Jadi, holding BUMN pertambangan buru-buru dibentuk 
hanya untuk menampung divestasi 51% saham Freeport, 
perusahaan yang tinggal 4 tahun lagi selesai kontraknya.
-
Holding BUMN Tambang Resmi Terbentuk, SiapCaplok Freeport Agustiyanti,CNN 
Indonesia | Jumat, 17/11/201719:08 WIB Jakarta, CNN Indonesia --Holding Badan 
Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan telah resmiterbentuk seiring 
dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun2017 tentang 
Penambahan Penyertaan Modal Negara RI ke Dalam Saham PerusahanPerseroan 
(Persero) PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero). Denganterbentuknya holding 
tersebut, BUMN pun siap mencaplok saham yang bakaldidivestasi Freeport hingga 
memegang kepemilikan 51 persen. 

Melalui PP tersebut, Inalum resmi ditunjuk sebagai induk usaha BUMN di 
sektorpertambangan. Inalum akan membawahi PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam 
Tbk(PTBA), dan PT Timah Tbk, serta memegang saham minoritas Freeport 
yangsebelumnya ada di tangan pemerintah langsung.

"PP Sudah terbit, diundangkan 14 November kemarin. Dengan demikian,holding 
resmi terbentuk, 9,36 persen saham Freeport yang ada di pemerintah jugasaat ini 
dibawah Inalum," ujar Deputi Bidang Usaha Pertambangan, IndustriStrategis dan 
Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Fajar Harry Sampurnokepada 
CNNIndonesia.com, Jumat (17/11).

Adapun tiga BUMN tambang lainnya, yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam 
Tbk(PTBA), dan PT Timah Tbk rencananya akan menggelar Rapat Umum Pemegang 
SahamLuar Biasa (RUPSLB) pada 29 November mendatang guna meminta 
persetujuanpemegang saham terkait perubahan status ketiganya dari persero 
menjadi bukanpersero. 

"Ada administrasi yang dilakukan, surat-surat, dan akta-akta diKementerian 
Keuangan, setelah RUPSLB di 29 November," terang dia. Kendati sudah 
bukanpersero, menurut Fajar, pemerintah masih memiliki kontrol terhadap 
BUMNtersebut. Pasalnya, meski telah mengalihkan sahamnya, pemerintah masih 
memilikisatu saham seri A atau saham Dwiwarna.

"Misalnya, kalau ada penjualan saham, seperti IPO atau right issue, diatetap 
harus minta izin DPR," jelas dia.

Setelah tergabung dalam holding, menurut dia, kekuatan permodalan holding 
BUMNakan mumpuni mendanai pengambilalihan saham yang bakal didivestasi 
Freeport.Dengan demikian, menurut dia, pemerintah tak perlu lagi menambah 
permodalanBUMN tersebut. 

"Setelah itu mereka punya modal yang kuat, tidak perlu lagi ada tambahanmodal 
dari pemerintah," ungkap dia.

Adapun hingga kini negosiasi antara Freeport dan Pemerintah Indonesia 
belumrampung. Sebelumnya, ada perbedaan perhitungan terkait harga saham 
divestasiFreeport antara Menteri ESDM Ignatius Jonan dan CEO Freeport-McMoRan 
Inc.Richard C. Adkerson.

Jonan mengestimasi harga saham yang akan didivestasi Freeport sebesar 
41,46persen sekitar US$3,45 miliar atau setara Rp46,57 triliun untuk menyerap 
sisasaham Freeport sebesar 41,64 persen. Sementara itu, harga sisa saham 
Freeportyang akan didivestasi versi Adkerson mencapai US$5,41 miliar atau 
setaraRp73,08 triliun. Direktur Utama Inalum BudiGunadi Sadikin sebelumnya 
mengaku, pihaknya siap mengambil alih sisa saham yangakan didivestasi Freeport 
pasca mulai beroperasinya holding BUMN tambang. Iapun memastikan keuangan 
holding nantinya akan mumpuni guna melakukan aksikorporasi tersebut. 

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menjelaskan, penyatuan 
ketigaemiten BUMN tambang dibawah Inalum selaku holding BUMN tambang akan 
membuatBUMN memiliki kemampuan untuk mengakuisisi sisa saham yang akan 
didivestasiFreeport. 

"Mungkin ketiga emiten ini kalau digabungkan asetnya bisa mencapai sekitarRp70 
triliun hingga Rp80 triliun. Artinya, kemampuan mengakuisisi Freeport 
akanmeyakinkan," terang Alfred belum lama ini. (agi)

Kirim email ke