http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184924



Pembangunan di Papua digalakkan Jokowi, tapi mengapa aspirasi merdeka tetap
hidup?

Rohmatin Bonasir Wartawan BBC Indonesia

   -

   9 jam lalu

Hak atas foto Reuters Image caption Tentara dan petugas membantu evakuasi
warga dari dua desa di Kabupaten Mimika, Papua, yang sempat dikuasai oleh
kelompok bersenjata.

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo berusaha menggenjot
pembangunan di Papua, yang terdiri dari Provinsi Papua dan Provinsi Papua
Barat, terutama lewat proyek infrastruktur.

Namun pendekatan tersebut dianggap tidak manjur untuk mengatasi tuntutan
pemisahan diri Papua dari bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik
di Papua sendiri maupun di luar negeri.

"Saya pikir pemerintah terlalu menggampangkan masalah Papua. Pemerintah
melihat Papua itu hanya dari aspek pembangunan ekonomi, infrastruktur dan
lainnya. Mereka mengabaikan fakta bahwa ada perbedaan pandangan yang tajam
terkait dengan sejarah Papua," kata Ketua II Dewan Adat Papua, Fadal Al
Hamid, dalam wawancara melalui telepon, Kamis (30/11.

   -

   Benny Wenda: Otsus tidak pernah ubah rakyat Papua
   
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/12/141128_papua_separatis_tanya_jawab>
   -

   Pemerintah Indonesia 'tak bisa' cegah negara Pasifik angkat isu Papua di
   PBB <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41764268>
   -

   Klaim bahwa petisi referendum Papua 'sudah diserahkan kepada PBB di New
   York' dibantah <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41415732>

Sejarah Papua yang dimaksud adalah Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun
1969, penentuan pendapat yang hasilnya menyebutkan rakyat Papua menghendaki
sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia.

"Pemerintah menganggap masalah ini sudah selesai, sementara sebagian rakyat
Papua menganggap bahwa apa yang terjadi di tahun 1969 adalah aneksasi bukan
proses integrasi."
Dukungan internasional 'semakin luas'

Oleh karenanya, lanjut Fadal Al Hamid, aspirasi merdeka tetap hidup
meskipun pembangunan digalakkan di Papua, termasuk menggelontorkan dana
otonomi khusus sekitar Rp7 triliun untuk tahun 2017, belum termasuk
dana-dana lain.

"Teriakan-teriakan merdeka itu bukan mereda tetapi sebenarnya dibungkam,
tetapi bahwa di luar, eskalasinya sangat tinggi sekali. Artinya, ada
kampanye dan dukungan-dukungan internasional semakin luas dan semakin
terbuka," jelasnya.

Hak atas foto Reuters Image caption Warga Papua, kata Suryadi Diaz, merasa
tanah mereka kaya akan tambang tapi mereka sendiri miskin sehingga
menimbulkan ketidakpuasan.

Fenomena itu, menurutnya, bertolak belakang dengan maksud pemerintah pusat
yang hendak meredam tuntutan pemisahan diri. Pembangunan infrastruktur
diharapkan dapat mendongkrat pengembangan ekonomi di daerah tertinggal itu
sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masayarakat.

Dan pada akhirnya, peningkatan kesejahteraan diharapkan dapat meredam
tuntutan pemisahan diri dari Republik Indonesia.

Namun, menurut Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat Hubungan Masyarakat
Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Polisi Suryadi Diaz,
berdasarkan pemantauan di lapangan tidak benar jika dikatakan bahwa
tuntutan pemisahan diri di Papua meningkat belakangan.

"Ini hanya kelompok tertentu dan orang-orang tertentu. Kalau pada umumnya
di sini tidak ada yang menyetujui itu. Hanya kelompok tertentu dan
orang-orang tertentu yang merasa, katakanlah, mereka menganggap tidak adil
karena memiliki tanah yang subur dan mempunyai tambang emas di dalamnya
tapi mereka miskin," tegasnya.
Dialog Papua

Pendekatan pembangunan ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat Papua, kata
Fadal Al Hamid, memang sahih dilakukan tetapi harus dibarengi dengan
terobosan politik menyangkut sejarah Papua melalui dialog yang sejati.

Hak atas foto Dr. Velix Wanggai Image caption Dr Velix Wanggai menilai
ruang dialog yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo sudah waktunya
dioptimalkan.

"Dialog itu harus ada pihak ketiga yang memediasi, orang Papua dan
pemerintah Indonesia duduk dalam satu meja untuk membicarakan hal-hal yang
dianggap tabu selama ini dan berusaha untuk menemukan solusi-solusi apa
yang bisa dilakukan bersama."

Staf khusus presiden RI tahun 2009-2014 untuk urusan Papua, yang kini
menjadi Perencana Pengembangan Wilayah Tertinggal di Bappenas, Dr. Velix
Wanggai, mengakui pemerintah mempunyai tugas berat dalam mengelola isu
pelurusan sejarah menjadi final.

Bagaimanapun Presiden Joko Widodo sudah menyarankan agar dialog masalah
Papua terus dibangun dan ruang itu seharusnya dimanfaatkan.

"Kami melihat bahwa dari satu sisi Perpera adalah sebuah fakta hukum bahwa
itu sudah final dalam konteks persepsi pemerintah tetapi sebagian dari
sudara-saudara kita masih menghendaki pelurusan sejarah," jelasnya dalam
wawancara melalui telepon, Kamis (30/11).

"Kita, pemerintah sudah saatnya untuk terbuka tentang berbagai persoalan
yang dianggap politik atau yang krusial dalam konteks agenda pelurusan
sejarah Papua tetapi juga dalam konteks menyelesaikan fenomena
internasionalisasi isu Papua di berbagai forum dunia maupun forum regional."

Hak atas foto Reuters Image caption Juru bicara Gerakan Persatuan
Pembebasan untuk Papua Barat, Benny Wenda, mengaku telah menyerahkan petisi
referendum Papua kepada Komite Dekolonisasi PBB.

Di antara upaya internasionalisasi Papua di kancah internasional termasuk
'penyerahan' petisi tentang referendum -yang diklaim dudukung oleh sekitar
1,8 juta warga Papua- kepada Komite Dekolonisasi PBB.

Namun Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York membantah
petisi secara sah diserahkan kepada komite itu pada akhir September.

Dengan petisi itu, diharapkan, antara lain, bahwa Papua masuk kembali dalam
daftar di Komite Dekolonisasi PBB, setelah dikeluarkan dari daftar tahun
1963 menyusul langkah yang disebut sebagai invasi atau integrasi Indonesia.

Di dalam wilayah Papua dan sebagian kota-kota lain di Indonesia, biasa
digelar protes menuntut referendum kemerdekaan.

Sejumlah kelompok masyarakat sipil Papua rencananya hari ini, Jumat (01/12)
akan menggelar doa bersama di Papua untuk memperingati hari yang
diperingati setiap tahun untuk mengangkat tuntutan kemerdekaan bagi Papua.

Namun dalam tahun-tahun sebelumnya, peringatan biasanya juga diwarnai
protes dan pengibaran bendera bintang kejora sebagai simbol kemerdekaan.

Oleh karena itu, aparat keamanan, Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat
Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Suryadi
Diaz, bersiaga satu, di seluruh Papua.

Kirim email ke