From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
Sent: Monday, November 20, 2017 8:40 AM
Bagaimana agar intoleransi tak berlanjut sesudah pilkada DKI Jakarta?
< tr>
Bagaimana agar intoleransi tak berlanjut sesudah pilkada DKI
Jakarta?
Kajian Setara Institute mengungkapkan DKI Jakarta memiliki
indeks toleransi terendah dari 94 kota/kabupaten, nam...
a.. 19 November 2017a.. Bagikan artikel ini dengan Facebook
b.. Bagikan artikel ini dengan Twitter
c.. Bagikan artikel ini dengan Messenger
d.. Bagikan artikel ini dengan Email
e.. Kirim
Hak atas fotoED WRAY/GETTY IMAGES)Image captionSejumlah demonstrasi dilakukan
menentang salah satu pasangan calon dengan isu penistaan agama jelang pilkada
DKI Jakarta.
Kajian organisasi pemerhati masalah HAM, Setara Institute, mengungkapkan DKI
Jakarta memiliki indeks toleransi terendah dari 94 kota/kabupaten. Namun
sebelumnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta menilai situasi di
Jakarta sudah membaik pasca pilkada.
Dalam studi ini, Setara mengukur regulasi pemerintah kota, tindakan pemerintah,
regulasi sosial dan demografi agama sepanjang November 2016-Oktober 2017. Pada
masa setahun terakhir itu, tercatat sedikitnya terjadi 24 peristiwa pelanggaran
kebebasan beragama dan beribadah atau KBB.
Sebelumnya DKI Jakarta menempati posisi 65, namun merosot drastis akibat
peningkatan intoleransi dan politisasi identitas keagamaan dalam proses pilkada
2017 lalu. Selain Jakarta, kota lain dengan indeks toleransi terendah antara
lain Banda Aceh, Bogor, Cilegon, dan Depok.
a.. Toleransi siswa Indonesia terpengaruh Pilkada Jakarta?
b.. Seperti apa wajah politik Indonesia setelah Pilkada Jakarta berakhir?
c.. Benarkah ada 'ujaran kebencian dan ajakan kekerasan' terkait Pilkada
Jakarta?
Akan tetapi, Ketua FKUB DKI Jakarta, Ahmad Syafii Mufid, menilai situasi di
Jakarta pascapilkada sudah semakin membaik.
"Saya kira semakin baik, saya mencermati ada kelompok yang sepertinya sudah
begini titik, sekarang tidak, sudah menerima kenyataan meskipun ada dendam. Ini
juga penting bagi kepemimpinan baru di Jakarta atau di Indonesia, kuncinya
rekonsiliasi," jelas dia usai diskusi dan peluncuran buku Ketika Agama Bawa
Damai, Bukan Perang: Belajar dari Imam dan Pastor, (9/11) lalu.
Hak atas fotoREUTERSImage captionPilkada DKI Jakarta putaran pertama diikuti
tiga pasangan calon, dan putaran kedua dua pasangan yaitu Anies Basweda-
sandiaga Uno, Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat.
Upaya dialog
Meski pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta sudah beberapa bulan berlalu,
tetapi upaya untuk merajut toleransi masih terus dilakukan hingga kini melalui
dialog lintas agama sampai ke tingkat kecamatan, seperti disampaikan Ketua
Forum Kerukunan Umat Beragama DKI Jakarta Ahmad Syafii MUfid.
"Ya itu sudah bicara di mimbar-mimbar sudah bicara, kalau FKUB ini kita
mengadakan pertemuan sampai ke tingkat kecamatan, di tiap k ecamatan kita
kumpulkan 100an orang, sudah berjalan dan rencananya di 20 kecamatan dan
tinggal empat kecamatan yang belum."
Apa saja yang dilakukan FKUB DKI Jakarta untuk meredakan eskalasi ketegangan
pasca pilkada yang sarat dengan penggunaan isu agama dan memastikan ketegangan
itu tidak berlanjut?
"Yang dilakukan adalah bina damai, jadi agama itu mengajarkan perdamaian, agama
itu menghormati perbedaan, agama itu juga memotivasi mendorong untuk kemajuan
prog ressiveness itu ada di dalam tiap agama, bahwa grass root itu ketua RT/RW
dan tokoh-tokoh setempat itu mengerti nanti agenda yang rawan itu apa,
kerawanan itu disebabkan oleh apa dan bagaimana kita harus menyikapinya, itu
disampaikan," kata Mufid.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionSentimen agama digunakan untuk
menjatuhkan lawan politik dalam pilkada Jakarta 2017.
Mufid mengatakan selain mengajak tokoh agama dan masyarakat sampai tingkat
bawah, FKUB juga berupaya mengajak dialog pemimpin organisasi agama yang tampak
mendukung salah satu calon gubernur dalam pilkada lalu.
"Jadi orang-orang kayak gini, kalau kita musuhi itu semakin menjadi-jadi, tapi
kalau kita rangkul itu.. saya percaya bahwa kehidupan ini dimulai dari cinta,
dan harus dipelihara dengan cinta dan berakhir dengan cinta," jelas Mufid.
Ihsan Ali-Fauzi yang merupakan direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi
Universitas Paramadina (PUSAD Paramadina) menilai upaya yang dilakukan FKUB DKI
Jakarta dapat dicontoh oleh daerah lain.
"Makanya genting sekali, makanya yang dilakukan oleh Pak Syafii Mufid FKUB itu
perannya besar karena orang Indonesia itu masih mendengarkan ulama, masih
dengar agamawan, dari mulai masalah tanah ujung-ujungnya ke FKUB," jelas Ihsan.
Namun menurut Ihsan, upaya FKUB ini harus mendapatkan dukungan dari berbagai
pihak.
"Agamawan perlu melengkapi diri dengan berbagai hal, ketrampilan mengenai bina
damai mediasi, dan sebagainya. Dia perlu wawasan yang lebih lebar, dia perlu
membangun jaringan dengan orang lain, agar dia lebih berguna. Saya juga ingin
agar teman saya yang bergerak dalam bidang pluralisme kebhinekaan memperkuat
agamawan dari segi ini juga."
"Ka dang-kadang mungkin mereka kurang paham sehingga menyebarkan paham
keagamaan yang kekerasan, jangan-jangan mereka tidak punya ketrampilan yang
diperlukan untuk berperan sebaliknya."
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPengawasan di TPS dilakukan oleh
kelompok pendukung salah satu calon, yang dinamakan Tamasya Almaidah.
Agar tak berulang
Berkaca dari situasi di Jakarta, apa upaya yang dilakukan untuk mencegah
penggunaan sentimen agama dalam pilkada 2018 tidak berulang ketika pemilu
serentak 2019 mendatang?
Pengamat agama dan kekerasan, Sydney Jones, mengatakan kerja sama berbagai
kalangan diperlukan untuk mencegah penggunaan isu agama dalam pemilihan lokal
ataupun nasional.
"Mereka semua harus kerja sama apalagi menjelang pilkada, karena titik yang
paling berbahaya di Indonesia itu pada saat pilkada atau pemilu. Dan menjelang
pilkada 2018 dan pemilu 2019, banyak orang khawatir pemilu presiden bisa jadi
agak panas," kata Sydney.
Sydney meminta agar pejabat pemerintah dari tingkat pusat dan daerah tidak
menghadiri acara yang dilakukan oleh kelompok yang intoleran.
Sementara itu, Menteri agama Lukman Hakim mengatakan upaya untuk merawat
keberagaman dilakuk an melalui moderasi agama.
"Yang dimaksud dengan moderasi agama adalah paham yang moderat, artinya moderat
lawan dari ekstremitas, ekstrem itu berlebihan. Karena kalau sudah merasa
paling benar dia akan menegasikan, menafikan pihak lain yang berbeda dengan
dirinya. Nah pemahaman kurang tepat itu lalu kemudian ada pemaksaan ada
kehendak yang dipaksakan agar yang berbeda itu harus sama dengan dirinya," kata
Lukman.
Lukman mengatakan kementerian yang dipimpinnya juga melakukan upaya pengajaran
nilai-nilai keberagaman di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk mengajarkan
toleransi sejak dini.