http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/12152141/kkb-di-papua-bermuatan-politik-siapa-di-belakangnya
KKB di Papua Bermuatan Politik, Siapa di Belakangnya? Fabian Januarius Kuwado Kompas.com - 23/11/2017, 12:15 WIB [image: Warga yang diisolasi oleh kelompok kriminal bersenjata dievakuasi dari Kampung Kimberly, Kampung Banti, menuju Tembagapura, dengan pengawalan ketat personel TNI dan Polri pada Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIT.]Warga yang diisolasi oleh kelompok kriminal bersenjata dievakuasi dari Kampung Kimberly, Kampung Banti, menuju Tembagapura, dengan pengawalan ketat personel TNI dan Polri pada Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIT. (Humas Polda Papua) *JAKARTA, KOMPAS.com* - Pengamat teroris dan intelijen dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya berpendapat, pelaku penembakan dan penyanderaan warga di Papua <http://indeks.kompas.com/tag/papua> tidak bisa dilabeli sekadar Kelompok Kriminal Bersenjata <http://indeks.kompas.com/tag/kelompok-kriminal-bersenjata> (KKB). "Alasannya, karena ada dimensi politis dari gerakan mereka," ujar Harits kepada Kompas.com Kamis (23/11/2017). Dimensi politis yang dimaksud terlihat dari tiga tuntutan mereka seperti yang diungkapkan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Pertama, bubarkan Freeport. Kedua, militer Indonesia harus ditarik keluar dari Papua dan diganti dengan pasukan Keamanan PBB. Ketiga, Pemerintah Indonesia harus menyetujui pemilihan bebas atau referendum. Artinya rakyat Papua bisa menentukan nasib sendiri. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberikan keterangan pers usai menghadiri acara Malam Akrab Musyawarah Nasional Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, Rabu (22/11/2017) malam. (KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO) (Baca juga : Ini 3 Tuntutan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata di Papua <http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/04541521/ini-3-tuntutan-kelompok-kriminal-separatis-bersenjata-di-papua> ) Kelompok kriminal bersenjata <http://indeks.kompas.com/tag/kelompok-kriminal-bersenjata>, lanjut Harits, melakukan kegiatannya untuk ekonomi semata, tidak dibumbui dengan unsur politik. "Kalau kriminal tentulah enggak berbeda jauh dengan kriminal lainnya di berbagai tempat. Sementara, mereka terorganisir, punya jaringan dalam dan luar negeri, punya agenda politik dari aksi-aksi kriminal mereka," ujar Harits. Dari tuntutan, lanjut Harits, mereka diindikasikan merupakan kelompok yang disokong beragam komponen. (Baca juga : Panglima TNI: Operasi Pembebasan Warga Papua Sesuai Hukum dan HAM <http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/05150051/panglima-tni--operasi-pembebasan-warga-papua-sesuai-hukum-dan-ham> ) "Ada orang lokal Papua yang oportunis dengan kepentingan politiknya. Orang-orang semacam ini banyak juga yang tinggal di luar negeri dan yang kedua adalah pihak asing juga perlu diwaspadai," ujar Harits. Keberadaan asing ikut bermain, lanjut Harits, terbaca dari setiap gejolak di Papua diikuti dengan suara dari beberapa negara. Mereka mendorong bahkan memberi tekanan yang target utamanya adalah lepasnya Papua dari Indonesia. "Jadi KKB adalah sejatinya OPM yang punya visi politik dan melakukan beragam perlawanan dan asing ikut bermain didalamnya," lanjut dia. ++++ http://nasional.kompas.com/read/2017/11/21/17264101/polri-siap-hadapi-perlawanan-balik-kelompok-bersenjata-di-papua Polri Siap Hadapi Perlawanan Balik Kelompok Bersenjata di Papua Ambaranie Nadia Kemala Movanita Kompas.com - 21/11/2017, 17:26 WIB Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Kamis (9/11/2017).(KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA) *JAKARTA, KOMPAS.com* - Satuan tugas terpadu dari TNI dan Brimob Polri berhasil mengevakuasi ratusan warga Kampung Kimbely dan Banti yang sempat disandera kelompok kriminal separatisme bersenjata selama beberapa hari. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, Polri mengantisipasi adanya perlawanan balik dari kelompok tersebut. "Saya mantan Kapolda Papua <http://indeks.kompas.com/tag/Papua>, saya tahu. Kita hadapi," ujar Tito saat ditemui di LIPI, Jakarta, Selasa (21/11/2017). Tito mengatakan, Polri akan melayani tantangan kelompok tersebut untuk berhadap-hadapan. Ia meyakini personel gabungan Brimob Polri dan TNI siap menghadapi mereka. "Negara Indonesia ini kekuatan TNI-Polri jauh lebih besar daripada mereka," kata Tito. (Baca juga: TNI-Polri Kembali Evakuasi 804 Sandera Kelompok Bersenjata di Papua <http://regional.kompas.com/read/2017/11/20/17021111/tni-polri-kembali-evakuasi-804-sandera-kelompok-bersenjata-di-papua> ) Proses pembebasan sandera itu sendiri didahului sebuah operasi senyap yang dilakukan Kopassus dan Tim Intai Kostrad. Sebanyak 13 personel Kopassus dan 10 personel Kostrad ini sudah mengintai lokasi penyekapan sejak lima sebelumnya. Mereka mengendap dan memantau pergerakan kelompok kriminal bersenjata yang membaur dengan warga sipil. Warga yang diisolasi oleh kelompok kriminal bersenjata dievakuasi dari Kampung Kimberly, Kampung Banti, menuju Tembagapura, dengan pengawalan ketat personel TNI dan Polri pada Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIT. (Humas Polda Papua) Upaya pembebasan 344 warga sipil terisolasi itu penuh risiko lantaran KKB terus menghujani aparat dan warga dengan tembakan dari jarak jauh. Kemudian, keesokan paginya, pasukan TNI dan Brimob bergerak menyerbu Kampung Kimbely dan Banti. Kelompok separatis bersenjata itu berhamburan menyelamatkan diri ke dalam hutan dan ke area ketinggian sambil menyerang aparat dengan tembakan bertubi-tubi. (Baca: Detik-detik Menegangkan Operasi Senyap Kopassus dan Kostrad Bebaskan Sandera di Papua <http://nasional.kompas.com/read/2017/11/19/08154191/detik-detik-menegangkan-operasi-senyap-kopassus-dan-kostrad-bebaskan-sandera> ) Setelah kelompok tersebut menghilang dari pandangan, aparat gabungan TNI dan Polri lain bergegas menuju dua kampung itu untuk membebaskan ratusan warga yang disandera. Belakangan, warga yang dievakuasi bertambah sekitar 800 orang. Mereka merupakan warga asli Kampung Banti dan Kimbely. Ratusan warga meminta dievakuasi karena menipisnya persediaan obat dan makanan.
