http://internasional.kompas.com/read/2017/11/20/17584121/nasa-es-di-kutub-mencair-empat-kota-di-indonesia-terancam
NASA: Es di Kutub Mencair, Empat Kota di Indonesia Terancam

Kompas.com - 20/11/2017, 17:58 WIB

[image: Ilustrasi]Ilustrasi(the-lightwriter)

*LOS ANGELES, KOMPAS.com* — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat
atau NASA telah meluncurkan perangkat internet yang bisa memperkirakan
kota-kota dunia yang terkena dampak mencairnya lapisan es.

Dengan peralatan itu bisa terlihat bagaimana perkiraan air yang mencair
dari es itu terdistribusi secara global.

"Peralatan itu memberikan—untuk setiap kota—gambaran tentang gunung es
<http://indeks.kompas.com/tag/gunung-es>, lapisan es, ataupun puncak es
yang mana yang amat penting," tutur para peneliti.

Jadi, jangan menganggap karena Indonesia
<http://indeks.kompas.com/tag/Indonesia> jauh dari kawasan gunung es, maka
tidak akan terkena dampak dari mencairnya lapisan es di Kutub Utara atau
Kutub Selatan.

*Baca juga: Es Kutub Utara Mencair, Selat Malaka Bisa Mati
<http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/08/132144726/es-kutub-utara-mencair-selat-malaka-bisa-mati->
*

Pasalnya, menurut para ilmuwan, perputaran Bumi dan efek gravitasi akan
membuat air dari gunung dan lapisan es menyebar ke seluruh dunia.

Jakarta, misalnya, berdasarkan perkiraan para ilmuwan, akan terkena dampak
peningkatan permukaan laut setinggi 1.713 milimeter.

Selain Jakarta, empat kota dan satu kawasan lain yang masuk dalam peralatan
internet yang dikembangkan Laboratorium Propulsi Jet NASA di California itu
adalah:

   -

   Banda Aceh: peningkatan permukaan air laut 1,713 mm
   -

   Jawa Timur: 1.766 mm
   -

   Makassar: 1.764 mm
   -

   Manado: 1.780 mm
   -

   Jayapura : 1.747 mm

Laporan tentang predikisi peningkatan permukaan laut tersebut sudah
diterbitkan di *Science Advances.*

"Sejalan dengan kota-kota dan negara-negara yang berupaya membangun rencana
untuk mengurangi banjir, mereka harus berpikir 100 tahun ke depan jika
ingin mengkaji risikonya dengan cara yang sama dilakukan perusahaan
asuransi," kata Dr Erik Ivins.

"Peralatan baru ini memberikan cara bagi mereka untuk melihat lapisan es
yang seharusnya paling mereka khawatirkan."

*Baca juga: Lautan Es Berubah, Beruang Kutub Semakin Terancam
<http://sains.kompas.com/read/2016/09/22/08000091/lautan.es.berubah.beruang.kutub.semakin.terancam>
*

Dengan peralatan itu, terlihat juga peningkatan permukaan air laut yang
signifikan akibat dari perubahan di lapisan es di sebelah bagian barat laut
Greenland.

Seorang ilmuwan lain, Dr Eric Larour, mengatakan, ada tiga proses utama
yang mempengaruhi "jejak permukaan laut" atau istilah untuk pola perubahan
permukaan laut di seluruh dunia.

Proses yang pertama adalah grafiti.

"Hal itu (lapisan-lapisan es) ini adalah massa besar yang mengerahkan daya
tarik ke laut," kata Dr Larour.

"Ketika es menyusut, daya tarik tersebut berkurang dan laut akan menjauh
dari massa itu."

"Sejalan dengan daya 'tarik-dorong' itu, daratan di bawah lapisan es yang
mencair akan mengembang secara vertikal, karena sebelumnya ditekan lapisan
es yang berat," tambah dia.

Faktor terakhir yang mempengaruhi adalah planet yang berputar.

"Anda bisa memikirkan Bumi yang berputar," kata Dr Larour. "Pada saat
berputar, dia bergoyang dan pada saat massa di permukaan berubah, maka
goyangannya juga berubah."

"Hal itu, pada gilirannya meredistribusi air ke seluruh Bumi."

*Baca juga: Perubahan Iklim Kutub Utara Menciptakan Zaman Baru
<http://sains.kompas.com/read/2015/05/05/05204861/Perubahan.Iklim.Kutub.Utara.Menciptakan.Zaman.Baru>
*

Dengan memperkirakan semua faktor tersebut ke dalam kalkulasi, para
peneliti mampu membangun sebuah peralatan prakiraan untuk kota-kota dunia
tersebut.

"Kami bisa menghitung kepekaan yang tepat, untuk kota tertentu, tentang
permukaan laut untuk setiap massa es di dunia," ujar Dr Larour kepada *BBC*.

Kirim email ke