https://www.antaranews.com/berita/667220/profesor-ipb-temukan-cacing-laut-antidiabet-alami
Profesor IPB temukan cacing laut antidiabet alami
Minggu, 26 November 2017 01:55 WIB
Seorang warga menunjukkan nyale (cacing laut) yang diperolehnya di
Pantai Seger Kute, Lombok Tengah, NTB, Kamis (24/2/2011). (ANTARA/Budi
Afandi)
Bogor (ANTARA News) - Prof Sri Purwaningsih MSi, Guru Besar Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor berhasil menggali
potensi hasil perairan cukup prospektif untuk dikembangkan salah satunya
Cacing Laut Siphonosoma australe-australe yang memiliki khasiat sebagai
antidiabet alami.
Dalam orasi ilmiah guru besar IPB di kampus Dramaga, Prof Sri
mengungkapkan cacing laut ini kebanyakan di perairan Indonesia bagian
tengah, seperti Kendari, Tual Dua dan Lombok, masyarakat memanfaatkannya
hanya untuk dijual sebagai bahan pangan, dengan harga murah Rp2.500
sampai Rp5.000 per kantong.
"Cacing laut ini belum banyak pemanfaatnya, masyarakat hanya menjualnya
seperti jualan ikan asin di pasar-pasar dengan harga murah," kata Sri.
Dari hasil penelitian yang dilakukan selama empat tahun, Prof Sri
berhasil menemukan keutamaan cacing laut, ekstraknya dapat digunakan
sebagai obat antidiabet alami.
Bahkan di China Selatan, cacing laut telah lama digunakan sebagai obat
tradisional dalam mengobati penyakit tuberkulosis, pengaturan fungsi
lambung dan limpa, serta pemulihan kesehatan yang disebabkan oleh patogen.
Hasil penelitian yang dilakukan Prof Sri menunjukkan bahwa ekstrak
Siphonosoma australe memiliki potensi sebagai antidiabetes yang
diperoleh melalui uji in vitro yang dapat menghambat aktivitas enzim
alpha glukosidae sebesar 16-24 ppm (sangat kuat).
Sedangkan hasil pengujian secara in vivo pada hewan model mampu
menurunkan kadar glukosa darah dengan konsentrasi terbaik 45 mg/kg berat
badan. Hal ini diduga berkaitan dengan adanya kandungan flavonoid dan
saponim pada ekstrak Siphonosoma australe.
"Senyawa flavonoid mempunyai mekanisme seperti obat antihiperglikemik
oral golongan sulfonilurea dalam menurunkan kadar glukosa darah pada
tikus dengan cara meningkatkan sekresi insulin," katanya.
Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa karakteristik dari kapsul
antidiabet ekstrak etanol dari cacing laut Siphonosoma australe secara
parameter fisik, kimia, mikroba, dan logam berat adalah sesuai dengan
BPOM nomor 12 Tahun 2014 terkait persyaratan mutu obat tradisional.
"Hasil uji toksisitas akut menunjukkan tidak toksit, toksisitas
preklinik selama 27 hari menunjukkan kadar SGOT dan SGPT mendekati
normal dan hewan model tetap hidup," katanya.
Menurut Prof Sri, cacing laut potensial untuk dikembangkan, target
pasarnya cacing laut tidak dijual murah lagi. Jika obat antidiabet sulit
diproduksi, maka marketnya bisa dikhususnya untuk memperbaiki sel beta
pangkreas bagi masyarakat sekitar.
Penelitian tentang cacing laut untuk obat antidiabet sudah dalam proses
pengajuan paten. Sri juga melibatkan mahasiswanya untuk mengawal
keberadaan cacing laut di tempat asalnya masing-masing, agar dapat
diproduksi.
Ia mengatakan tantangan untuk memproduksi ekstrak cacing laut sebagai
antidiabet karena belum ada yang mau membudidayakannya. Kebanyakan warga
sekitar menangkap di alam, dijual untuk dikonsumsi, rasanya kenyal
seperti kikil dan kresek kalau dimakan.
"Kandungan aktif cacing laut akan hilang kalau dimasak, lebih tinggi
kalau dijadikan ekstrak," katanya.
Melalui hasil penelitiannya Prof Sri mendorong agar masyarakat dapat
memanfaatkan cacing laut sebagai mata pencaharian lewat budi daya. Dan
industri mau melirik untuk memproduksi ekstrak cacing laut dengan sistim
maklom.
Jika masyarakat digerakkan untuk budidaya, dan industri bergerak
memproduksi. Masyarakat akan mendapat manfaat lebih besar sekedar hanya
menjual lepas begitu saja di pasar tradisional.
"Cacing laut inipun bisa dikembangkan oleh mahasiswa era millenia untuk
dipasarkan dengan kemasan menarik dengan cara start up," kata Sri.
Pewarta: Laily Rahmawati
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017