http://koransulindo.com/zon-dan-zen/


Zon dan Zen

51 menit lalu

BERBAGI

Facebook
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fkoransulindo.com%2Fzon-dan-zen%2F>

Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Zon+dan+Zen&url=http%3A%2F%2Fkoransulindo.com%2Fzon-dan-zen%2F&via=Koran+Sulindo>

<http://koransulindo.com/wp-content/uploads/2017/03/unjuk-rasa-islam.jpg>
Ilustrasi/bbc.co.uk

*Koran Sulindo* – Dalam pertarungan antara Joko Widodo dan mantan orang
kuat militer Prabowo Subianto, dua tokoh kunci hampir selalu luput dari
perhatian: Fadli Zon dan Kivlan Zen.

Media massa baik lokal maupun internasional, juga media sosial, cenderung
berfokus pada para pemimpin Islam dalam demonstrasi raksasa aksi bela Islam
menjelang Pilkada DKI Jakarta lalu. Nama Rizieq Syihab berkibar hingga ke
luar angkasa.

Tak banyak yang tahu, penggerak lapangan sebenarnya adalah Zon dan Zen.

Zon, kini Wakil Ketua DPR, membantu Prabowo mendirikan Partai Gerindra pada
2007 dan hingga sekarang masih menjabat sebagai wakil ketua partai. Zen
adalah pensiunan jenderal yang selalu berada di lingkaran satu Prabowo
sejak masih aktif di militer pada 1980-an. Zen adalah salah satu pendiri
milisi semi militer Pasukan Pengamanan Swakarsa (Pamswakarsa) pada 1998,
yang kemudian bermetamorfosis menjadi Front Pembela Islam (FPI).

Untuk mengetahui apakah Prabowo berada di belakang sebuah demonstrasi atau
tidak, hanya perlu memeriksa apakah Zon atau Zen terhubung dengan
demonstrasi tersebut.

Sebuah hidangan besar dipersembahkan kepada Prabowo pada April 2016, ketika
Jokowi dan konon pemikir di belakangnya, Luhut Panjaitan, mendukung
simposium para korban yang selamat dari pembantaian 1965, dan kemudian
mengumumkan pemerintah akan membentuk sebuah tim untuk mencari kuburan
massal. Bagi beberapa pengamat, Jokowi dan Luhut menunjukkan kepemimpinan
moral, membantu bangsa mencari kebenaran tentang masa lalu, membangun
rekonsiliasi, dan memastikan ekses masa lalu tidak akan terulang.

Bagi Prabowo, Jokowi dan Luhut membuka diri untuk diserang kelompok Islam
garis keras dan konservatif lainnya.

Jokowi segera menarik langkahnya ketika Kivlan Zen bersama kelompok Islam
mengkritik “rekonsiliasi” itu. Bersama mereka bergabung pula mantan Wakil
Presiden Try Sutrisno, yang sebenarnya tak pernah dekat dengan kelompok
Islam, dan beberapa tokoh militer terkemuka lainnya.

Zen memenangkan pertempuran itu, dan Jokowi dengan berat hati memindahkan
Luhut untuk mengurusi kemaritiman, dan menunjuk pensiunan Jenderal,
Wiranto, yang segera mengaborsi gagasan rekonsiliasi itu.

Mobilisasi lebih lanjut kelompok Islam terjadi pada November 2016,
ditujukan pada sekutu Jokowi yang lain: saat itu Gubernur DKI Jakarta
Basuki Purnama (Ahok).

Unjuk rasa pertama FPI sebenarnya sudah dilakukan pertengahan Oktober,
namun sepi massa dan pemberitaan. Unjuk rasa kedua, dilaksanakan sudah
lebih 5 minggu setelah pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang dituduh
menghujat Islam, baru terdengar dan diberitakan media massa setelah Fadli
Zon mengumumkan akan bergabung dalam demonstrasi tersebut.

Zen juga dikatakan menjadi salah satu pelaksana lapangan.

Unjuk rasa yang jauh lebih besar dalam jumlah massa pengikut terjadi pada 2
Desember 2016, terkenal dengan nama “Aksi Bela Islam 212”, namun menjadi
antiklimaks setelah Kivlan Zen ditangkap polisi pagi hari sebelum aksi itu
dilaksanakan dengan tuduhan makar, dan Presiden Jokowi merebut panggung di
Monas pada siang harinya.

Pada April 2017, sebagian besar berkat kerumunan besar yang dimobilisasi
oleh Zon dan Zen itu, Ahok kalah telak dalam pemilihan Gubernur Jakarta di
tangan Anies Baswedan.

Sebelumnya, kaum Islam berada di depan dan di tengah mencoba menurunkan
Ahok, tapi mereka tidak bisa tanpa dukungan politik dan, terutama,
finansial Prabowo. Sekutu utama Prabowo, taipan media Hary Tanoe, menjadi
pendukung utama kelompok Islam utama dalam barisan itu, FPI, melalui
dukungan dana dan pemberitaan positif di stasiun-stasiun TV miliknya.
Pujian pemimpin FPI untuk Hary Tanoe, seorang Tionghoa dan beragama Kristen
seperti Ahok, tidak terasa lucu waktu itu.

Pada awal 2017, saat pemilihan gubernur mendekat, Prabowo memberikan
dukungan langsung kepada kelompok Islam, mengkritik Ahok karena “memfitnah
kelompok lain.” Dan saat hasil pilkada telah keluar dan mereka menang,
Prabowo mengucapkan terima kasih kepada pemimpin FPI karena “menyelamatkan
demokrasi Indonesia.”

Sebelum November 2016, FPI hanya sedikit mendapat dukungan dari masyarakat.
Adalah aliansi dengan Prabowo yang menyebabkan FPI mampu memobilisasi
ratusan ribu orang.

Sejak September 2017, Fadli Zon dan Kivlan Zen muncul kembali dengan
menghidupkan kembali bahaya komunisme sebagai isu politik. Kivlan Zen
bergabung dengan kelompok Islam saat mereka menyerang Kantor Bantuan Hukum
Indonesia (LBH) Jakarta pada 18 September. Saat itu di tempat tersebut
sedang diadakan reuni para penyintas 1965.

Ketika kelompok Islam itu berunjuk rasa di luar gedung DPR pada 29
September lalu, dengan teriakan bahwa Jokowi menekan kelompok Islam dan
membiarkan komunisme bangkit lagi, Fadli Zon menemui para pengunjukrasa;
memberi legitimasi bagi klaim para pengunjukrasa tentang kebangkitan
komunisme itu.

Unjuk rasa pada Jokowi pada September 2017 sekali lagi dilakukan kelompok
Islam itu. Prabowo membantah mendukung kelompok Islam tersebut. Namun Zen
ada di sana saat mereka menyerang kantor LBH pada 18 September. Polisi
mengatakan kesulitan untuk menangkap penyerang karena ada Zen di sana.

Fadli Zon tidak hanya secara terbuka bersimpati dengan para pengunjuk rasa
Islam itu, beberapa hari sebelumnya ia bahkan mengipasi ketakutan akan
bahaya komunisme dan mendukung pemutaran film “Pengkhiatan G30SPKI”, film
propaganda anti-komunis yang diproduksi di zaman kekuasaan Soeharto.

Belum lama ini pemerintah Amerika Serikat membuka dokumen-dokumen rahasia
keterlibatan AS dalam pembantaian orang-orang komunis pada 1965, dan Jokowi
ditekan untuk berdamai dengan para penyintas 1965. Jika saja Jokowi
melakukan hal itu, Zon dan Zen sudah siap di sana, bergerak lagi
memobilisasi kelompok Islam dan konservatif lainnya. *[DAS; Disadur dari
tulisan Terry Russell, “Zon, Zen, and the Art of Mass Mobilization in
Indonesia
<https://thediplomat.com/2017/11/zon-zen-and-the-art-of-mass-mobilization-in-indonesia/>”
di situs The Diplomat]*

Kirim email ke