"Demokrasi ini hanya menjadi sarana bagi oligarki untuk mengawinkan politik 
dan kepentingan bisnis mereka. Demokrasi ini juga ditunggangi oleh pasar, 
sehingga berbiaya tinggi dan mencegat rakyat banyak untuk melakukan partisipasi 
politik secara luas."

Itu sebabnya Soekarno memilih model terpimpin, demokrasi terpimpin. 
Maklum, secara alamiah kepemimpinan senantiasa dibutuhkan usia muda. 
Bukan saja oleh suatu republik tetapi juga setiap makhluk, termasuk 
manusia. 

Juga, boleh jadi sekarang semakin banyak yang tidak percaya demokrasi. 
Ya rapopolah kalau sebatas tidak percaya. Yang menggelikan adalah mereka 
yang gembar-gembor demokrasi sambil menginjak-injak prinsip demokrasi. 
Bukan cuma yang substansial (yang menimbulkan 5 krisis) bahkan yang 
prosedural pun diakali. Mosok cuma dapat 37% suara lantas dijadikan presiden 
atas seluruh (100%) Rakyat. 

"No one pretends that democracy is perfect or all-wise. Indeed it has been said 
that democracy is the worst form of Government except for all those other forms 
that have been tried from time to time.…"- WS Churchill

"Para penguasa berlindung dibalik demokrasi, membodohi tanpa peduli hanya untuk 
kepentingan diri sendiri, apa yang diucapkan tidak sama dengan yang 
dilaksanakan, 
korupsi dihalalkan hanya untuk kepentingan perjuangan pengabadian kekuasaan, 
undang-undang diciptakan hanya untuk memudahkan jalan persekongkolan, lantas 
pada siapa kita harus protes kalau tidak lari ke jalan-jalan, itupun lambat 
laun akan 
dilarang."- WS Rendra
--- j.gedearka@... wrote:
   
http://www.berdikarionline.com/ini-5-krisis-yang-ditakuti-sukarno-sudah-terjadi-sekarang/
   
Ini 5 Krisis Yang Ditakuti Sukarno, Sudah Terjadi Sekarang?
  share on:FacebookTwitter Google +  Tahun 1952, saat peringatan HUT Proklamasi 
Kemerdekaan ke-7, Presiden Sukarno menyampaikan banyak kekhawatiran. Terutama 
terkait situasi ekonomi, politik dan keamanan yang merundung Republik muda yang 
baru merdeka. 
Republik muda ini belum sembuh dari luka-luka yang diwariskan oleh ratusan 
tahun kolonialisme. Juga luka-luka yang disebabkan oleh 4 tahun revolusi fisik 
mempertahankan kemerdekaan dari agresi kolonial Belanda. 
Disamping itu, Republik muda ini diguncang sejumlah pemberontakan bersenjata. 
Ada pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di kepulauan Maluku. Ada 
gerombolan DI/TII yang ingin mendirikan “Darul Islam” di Aceh, Jawa Tengah, 
Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. 
Ada gerombolan Bambu Runcing yang mengacau Jakarta. Kemudian ada gerilyawan 
kiri Merapi-Merbabu Complex (MMC) di sekitar pegunungan Merapi dan Merbabu. 
Kemudian ada pemberontakan Andi Azis di Makassar. 
Tetapi, terlepas dari berbagai persoalan itu, ada masalah besar yang lebih 
mengkhawatirkan Sukarno, yakni krisis yang bisa mengancam eksistensi Republik 
Indonesia. 
Di pidato itu Sukarno membeberkan 5 krisis yang mengancam keberlangsungan 
Republik, yaitu: krisis politik, krisis alat-alat kekuasaan Negara, krisis cara 
berpikir, krisis moril, dan krisis gezag. 
Krisis politik terjadi ditandai dengan kondisi politik yang terus gaduh, tidak 
pernah stabil, dan semakin banyak orang yang tidak percaya pada jalan 
demokrasi. 
Krisis alat-alat kekuasaan Negara terjadi manakala mesin-mesin dan aparatusnya 
tidak bisa berfungsi efektif. Malahan terjadi pemborosan dan korupsi. 
Krisis cara berpikir terjadi manalaka sebagian besar manusia Indonesia, 
terutama penyelenggara Negara, kehilangan daya pikir untuk menyelesaikan atau 
menjawab berbagai persoalan. Pikirannya mandeg dan cenderung status-quo. 
Padahal, untuk berkembang maju, bangsa ini butuh pikiran progressif, inovatif, 
dan solutif. 
Krisis moral mengacu pada turunnya semangat patriotik dan kesadaran nasional 
setiap anggota bangsa, terutama para penyelenggara negara dan aparatusnya. 
Mulai dijangkiti penyakit ego-sentris dan kepentingan yang berorentasi sempit. 
Dan yang paling dikhawatirkan Sukarno adalah krisis gezag atau turunnya wibawa 
Kekuasaan. Ini ditandai dengan meluasnya pembangkangan atau pengabaiaan 
terhadap eksistensi kekuasaan Negara, mulai dari pemerintahan hingga 
hukum-hukumnya. 
Kalau konteks sekarang, krisis gezag itu mengejawantah pada meluasnya aksi 
“main hakim sendiri”. Ini menunjukkan bahwa orang tidak percaya lagi pada 
pengadilan sebagai tempat menyelesaikan sengketa atau masalah hukum. Juga tidak 
percaya bahwa hukum bisa memberi putusan yang adil. 
Pertanyannya, apakah krisis-krisis itu juga menghinggapi Indonesia sekarang 
ini? 
Yang jelas, politik Indonesia hari-hari ini sangat gaduh dan penuh umbaran 
caci-maki. Persaingan politik para elit telah mempolarisasi rakyat kita sangat 
tajam. Bukan karena alasan ideologis maupun visi politik, melainkan karena 
loyalitas membabi-buta pada elit masing-masing. 
Alat-alat kekuasaan Negara juga belum berfungsi efektif. Ada menggunung 
kekecewaan terhadap alat kekuasaan negara, baik terhadap legislatif, eksekutif, 
maupun yudikatif, karena gagal merealisasikan kehendak rakyat. Selain itu, 
alat-alat kekuasaan itu masih dijangkiti penyakit korupsi. 
Namun, yang cukup mengancam dan mulai tampak hari ini adalah krisis gezag. 
Akibat polarisasi politik yang tajam, yang pembelahannya berdasarkan politik 
suka (lovers) dan benci (haters), orang tidak segan-segan mengumbar caci-maki 
terhadap simbol-simbol kekuasaan Negara. 
Juga makin banyak yang tidak percaya pada demokrasi. Penyebabnya, sejak 
reformasi hingga sekarang, demokrasi liberal yang berlaku di Negara ini gagal 
mengartikulasikan aspirasi dan kehendak rakyat. 
Demokrasi ini hanya menjadi sarana bagi oligarki untuk mengawinkan politik dan 
kepentingan bisnis mereka. Demokrasi ini juga ditunggangi oleh pasar, sehingga 
berbiaya tinggi dan mencegat rakyat banyak untuk melakukan partisipasi politik 
secara luas. 
Ironisnya, kekecewaan terhadap demokrasi ini telah ditunggangi oleh kelompok 
“abad pertengahan” untuk menyuarakan penolakan terhadap demokrasi, sembari 
memuja-muja teokrasi dan absolutisme. 
Ketidakpercayaan terhadap demokrasi sangat berbahaya, sebab memberi tempat pada 
penggunaan kekerasan, bahkan fasisme, untuk tampil di gelanggang politik.
 Bagaskara Wicaksono 

Kirim email ke