https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933
Jumat 24 November 2017, 02:31 WIB
KPAI: Tak Ada Bangsa yang Besar Tanpa Peran Guru
Jabbar Ramdhani - detikNews
Share *0*
<https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#>
Tweet
<https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#>
Share *0*
<https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#>
0 komentar
<https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#>
KPAI: Tak Ada Bangsa yang Besar Tanpa Peran Guru Ketua KPAI Susanto
(tengah)/Foto: Ari Saputra
<https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#><https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#><https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#><https://news.detik.com/berita/d-3740282/kpai-tak-ada-bangsa-yang-besar-tanpa-peran-guru?_ga=2.238320576.1316002475.1511466933-935278529.1511466933#>
*Jakarta* - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto
mengatakan guru dengan peradaban masa depan tak dapat dipisahkan.
Menurutnya, sebuah bangsa tak dapat menjadi besar tanpa peran guru.
"Kondisi guru saat ini akan menghasilkan potret anak bangsa 15 tahun,
hingga ratusan tahun ke depan. Muliakan guru, agar namanya tetap harum.
Karena, tak ada bangsa yang besar tanpa peran seorang guru," kata
Susanto lewat keterangan tertulisnya, Kamis (23/11/2017).
*Baca juga: *Tanggulangi Anak Telantar, Pemerintah Keluarkan PP 44/2017
<https://news.detik.com/read/2017/11/17/172415/3731785/10/tanggulangi-anak-telantar-pemerintah-keluarkan-pp-44-2017>
Menurutnya, jika Indonesia serius mengelola guru, secara tidak langsung
kualitas generasi bangsa sedang dipersiapkan. Memperhatikan keadaan
guru, lanjutnya, ialah investasi besar untuk mencetak kehandalan anak
negeri.
"Investasi pada masa depan, (ialah) investasi pada guru. Guru adalah
investasi untuk masa depan anak untuk negara," ujarnya.
Peningkatan kesejahteraan sudah dapat dialami, salah satunya oleh guru
PNS di DKI Jakarta. Meski deimikan, masih banyak pula guru honorer dan
guru di sekolah swasta yang masih harus berjuang keras.
Mereka masih bersusah payah mendidik anak terutama di pelosok desa, jauh
dari peradaban, bahan ajar terbatas, sumber pengetahuan minim, ditambah
upah yang tak sebanding dengan perjuangannya mendidik anak negeri.
Susanto berpendapat guru-guru tersebut juga mesti mendapatkan perhatian.
*Baca juga: *Terkait Konten Pornografi, KPAI Akan Datangi Kantor
WhatsApp
<https://tv.detik.com/readvideo/2017/11/07/185646/171107054/160301456/terkait-konten-pornografi-kpai-akan-datangi-kantor-whatsapp>
"Bayangkan, saat ini masih ada guru yang pekerjaannya begitu mulia,
digaji Rp 200 – 350 ribu per bulan. Tetapi nafas perjuangannya untuk
mendidik anak tak padam. Belum tahu pasti, mengapa guru-guru ini tetap
betah mengabdi, di tengah biaya hidup yang tidak ringan. Yang pasti,
dedikasi guru-guru ini sangat besar bagi anak bangsa," tuturnya.
Susanto mengatakan, hal tersebut jadi tantangan mewujudkan guru ramah
anak. Menurutnya, faktor terbesar mewujudkan guru ramah anak ialah
kualitas cara berpikir.
Lemahnya ekonomi guru juga berdampak pada performa guru Indonesia. Hal
ini berpotensi melemahkan kualitas anak bangsa ke depan.
"Problem anak semakin kompleks, seiring dengan pesatnya perkembangan
teknologi dan informasi yang tak terbendung. Bullying, kejahatan
pornografi, trafficking, kejahatan berbasis cyber bahkan radikalisme
telah menjadi penyakit baru yang jika guru tak mampu mendeteksi dan
mencegah," ungkapnya.
*(jbr/rvk)*
kpai <https://www.detik.com/tag/kpai/> guru
<https://www.detik.com/tag/guru/>