----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: @ <undefined>Terkirim: Kamis, 30 
November 2017 07.39.33 GMT+1Judul: [GELORA45] Zon dan Zen
     


http://koransulindo.com/zon-dan-zen/




Zon dan Zen

51 menit lalu 

BERBAGI 

Facebook

Twitter

Ilustrasi/bbc.co.uk

Koran Sulindo – Dalam pertarungan antara JokoWidodo dan mantan orang kuat 
militer Prabowo Subianto, dua tokohkunci hampir selalu luput dari perhatian: 
Fadli Zon dan Kivlan Zen.

Media massa baik lokal maupun internasional, juga media sosial,cenderung 
berfokus pada para pemimpin Islam dalam demonstrasi raksasaaksi bela Islam 
menjelang Pilkada DKI Jakarta lalu. Nama RizieqSyihab berkibar hingga ke luar 
angkasa.

Tak banyak yang tahu, penggerak lapangan sebenarnya adalah Zon danZen.

Zon, kini Wakil Ketua DPR, membantu Prabowo mendirikan PartaiGerindra pada 2007 
dan hingga sekarang masih menjabat sebagai wakilketua partai. Zen adalah 
pensiunan jenderal yang selalu berada dilingkaran satu Prabowo sejak masih 
aktif di militer pada 1980-an. Zenadalah salah satu pendiri milisi semi militer 
Pasukan PengamananSwakarsa (Pamswakarsa) pada 1998, yang kemudian 
bermetamorfosismenjadi Front Pembela Islam (FPI).

Untuk mengetahui apakah Prabowo berada di belakang sebuahdemonstrasi atau 
tidak, hanya perlu memeriksa apakah Zon atau Zenterhubung dengan demonstrasi 
tersebut.

Sebuah hidangan besar dipersembahkan kepada Prabowo pada April2016, ketika 
Jokowi dan konon pemikir di belakangnya, LuhutPanjaitan, mendukung simposium 
para korban yang selamat daripembantaian 1965, dan kemudian mengumumkan 
pemerintah akan membentuksebuah tim untuk mencari kuburan massal. Bagi beberapa 
pengamat,Jokowi dan Luhut menunjukkan kepemimpinan moral, membantu 
bangsamencari kebenaran tentang masa lalu, membangun rekonsiliasi, 
danmemastikan ekses masa lalu tidak akan terulang.

Bagi Prabowo, Jokowi dan Luhut membuka diri untuk diserangkelompok Islam garis 
keras dan konservatif lainnya.

Jokowi segera menarik langkahnya ketika Kivlan Zen bersamakelompok Islam 
mengkritik “rekonsiliasi” itu. Bersama merekabergabung pula mantan Wakil 
Presiden Try Sutrisno, yang sebenarnyatak pernah dekat dengan kelompok Islam, 
dan beberapa tokoh militerterkemuka lainnya.

Zen memenangkan pertempuran itu, dan Jokowi dengan berat hatimemindahkan Luhut 
untuk mengurusi kemaritiman, dan menunjuk pensiunanJenderal, Wiranto, yang 
segera mengaborsi gagasan rekonsiliasi itu.

Mobilisasi lebih lanjut kelompok Islam terjadi pada November 2016,ditujukan 
pada sekutu Jokowi yang lain: saat itu Gubernur DKI JakartaBasuki Purnama 
(Ahok).

Unjuk rasa pertama FPI sebenarnya sudah dilakukan pertengahanOktober, namun 
sepi massa dan pemberitaan. Unjuk rasa kedua,dilaksanakan sudah lebih 5 minggu 
setelah pidato Ahok di KepulauanSeribu yang dituduh menghujat Islam, baru 
terdengar dan diberitakanmedia massa setelah Fadli Zon mengumumkan akan 
bergabung dalamdemonstrasi tersebut.

Zen juga dikatakan menjadi salah satu pelaksana lapangan.

Unjuk rasa yang jauh lebih besar dalam jumlah massa pengikutterjadi pada 2 
Desember 2016, terkenal dengan nama “Aksi Bela Islam212”, namun menjadi 
antiklimaks setelah Kivlan Zen ditangkap polisipagi hari sebelum aksi itu 
dilaksanakan dengan tuduhan makar, danPresiden Jokowi merebut panggung di Monas 
pada siang harinya.

Pada April 2017, sebagian besar berkat kerumunan besar yangdimobilisasi oleh 
Zon dan Zen itu, Ahok kalah telak dalam pemilihanGubernur Jakarta di tangan 
Anies Baswedan.

Sebelumnya, kaum Islam berada di depan dan di tengah mencobamenurunkan Ahok, 
tapi mereka tidak bisa tanpa dukungan politik dan,terutama, finansial Prabowo. 
Sekutu utama Prabowo, taipan media HaryTanoe, menjadi pendukung utama kelompok 
Islam utama dalam barisanitu, FPI, melalui dukungan dana dan pemberitaan 
positif distasiun-stasiun TV miliknya. Pujian pemimpin FPI untuk Hary 
Tanoe,seorang Tionghoa dan beragama Kristen seperti Ahok, tidak terasa 
lucuwaktu itu.

Pada awal 2017, saat pemilihan gubernur mendekat, Prabowomemberikan dukungan 
langsung kepada kelompok Islam, mengkritik Ahokkarena “memfitnah kelompok 
lain.” Dan saat hasil pilkada telahkeluar dan mereka menang, Prabowo 
mengucapkan terima kasih kepadapemimpin FPI karena “menyelamatkan demokrasi 
Indonesia.”

Sebelum November 2016, FPI hanya sedikit mendapat dukungan darimasyarakat. 
Adalah aliansi dengan Prabowo yang menyebabkan FPI mampumemobilisasi ratusan 
ribu orang.

Sejak September 2017, Fadli Zon dan Kivlan Zen muncul kembalidengan 
menghidupkan kembali bahaya komunisme sebagai isu politik.Kivlan Zen bergabung 
dengan kelompok Islam saat mereka menyerangKantor Bantuan Hukum Indonesia (LBH) 
Jakarta pada 18 September. Saatitu di tempat tersebut sedang diadakan reuni 
para penyintas 1965.

Ketika kelompok Islam itu berunjuk rasa di luar gedung DPR pada 29September 
lalu, dengan teriakan bahwa Jokowi menekan kelompok Islamdan membiarkan 
komunisme bangkit lagi, Fadli Zon menemui parapengunjukrasa; memberi legitimasi 
bagi klaim para pengunjukrasatentang kebangkitan komunisme itu.

Unjuk rasa pada Jokowi pada September 2017 sekali lagi dilakukankelompok Islam 
itu. Prabowo membantah mendukung kelompok Islamtersebut. Namun Zen ada di sana 
saat mereka menyerang kantor LBH pada18 September. Polisi mengatakan kesulitan 
untuk menangkap penyerangkarena ada Zen di sana.

Fadli Zon tidak hanya secara terbuka bersimpati dengan parapengunjuk rasa Islam 
itu, beberapa hari sebelumnya ia bahkanmengipasi ketakutan akan bahaya 
komunisme dan mendukung pemutaranfilm “Pengkhiatan G30SPKI”, film propaganda 
anti-komunis yangdiproduksi di zaman kekuasaan Soeharto.

Belum lama ini pemerintah Amerika Serikat membuka dokumen-dokumenrahasia 
keterlibatan AS dalam pembantaian orang-orang komunis pada1965, dan Jokowi 
ditekan untuk berdamai dengan para penyintas 1965.Jika saja Jokowi melakukan 
hal itu, Zon dan Zen sudah siap di sana,bergerak lagi memobilisasi kelompok 
Islam dan konservatif lainnya.[DAS; Disadur dari tulisan Terry Russell, 
“Zon,Zen, and the Art of Mass Mobilization in Indonesia” di situsThe Diplomat]






    

Kirim email ke