Pasar Merespons Negatif Rencana Holding Tambang | | Pasar Merespons Negatif Rencana Holding... | |
- Pengamat: Holding BUMN Tambang Tak Efektif,Pemerintah Harus Kaji Ulang Senin, 20November 2017 17:44 WIB LaporanWartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pro kontra rencana pembentukkan induk usaha (holding)Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan terus bergulir. Menjelang Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS) Luar Biasa yang akan menghapus status perseroan terbatas di PT AnekaTambang (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk dan PT Bukit Asam (Persero) Tbkhari ini, Senin (29/11/2017), sejumlah pihak mulai angkat bicara terkaitmekanisme pembentukkan holding BUMN pertambangan. Kepala Pusat Studi Ekonomi danKebijakan Publik Universitas Gajah Mada, A. Tony Prasetiantono menilai, rencanapembentukkan holding pertambangan dinilai tidak akan efektif jika ditujukanuntuk meningkatkan efisiensi dan kinerja BUMN sektor tambang. Rencana pembentukkan holding itumalah akan memunculkan masalah baru. khususnya di sisi manajemen. "Sebetulnya untuk meningkatkanefesiensi manajemen BUMN tambang itu lebih tepat di-merger, bukan holding. Holding(sebetulnya) hanya transisi," ujar Tony di Gedung BEI, Sudirman, Jakarta,Senin (20/11/2017). Meski begitu Tony menyatakan, dalampelaksanaan merger dibutuhkan situasi yang kondusif untuk menunjangkeberhasilan dari tujuan yang dicapai. Karena itu dia meminta pemerintahdalam hal ini Kementerian BUMN untuk mengkaji ulang terkait implementasiholding BUMN pertambangan. "Dengan merger maka jumlahdireksi dan komisaris serta karyawan bisa dikurangi cuma kalau merger pasti adagejolak, karena akan ada pengurangan direksi dan karyawan. Cuma merger itubutuh situasi yang kondusif dan saya lihat waktunya kurang tepat saatini," tambahnya. Tony menjelaskan, desakan untukmengkaji ulang rencana pembentukkan holding BUMN pertambangan didasarkan karenaterdapat ketidakefektifan dari implementasi holding sebelumnya di sektorperkebunan dan semen. Hal ini diketahui dari tidak tercapainya tujuan utamapembentukkan holding di sektor semen dan perkebunan. "Saya tidak sreg denganholding, dan kalaupun jadi holding, hanya transisi 3 tahun untuk merger. Cobalihat, holding semen juga ngak efektif karena mereka (anak usaha SMGR) masihbawa entitas masing masing dan membawa budaya organisasi masing-masing. Jadiholding itu sekarang hanya forum rapat saja," pungkasnya.
