http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/15320851/komisi-ii-dpr-minta-pemerintah-tuntaskan-konflik-papua-secara-menyeluruh


Komisi II DPR Minta Pemerintah Tuntaskan Konflik Papua Secara Menyeluruh

Nabilla Tashandra

Kompas.com - 23/11/2017, 15:32 WIB


Proses evakuasi (Humas Polda Papua )



*JAKARTA, KOMPAS.com* - Wakil Ketua Komisi II DPR Lukman Edy meminta
Pemerintah Indonesia melakukan upaya proaktif yang menyeluruh untuk
menuntaskan konflik di Papua <http://indeks.kompas.com/tag/papua>.
Persoalan yang terjadi di sana tak bisa hanya diselesaikan secara sementara.

"Harus menyeluruh. Enggak bisa hanya mengirim tentara, polisi. Ini
persoalannya diselesaikan secara menyeluruh baik internal pemerintah daerah
yang ada di sana, sampai kepada diplomasi luar negeri," kata Lukman di
Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Lukman menambahkan, pihaknya sempat berkunjung le beberapa negara dan
berbincang dengan parlemen setempat. Misalnya Belanda, Belgia dan beberapa
negara di Amerika. Menurutnya, Papua memang nenjadi salah satu permasalahan
yang sedang di angkat di parlemen negara-negara tersebut.

*Baca juga : KKB di Papua Bermuatan Politik, Siapa di Belakangnya?
<http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/12152141/kkb-di-papua-bermuatan-politik-siapa-di-belakangnya>*

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu pun meminta pemerintah bisa
lebih baik dalam meningkatkan diplomasi luar negerinya.

Meski begitu, ia menilai langkah yang dipilih pemerintah untuk menolak tiga
tuntutan kelompok bersenjata adalah langkah yang tepat.

"Tuntutan itu tidak relevan. Kalau untuk internal ini langkah tepat tapi
untuk hal lain sepertinya pemerintah masih belum kelihatan upayanya," ujar
Lukman.

*Baca juga : Ini 3 Tuntutan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata di Papua
<http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/04541521/ini-3-tuntutan-kelompok-kriminal-separatis-bersenjata-di-papua>*

Ia menuturkan, sebelum operasi terpadu untuk membebaskan warga, Kapolda
Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar telah melakukan mediasi terhadap kelompok
bersenjata. Bahkan upaya mediasi sampai melibatkan kepala suku, tokoh adat
dan agama.

Namun usaha negosiasi tersebut tidak menemukan titik temu, sebab kelompok
bersenjata meminta tuntutan yang tidak masuk akal dan sulit dipenuhi.

Pertama, bubarkan Freeport. Kedua, militer Indonesia harus ditarik keluar
dari Papua dan diganti dengan pasukan Keamanan PBB. Ketiga, Pemerintah
Indonesia harus menyetujui pemilihan bebas atau referendum. Artinya rakyat
Papua bisa menentukan nasib sendiri.


+++++

http://www.tribunnews.com/nasional/2017/11/24/pemerintah-harus-lawan-permainan-para-pendukung-kelompok-separatisme-papua-di-luar-negeri


Pemerintah Harus Lawan 'Permainan' Para Pendukung Kelompok Separatisme
Papua di Luar Negeri

Jumat, 24 November 2017 04:49 WIB



*Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo*

*TRIBUNNEWS.COM <http://TRIBUNNEWS.COM>, JAKARTA* --- Intensitas acara
penggalangan dukungan terhadap kelompok separatis tersebut di luar negeri
ternyata meningkat di saat yang sama dengan kejadian aksi kelompok itu di
Papua, baru-baru ini.

Analis militer Connie Rahakundini Bakrie, menyebut hal tersebut tidak bisa
didiamkan.

Terhadap kampanye yang diakukan kelompok-kelompok di luar negeri pendukung
separatisme Papua, pemerintah Indonesia Indonesia bisa melawannya antara
lain dengan kamapnye tandingan.

Semua pihak harus diberitahu fakta sebenarnya yang terjadi, dan sudah
semaju apa Papua saat ini.

"Kita tidak bisa stop itu, tapi kita bisa meng'counter'(red: lawan) itu ,
harus. Nyatakanlah Papua itu provinsi (dengan anggaran dari pusat)
termahal. Kurang apa Indonesia dengan Papua, hal-hal ini kan tidak
diketahui dunia luar," terangnya.

Senjata yang kerap digunakan kelompok-kelompok di luar negeri pendukung
separatisme Papua, adalah HAM.

Umumnya yang mereka sasar adalah aparat TNI. Untuk mengantisipasi agar
upaya aparat dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) tidak dijadikan bahan kampanye hitam mereka, maka peranan TNI di
Papua harus digantikan oleh Polri.

"Karena yang namanya operasi ketertiban dan penegakan hukum (oleh Polisi),
tidak ada yang boleh ikut campur," katanya.

"Jadi yang turun Polri saja, bahkan kemudian suatu hari, besoknya atau
malamnya Kapolri telepon Panglima TNI minta bantuan, tetap saja yang maju
Polri," terangnya.

Kirim email ke