http://www.berdikarionline.com/ini-5-krisis-yang-ditakuti-sukarno-sudah-terjadi-sekarang/
Ini 5 Krisis Yang Ditakuti Sukarno, Sudah Terjadi Sekarang?
share on:Facebook
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fini-5-krisis-yang-ditakuti-sukarno-sudah-terjadi-sekarang%2F>Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Ini+5+Krisis+Yang+Ditakuti+Sukarno%2C+Sudah+Terjadi+Sekarang%3F&url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fini-5-krisis-yang-ditakuti-sukarno-sudah-terjadi-sekarang%2F&via=Berdikari+Online>
Google +
<http://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fini-5-krisis-yang-ditakuti-sukarno-sudah-terjadi-sekarang%2F>
*Tahun 1952, saat peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-7, Presiden
Sukarno menyampaikan banyak kekhawatiran. Terutama terkait situasi
ekonomi, politik dan keamanan yang merundung Republik muda yang baru
merdeka.*
Republik muda ini belum sembuh dari luka-luka yang diwariskan oleh
ratusan tahun kolonialisme. Juga luka-luka yang disebabkan oleh 4 tahun
revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan dari agresi kolonial Belanda.
Disamping itu, Republik muda ini diguncang sejumlah pemberontakan
bersenjata. Ada pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di kepulauan
Maluku. Ada gerombolan DI/TII yang ingin mendirikan “Darul Islam” di
Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Ada gerombolan Bambu Runcing yang mengacau Jakarta. Kemudian ada
gerilyawan kiri /Merapi-Merbabu Complex/ (MMC) di sekitar pegunungan
Merapi dan Merbabu. Kemudian ada pemberontakan Andi Azis di Makassar.
Tetapi, terlepas dari berbagai persoalan itu, ada masalah besar yang
lebih mengkhawatirkan Sukarno, yakni krisis yang bisa mengancam
eksistensi Republik Indonesia.
Di pidato itu Sukarno membeberkan 5 krisis yang mengancam
keberlangsungan Republik, yaitu: krisis politik, krisis alat-alat
kekuasaan Negara, krisis cara berpikir, krisis moril, dan krisis /gezag/.
Krisis politik terjadi ditandai dengan kondisi politik yang terus gaduh,
tidak pernah stabil, dan semakin banyak orang yang tidak percaya pada
jalan demokrasi.
Krisis alat-alat kekuasaan Negara terjadi manakala mesin-mesin dan
aparatusnya tidak bisa berfungsi efektif. Malahan terjadi pemborosan dan
korupsi.
Krisis cara berpikir terjadi manalaka sebagian besar manusia Indonesia,
terutama penyelenggara Negara, kehilangan daya pikir untuk menyelesaikan
atau menjawab berbagai persoalan. Pikirannya mandeg dan cenderung
status-quo. Padahal, untuk berkembang maju, bangsa ini butuh pikiran
progressif, inovatif, dan solutif.
Krisis moral mengacu pada turunnya semangat patriotik dan kesadaran
nasional setiap anggota bangsa, terutama para penyelenggara negara dan
aparatusnya. Mulai dijangkiti penyakit ego-sentris dan kepentingan yang
berorentasi sempit.
Dan yang paling dikhawatirkan Sukarno adalah krisis /gezag/ atau
turunnya wibawa Kekuasaan. Ini ditandai dengan meluasnya pembangkangan
atau pengabaiaan terhadap eksistensi kekuasaan Negara, mulai dari
pemerintahan hingga hukum-hukumnya.
Kalau konteks sekarang, krisis /gezag/ itu mengejawantah pada meluasnya
aksi “main hakim sendiri”. Ini menunjukkan bahwa orang tidak percaya
lagi pada pengadilan sebagai tempat menyelesaikan sengketa atau masalah
hukum. Juga tidak percaya bahwa hukum bisa memberi putusan yang adil.
Pertanyannya, apakah krisis-krisis itu juga menghinggapi Indonesia
sekarang ini?
Yang jelas, politik Indonesia hari-hari ini sangat gaduh dan penuh
umbaran caci-maki. Persaingan politik para elit telah mempolarisasi
rakyat kita sangat tajam. Bukan karena alasan ideologis maupun visi
politik, melainkan karena loyalitas membabi-buta pada elit masing-masing.
Alat-alat kekuasaan Negara juga belum berfungsi efektif. Ada menggunung
kekecewaan terhadap alat kekuasaan negara, baik terhadap legislatif,
eksekutif, maupun yudikatif, karena gagal merealisasikan kehendak
rakyat. Selain itu, alat-alat kekuasaan itu masih dijangkiti penyakit
korupsi.
Namun, yang cukup mengancam dan mulai tampak hari ini adalah krisis
/gezag/. Akibat polarisasi politik yang tajam, yang pembelahannya
berdasarkan politik suka (lovers) dan benci (haters), orang tidak
segan-segan mengumbar caci-maki terhadap simbol-simbol kekuasaan Negara.
Juga makin banyak yang tidak percaya pada demokrasi. Penyebabnya, sejak
reformasi hingga sekarang, demokrasi liberal yang berlaku di Negara ini
gagal mengartikulasikan aspirasi dan kehendak rakyat.
Demokrasi ini hanya menjadi sarana bagi oligarki untuk mengawinkan
politik dan kepentingan bisnis mereka. Demokrasi ini juga ditunggangi
oleh pasar, sehingga berbiaya tinggi dan mencegat rakyat banyak untuk
melakukan partisipasi politik secara luas.
Ironisnya, kekecewaan terhadap demokrasi ini telah ditunggangi oleh
kelompok “abad pertengahan” untuk menyuarakan penolakan terhadap
demokrasi, sembari memuja-muja teokrasi dan absolutisme.
Ketidakpercayaan terhadap demokrasi sangat berbahaya, sebab memberi
tempat pada penggunaan kekerasan, bahkan fasisme, untuk tampil di
gelanggang politik.
*Bagaskara Wicaksono *