juga berupaya mengajak dialog pemimpin organisasi agama yang tampak 
mendukung salah satu calon gubernur dalam pilkada lalu.

"Jadi orang-orang kayak gini, kalau kita musuhi itu semakin menjadi-jadi, tapi 
kalau kita rangkul itu.. saya percaya bahwa kehidupan ini dimulai dari cinta, 
dan harus dipelihara dengan cinta dan berakhir dengan cinta," jelas Mufid.

Ihsan Ali-Fauzi yang merupakan direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi 
Universitas Paramadina (PUSAD Paramadina) menilai upaya yang dilakukan FKUB DKI 
Jakarta dapat dicontoh oleh daerah lain.

"Makanya genting sekali, makanya yang dilakukan oleh Pak Syafii Mufid FKUB itu 
perannya besar karena orang Indonesia itu masih mendengarkan ulama, masih 
dengar agamawan, dari mulai masalah tanah ujung-ujungnya ke FKUB," jelas Ihsan.

Namun menurut Ihsan, upaya FKUB ini harus mendapatkan dukungan dari berbagai 
pihak.

"Agamawan perlu melengkapi diri dengan berbagai hal, ketrampilan mengenai bina 
damai mediasi, dan sebagainya. Dia perlu wawasan yang lebih lebar, dia perlu 
membangun jaringan dengan orang lain, agar dia lebih berguna. Saya juga ingin 
agar teman saya yang bergerak dalam bidang pluralisme kebhinekaan memperkuat 
agamawan dari segi ini juga."

"Kadang-kadang mungkin mereka kurang paham sehingga menyebarkan paham keagamaan 
yang kekerasan, jangan-jangan mereka tidak punya ketrampilan yang diperlukan 
untuk berperan sebaliknya."
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPengawasan di TPS dilakukan oleh 
kelompok pendukung salah satu calon, yang dinamakan Tamasya Almaidah.
Agar tak berulang

Berkaca dari situasi di Jakarta, apa upaya yang dilakukan untuk mencegah 
penggunaan sentimen agama dalam pilkada 2018 tidak berulang ketika pemilu 
serentak 2019 mendatang?

Pengamat agama dan kekerasan, Sydney Jones, mengatakan kerja sama berbagai 
kalangan diperlukan untuk mencegah penggunaan isu agama dalam pemilihan lokal 
ataupun nasional.

"Mereka semua harus kerja sama apalagi menjelang pilkada, karena titik yang 
paling berbahaya di Indonesia itu pada saat pilkada atau pemilu. Dan menjelang 
pilkada 2018 dan pemilu 2019, banyak orang khawatir pemilu presiden bisa jadi 
agak panas," kata Sydney.

Sydney meminta agar pejabat pemerintah dari tingkat pusat dan daerah tidak 
menghadiri acara yang dilakukan oleh kelompok yang intoleran.

Sementara itu, Menteri agama Lukman Hakim mengatakan upaya untuk merawat 
keberagaman dilakukan melalui moderasi agama.

"Yang dimaksud dengan moderasi agama adalah paham yang moderat, artinya moderat 
lawan dari ekstremitas, ekstrem itu berlebihan. Karena kalau sudah merasa 
paling benar dia akan menegasikan, menafikan pihak lain yang berbeda dengan 
dirinya. Nah pemahaman kurang tepat itu lalu kemudian ada pemaksaan ada 
kehendak yang dipaksakan agar yang berbeda itu harus sama dengan dirinya," kata 
Lukman.

Lukman mengatakan kementerian yang dipimpinnya juga melakukan upaya pengajaran 
nilai-nilai keberagaman di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk mengajarkan 
toleransi sejak dini.

Kirim email ke