Bukankah bagi satu NEGARA BERDAULAT, berhak menentukan sendiri ketentuan yang 
berlaku bagi setiap PERUSHAAN ada berapa% dan syarat BURUH-Asing yang harus 
dipenuhi untuk bekerja dinegerinya?! Kenapa sepertinya RI tidak berani menuntut 
NEGARA Asing mentaati ketentuan yang telah dibuatnya dengan menegaskan akan 
berlakukan HUKUM yang berlaku, entah dengan denda majikan, pemodal asing itu 
sebesar-besarnya dan memulangkan buruh-asing yang melanggar ketentuan saja!

Berkenan atau tidak modal asing itu, ... yang berhak menentukan adalah RI 
sendiri! Kenapa harus main sentil menyentil begitu, ...!!! Kenapa masalah 
dibawa masuknya PEKERJA/BURUH dari Tiongkok yang dianggap BERLEBIH dan 
melanggar HUKUM RI itu tidak DIRUNDINGKAN saja secara baik-baik, dimana 
masalahnya dan kenapa mereka PERLU membawa BURUH begitu banyak? Perundingan itu 
jauh lebih baik daripada ajukan PROTES dengan menyentil saja! Hanya dengan 
perundingan secara baik-baik bisa mendapatkan pemecahan, pengertian dengan 
mempertahankan KEPENTINGAN, KEUNTUNGAN dan KEMENANGAN bersama lebih baik lagi, 
... Sekaligus menguji sampai dimana komitmen dan ketegasan RRT dalam 
menjalankan strategi “Satu Jalur Satu Jalan” yang katanya berprinsip, “SALING 
MENGUNTUNGKAN dan MENANG BERSAMA” itu!


Salam,
ChanCT


---------- Forwarded message ----------
From: Jaya Suprana <[email protected]>
Date: 2017-11-30 20:41 GMT+07:00
Subject: Re: Sentil Wakil PM Tiongkok, JK: Jangan Biasakan Begitu
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: Group Diskusi Kita <[email protected]>, alumnas-oot 
<[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, Group Reboan IP 
<[email protected]>



Atas nama para pekerja Indonesia, saya ucapkan terima kasih kepada JK atas 
keberanian  menyatakan yang benar sebagai benar dan yang tidak benar sebagai 
tidak benar ! "Ngono yo ngono ning ojo ngono" memang sulit diterjemahkan ke 
dalam bahasa China namun bukan berarti pemerintah China dapat berbuat sesuka 
hati mereka di negeri orang lain . Bagaimana jika sebaliknya lalu apakah mereka 
berkenan ? Salam hormat dari jaya suprana

Pada 30 November 2017 04.57, Salim Said <[email protected]> menulis:


  ---------- Forwarded message ----------
  From: Chan CT <[email protected]>
  Date: 2017-11-29 13:27 GMT+07:00
  Subject: Sentil Wakil PM Tiongkok, JK: Jangan Biasakan Begitu
  To: GELORA_In <[email protected]>



  Sentil Wakil PM Tiongkok, JK: Jangan Biasakan Begitu
  RABU, 29 NOV 2017 05:52 | EDITOR : IMAM SOLEHUDIN




   
  Wakil Presiden Jusuf Kalla (Dok.Jawapos)


  Berita Terkait
    a.. Idrus Marham Temui JK, Mereka Bicarakan Masalah Ini 
    b.. Wapres Jusuf Kalla Sarankan Novanto Taat Hukum dan Tidak Mengada-ada 
    c.. Masyarakat Puas Kinerja Jokowi-JK karena Infrastruktur di Luar Jawa
  JawaPos.com - Membanjirnya tenaga kerja asing asal Tiongkok rupanya mendapat 
perhatian serius Wakil Presiden Jusuf Kalla.

  JK-sapaannya- tahu bahwa Tiongkok kerap membawa warganya, ketika menggarap 
proyek-proyek investasi mereka di Indonesia.

  Menurut JK, belajar dari pengalaman masa lalu, datangnya arus besar pekerja 
Tiongkok telah merugikan tenaga kerja dalam negeri.

  "Sekarang kan kalau ada investasi Tiongkok itu, ribuan dia bawa (pekerja). 
Saya bilang jangan begitu," ujar JK saat menerima Wakil Perdana Menteri (PM) 
Tiongkok, Liu Yandong, di Istana Wakil Presiden, dilansir RMOl (Jawa Pos Grup), 
kemarin.

  Dia menjelaskan, solusi yang dinilai sama-sama menguntungkan adalah 
penggunaan tenaga kerja Indonesia.

  Dimana, tenaga kerja domestik pertama-tama diberi kemampuan terlebih dahulu 
supaya memiliki kompetensi sesuai standar mereka.

  Pemerintah Tiongkok, kata JK, diharapkan bisa melaksanakannya untuk 
proyek-proyek investasi mereka selanjutnya.

  "Harus dilatih dulu. Bisa dilatih di Indonesia, bisa dilatih di China 
tenaga-tenaga (kerja) kita. Dan dia setuju (wakil PM China) menggunakan 
tahap-tahap itu," pungkas.

  (mam/jpg/JPC)
  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].

  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.



  -- 
  You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Grup Independen" group.
  To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an 
email to [email protected].
  To post to this group, send email to [email protected].
  To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/CAJKLYGaG6bijf6ZK5B9QiQcZMmRaTkSGpcG00fqCZ40JPVmu%3Dg%40mail.gmail.com.
  For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.



-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Grup 
Independen" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/CALcuTPR2L7PbORbc1ZHAovZNBiz-EM_iyEkgZ-Y7-7fKZjyARQ%40mail.gmail.com.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke