https://nasional.tempo.co/read/1035209/sukseskan-operasi-di-papua-5-perwira-tni-tolak-naik-pangkat


Sukseskan Operasi di Papua, 5 Perwira TNI Tolak Naik Pangkat

Reporter:
Fajar Pebrianto

Editor:
Kodrat Setiawan

Minggu, 19 November 2017 19:50 WIB
<https://nasional.tempo.co/read/1035209/sukseskan-operasi-di-papua-5-perwira-tni-tolak-naik-pangkat>

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sesuai menjadi pembicara dalam
seminar antara TNI dan Ikatan Dokter Indonesia di Markas Besar TNI,
Cilangkap, Jakarta, 9 November 2017. Tempo/Syafiul Hadi

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Meski sukses dalam operasi di
Papua <https://www.tempo.co/tag/papua>, lima perwira Tentara Nasional
Indonesia (TNI) menolak kenaikan pangkat yang diberikan Panglima TNI
Jenderal Gatot Nurmantyo. Kelimanya merupakan anggota satuan tugas
pembebasan 344 warga Mimika, Papua, yang diduga dihalang-halangi
aktivitasnya oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua
Merdeka (TPN-OPM).

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer XVII/Cendrawasih Letnan Kolonel
Infantri M Aidi mengatakan bahwa lima perwira ini berkumpul dan bersepakat
untuk tidak menerima kenaikan pangkat. “Mereka lapor Pangdam dan KASAD
bahwa mereka tidak pantas menerimanya,” kata Aidi saat dihubungi Tempo di
Jakarta, Minggu, 19 November 2017.

*Baca juga: Warga Pendatang Desa Kimbely-Banti, Papua, Kembali ke Daerah
Asal
<https://nasional.tempo.co/read/1035144/warga-pendatang-desa-kimbely-banti-papua-kembali-ke-daerah-asal>*

Sebelumnya, pasukan gabungan dari TNI Polri berhasil membebaskan total
1.300 warga yang diduga aktivitasnya dihalangi TPN-OPM. Atas keberhasilan
ini, Gatot kemudian memberikan penghargaan kepada 63 prajurit yang terlibat
dalam pembebasan sandera.

Namun dari 63 prajurit, lima perwira menolak kenaikan pangkat tersebut.
Mereka, kata Aidi, memiliki prinsip bahwa keberhasilan dalam tugas adalah
hasil kerja anak buah, sedangkan kegagalan adalah tanggungjawab perwira.
“Jadi yang dinaikkan pangkat hanya prajurit tantama dan bintara.”

Namun demikian, kata Aidi, markas besar TNI tetap memberikan penghargaan
bagi kelima perwira ini berupa pendidikan khusus. Pendidikan ini diberikan
untuk melanjutkan kompetensi dan pengembangan karir yang lebih tinggi.
“Kalau dia punya kemampuan bahasa inggris yang bagus, bisa disekolahkan ke
luar negeri,” kata Aidi.

Meski TNI mengklaim terjadi penyanderaan warga Papua
<https://www.tempo.co/tag/papua>, Tentara Pembebasan Nasional Papua
Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) menyatakan hal yang berbeda. Staf
Markas Komando Daerah Militer III Timika TPN-OPM Hendrik Wanmang tegas
membantah adanya dugaan penyanderaan tersebut. “Tidak benar ada
penyanderaan,” kata Hendrik saat dihubungi Tempo di Jakarta, Minggu, 12
November 2017.

++++++++


https://cnnindonesia.com/nasional/20171119133338-20-256654/panglima-tni-beri-pangkat-luar-biasa-58-prajurit-penumpas-kkb/



Panglima TNI Beri Pangkat Luar Biasa 58 Prajurit Penumpas KKB

*Djibril Muhammad *, CNN Indonesia | Minggu, 19/11/2017 13:46 WIB

Bagikan :

Kenaikan pangkat luar biasa itu berasal dari kesatuan Batalyon Infanteri
751 Rider Jayapura, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dan Peleton Intai
Tempur (Tontaipur) Kostrad. (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)

Jakarta, CNN Indonesia -- Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo
menegaskan operasi penumpasan Kelompok Kriminal Bersenjata-Tentara
Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (KKB-TPN OPM) di wilayah
Kimbeli dan Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, pada Jumat
(17/11) semata-mata demi menyelamatkan masyarakat sipil.

"Gerakan separatis ini sudah melakukan pembunuhan. Kemudian melakukan
penyanderaan. Penyanderaan itu bukan disekap dalam satu ruangan, tetapi di
suatu lokasi dan membuat mereka tidak bisa kemana-mana, tidak mendapat
layanan apapun, baik pendidikan, kesehatan, dan lainnya," kata Jenderal
Gatot Nurmantyo di Tembagapura, Minggu (19/11).

Seperti dikutip dari *Antara*, Panglima TNI bersama sejumlah pejabat teras
Mabes TNI secara khusus datang ke Tembagapura, Timika, pada Sabtu (18/11).
Kedatangan itu dalam rangka menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa
kepada 58 prajurit TNI yang terlibat langsung dalam tim penumpasan KKB-TPN
OPM.


Para prajurit TNI yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa itu berasal
dari kesatuan Batalyon Infanteri 751 Rider Jayapura, Komando Pasukan Khusus
(Kopassus), dan Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Kostrad.

Upacara penganugerahan kenaikan pangkat luar biasa kepada puluhan prajurit
TNI itu berlangsung di Kampung Utikini Lama, Distrik Tembagapura, Minggu
pagi.
Lihat juga:

Polisi Beber Kejahatan Kelompok Bersenjata di Tembagapura
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171118132642-20-256516/polisi-beber-kejahatan-kelompok-bersenjata-di-tembagapura/>


Jenderal Gatot mengatakan, sedianya pemberian kenaikan pangkat luar biasa
itu dilaksanakan di Kampung Kimbeli atau Kampung Banti.

Namun rencana itu dibatalkan lantaran akses jalan ke dua kampung itu dalam
kondisi rusak berat lantaran digali menggunakan alat berat oleh pihak
KKB-TPN OPM, beberapa waktu lalu.

Panglima TNI menegaskan, selama ratusan warga sipil diisolasi di Kimbeli,
Banti dan area longsoran dekat Kali Kabur, warga mendapatkan perlakuan yang
tidak manusiawi dari KKB-TPN OPM.

"Para sandera juga terintimidasi, bahkan 12 wanita dilaporkan mengalami
kekerasan seksual," ujar orang nomor satu di jajaran TNI itu.

Tidak itu saja, sebagian warga sipil mengaku dijarah dan dirampas harta
bendanya.
Lihat juga:

Tim Satgas Gabungan Evakuasi 344 Sandera Kelompok Bersenjata
<https://www.cnnindonesia.com/tv/20171117191831-407-256444/tim-satgas-gabungan-evakuasi-344-sandera-kelompok-bersenjata/>


Berdasarkan data yang diterima pihak kepolisian, jumlah uang yang dirampas
mencapai Rp107,5 juta, emas hasil dulangan yang dijarah sebanyak 254,4
gram, dan sebanyak 200-an telepon genggam disita oleh KKB.

Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan, tindakan tersebut tidak bisa dibiarkan
terus berlangsung sehingga negara melalui aparat TNI dan Polri harus hadir
untuk menyelamatkan masyarakat sipil.

"Urgensinya, karena penyanderaan sudah dilakukan sejak tanggal 1 November
dan semakin hari kesehatan para sandera semakin menurun, kelaparan karena
persediaan logistik mereka sudah mulai habis sehingga harus segera diambil
tindakan tegas," ujar Panglima TNI.

Tindakan tegas itu harus segera dilakukan mengingat berbagai upaya
pendekatan telah dilakukan Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar
bersama para tokoh tapi tidak juga meluluhkan hati para anggota kelompok
separatis bersenjata itu.

"Pak Kapolda sudah menggunakan berbagai macam cara untuk negosiasi, baik
melalui tokoh gereja, tokoh masyarakat, Pemda dan semua upaya dilakukan,"
kata Gatot.

Kirim email ke