Untuk melihat video, click situs :

http://mediaindonesia.com/news/read/133372/pemprov-dan-dprd-dki-hamburkan-uang/2017-11-23


Pemprov dan DPRD DKI Hamburkan Uang

Kamis, 23 November 2017 06:22 WIB Penulis: *Nicky Aulia Widadio *

<http://mediaindonesia.com/files/news/2017/11/anggaran.jpg>
<http://mediaindonesia.com/files/news/2017/11/anggaran.jpg>

Input Hasil Pembahasan Banggar DPRD 2018 dalam APBD,jakarta.go.id

SEJUMLAH kalangan mengkritisi penyusun-an RAPBD DKI Jakarta 2018 yang
dinilai tidak efisien dan abai terhadap kebutuhan masyarakat.

Peneliti dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Yenny Sucipto,
mencontohkan menggelembungnya dana operasional Tim Gubernur untuk
Percepatan Pembangunan (TGUPP) dari Rp2,35 miliar menjadi Rp28,5 miliar.

"Tidak efisien. Pada saat bersamaan ada pengurangan dana penyertaan modal
daerah (PMD) bagi BUMD," kata Yenny, kemarin.

Sebelumnya, Pemprov DKI menghapuskan PMD bagi PD Dharma Jaya yang oleh
sebagian warga dikhawatirkan berdampak pada penyediaan daging bersubsidi
bagi pemegang kartu Jakarta pintar.

Anggota Komisi C DPRD DKI dari Fraksi Hanura, Ruslan Amsyari, menyangsikan
urgensi penambahan anggota TGUPP hingga 73 orang.

"Begitu besar sehingga boros dan nggak efektif. Ini belum jelas konsepnya,
tapi angkanya sudah ada di RAPBD," ujar Ruslan.

Sekretaris Komisi C dari Fraksi NasDem James Arifin Sianipar yang kemarin
memimpin Rapat Pembahasan RAPBD 2018 di Komisi C DPRD DKI menyebut tidak
tertutup kemungkinan ada tumpang-tindih kewenangan TGUPP dengan pejabat
pemprov.

"Asisten dan deputi ngapain?"

Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Agus Suradika memastikan TGUPP tidak
tumpang-tindih dengan asisten ataupun deputi gubernur.

"TGUPP tidak mewakili gubernur, tetapi hanya memberi rekomendasi dan
masukan."

Direktur Eksekutif Indonesia Budget Centre, Roy Salam, mempertanyakan
landasan hukum anggaran yang di-alokasikan untuk TGUPP.

"Jangan menghabiskan uang tapi tidak ada ouput kinerjanya. Gubernur harus
paham anggaran kinerja. Anggaran DKI yang besar bukan untuk
dihambur-hamburkan."

Di sisi lain, Roy pun kecewa dengan melonjaknya anggaran kunjungan kerja
(kunker) anggota DPRD DKI secara drastis dari Rp28,7 miliar menjadi Rp108
miliar. Menurut Roy, tantangan berat Pemprov dan DPRD DKI ialah
merencanakan anggaran berbasis kebutuhan masyarakat.

"Bagaimana penyerapan tinggi kalau perencanaan tidak berbasis kebutuhan.
Jangan karena DPRD bilang butuh lalu pemprov mengalokasikannya," ungkap Roy.

Dana kunker sebesar itu digunakan untuk kebutuhan biaya transpor, hotel,
dan uang representasi bagi 7.752 orang.

Padahal, anggota DPRD beserta pimpinan hanya 106 orang.

Sekretaris Dewan Muhammad Yuliadi mengakui kenaikan anggaran kunker itu
berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No 190/2017 tentang Biaya Perjalanan
Dinas Dalam dan Luar Negeri.

SK itu memuat ketentuan, yakni uang harian perjalanan dinas dalam negeri
sebesar Rp1,5 juta per orang per hari untuk gubernur, wakil gubernur,
pimpinan dan anggota DPRD, serta pejabat eselon I dan II.

Selain itu, ada biaya penginapan dalam negeri sekitar Rp400 ribu-Rp5,2 juta
per malam.

Wagub DKI Sandiaga Uno berharap dengan kenaikan biaya kunker itu, anggota
dewan memiliki komparasi atas kota metropolitan lain.

"Sebagai mitra kami, mereka harus punya referensi kota-kota lain."

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo masih menunggu pembahasan TGUPP oleh
DPRD DKI. Tjahjo tidak memungkiri akan merevisi usul itu.

"Bagi Kemendagri, skala prioritas tanpa mengabaikan program Pak Anies dan
Pak Sandi."

*Tonton videonya:*

Kirim email ke