Dengan 212, umat Islam 'ingin berkuasa lewat pilkada, pemilu dan pilpres' 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184928 Rohmatin BonasirWartawan BBC 
Indonesia
 9 jam lalu

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184928#  Bagikan artikel ini dengan 
Twitter http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184928#  Bagikan artikel ini 
dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184928#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-42184928
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184928#share-tools




 
 Hak atas fotoREUTERSImage captionKelompok-kelompok Islam menuntut kepada 
pemerintah untuk mencopot Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur DKI Jakarta 
dalam suatu aksi pada Februari 2017. Selama tiga hari ini kelompok yang 
menamakan diri alumni 212, aksi demonstrasi pada tanggal 2 Desember 2016 untuk 
menuntut pemenjaraan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam kasus penistaan 
agama, menggelar rangkaian acara yang disebut sebagai reuni 212.
 Selain kongres, juga berlangsung peringatan Maulid Nabi, dan akan ditutup 
dengan aksi turun ke jalan yang dipusatkan di Lapangan Monumen Nasional, 
Jakarta, Sabtu (02/12).
 Rangkaian acara alumni 212 itu kini terang-terangan diakui sebagai acara 
politik, meskipun sebelumnya ada sebagian anggota panitia reuni yang 
membantahnya.
 Reuni aksi 212 dan orang-orang dalam pusarannya, di mana mereka sekarang? 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42191751 Reuni 212 menatap pilkada dan 
pemilu mendatang, usai 'memenangkan Anies' di Jakarta 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42182707 Aksi 212: Rizieq Shihab datang 
dan menyeru 'penjarakan Ahok' http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39035135 
Penegasan bahwa acara reuni 212 bermuatan politik disampaikan oleh pembina 
presidium alumni 212 yang juga menjadi anggota tim advokasi Gerakan Nasional 
Pengawal Fatwa- MUI, Kapitra Ampera, kepada BBC Indonesia, Jumat (01/12).
 "Ini 212 ini adalah kegiatan politik. Untuk apa?"
 "Untuk mengkonsolidasikan umat Islam sehingga menimbulkan kesadaran agar 
memilih pemimpin, baik kepala daerah, maupun di legislatif melalui pemilu 
maupun pilpres di eksekutif melalui pemilihan presiden untuk memilih umat Islam 
yang berkualitas memimpin republik ini, memimpin daerah dan memimpin DPR. Dan 
ini politik," jelasnya dalam wawancara melalui telepon.
 "Dan ini politik umat Islam, dan umat Islam sekarang ingin berkuasa melalui 
jalur-jalur konstitusional, melalui pemilu, melalui pilkada dan melalui 
pilpres."
 'Agenda sudah selesai' Penegasan Kapitra Ampera berbeda dengan keterangan 
Slamet Maarif, juru bicara Front Pembela Islam (FPI) yang turut mengorganisasi 
reuni alumni 212.
 Ia dimintai tanggapan terhadap pernyataan Kepala Kepolisian Republik 
Indonesia, Jenderal Tito Karnavian, bahwa acara reuni alumni 212 tersebut 
memiliki motif politik, meskipun bernuansa keagamaan.
 "(Tudingan) itu berlebihan dan dikeluarkan mereka yang belum move on dari 
kejadian (pilkada DKI) kemarin," kata Slamet Maarif.
Hak atas fotoMAST IRHAM/EPAImage captionBerbagai organisasi massa turun dalam 
demonstrasi menentang Perppu Ormas, Oktober 2017. Ia merujuk pada pemilihan 
gubernur DKI yang dimenangkan oleh Anies Baswedan dengan mengalahkan gubernur 
petahana Basuki Tjahaja Purnama. Sejumlah ormas dan sosok di balik gerakan 212 
secara terang-terangan mendukung Anies Baswedan.
 Bagaimanapun Kapolri Jenderal Tito Karnavian bukanlah satu-satunya figur yang 
menilai acara peringatan 212 dilandasi kepentingan politik atau tidak relevan 
lagi.
 Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mengatakan masalah yang diusung 
aksi 212 sudah selesai sehingga tidak perlu mengadakan acara reuni. 
Dikhawatirkannya acara seperti itu justru akan menimbulkan agitasi.
 Menjelang demonstrasi menentang Ahok pada 2016, ia sempat terlibat dalam 
kesepakatan tentang pelaksanaan protes pada tanggal 2 Desember di Lapangan 
Monas.
 Satu bulan sebelumnya Ma'ruf Amin mengeluarkan bantahan setelah MUI dituding 
berpolitik praktis karena mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan Ahok telah 
menista Alquran dan ulama.
 Adapun Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Din Syamsuddin tidak mengeluarkan 
pernyataan yang mendukung, tetapi juga tak sepenuhnya melarang reuni 212. Ia 
mengatakan tidak akan menghadari acara itu karena bukan alumni dan mengaku 
"mempunyai pemahaman tentang permasalahan umat Islam serta pendekatan 
tersendiri dalam menanggulanginya".
 Politisasi identitas agama? Dengan menelisik kelanjutan kegiatan alumni 212 
yang diadakan setelah Basuki Tjahaja Purnama dipenjara dalam kasus penistaan 
agama dan kalah dalam Pilkada DKI Jakarta, pengajar teologi di Universitas 
Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Profesor DR. Qasim Mathar, menilai alumni 
212 sudah jelas gerakan politik.
 "Karena agenda mereka sebenarnya sudah selesai. Kalau agenda utamanya 
menjatuhkan Ahok, memberhentikan Ahok sebagai gubernur, itu sudah tercapai. 
Nah, sekarang mereka teruskan dengan demo-demo dan kelihatan terus akan 
berkelanjutan. Itu sudah gerakan politik, bukan gerakan keagamaan," kata 
Profesor Qasim.
 Namun, menurut pembina presidium alumni 212 Kapitra Ampera, gerakan politik 
212 sah-sah saja.
 "Kenapa kalau umat Islam melakukan kegiatan lalu dituding itu politik yang 
konotasinya negatif?"
 Dikatakannya berpolitik adalah hak setiap warga negara, termasuk umat Islam 
yang tidak ikut demonstrasi 212 walau turut serta dalam kegiatan politik lain 
seperti memberikan suara dalam berbagai pemilihan.
 "Tapi apakah politik itu dilarang oleh negara Republik Indonesia? Apakah 
politik itu haram? Kan tidak. Itu hak konstitusional, kenapa harus diributkan?"
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPimpinan FPI, Rizieq Shihab, berorasi di 
hadapan peserta aksi 212 pada bulan Februari 2017. Kapitra Ampera menolak 
anggapan bahwa alumni 212 melakukan praktik politisasi identitas agama.
 "Itu kan opini yang dibentuk bahwa seolah-olah ada politisasi Islam. Bahwa 
umat Islam saat ini termarjinalkan, umat Islam teralieniasi di tengah kumpulan 
mayoritas. Di Amerika mayoritas mengatur minoritas," katanya.
 "Boleh saja dong sebagai mayoritas umat Islam di Indonesia ini dan punya andil 
besar, saham besar atas kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan ini, ingin memilih 
pemimpin yang bisa masuk ke dalam relung-relung kehidupan kaum Muslimin."
 Islam khas Indonesia 'terancam' pengaruh Timur Tengah 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38568830 Wajah peranakan Arab di 
Indonesia: Rizieq Shihab, politik identitas, dan pertanyaan tentang stereotip 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42078427 'Islam Indonesia 
berbunga-bunga, bukan Wahabi yang primitif' 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160506_indonesia_lapsus_radikalisasi_anakmuda_wwcr_azyumardiazra
 Bagaimanapun dalam kehidupan politik di Indonesia, Islam dan politik tampaknya 
tidak bisa dipisahkan sedemikian rupa, seperti diakui Profesor DR. Qasim 
Mathar, dengan catatan dalam berbagai pola.
 "Akan tetapi Islam di Indonesia juga kita kenal tidak hanya satu pola, yaitu 
pola demo. Ada pola-pola yang seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan 
lain-lain yang tidak berpola seperti itu. Tapi sekali lagi, Islam dan politik 
di Indonesia memang tidak bisa dipisahkan."
 "Kita juga melihat bahwa kelompok-kelompok Islam yang tidak sepola dengan itu, 
tidak menyukai kelompok 212," tambah dosen teologi di Universitas Islam Negeri 
Alauddin Makassar itu.
 Dicontohkannya, ada kelompok mayoritas yang sebelumnya tidak membuka suara 
namun kini sudah menyuarakan penentangannya.
 "Saya melihat kelompok mayoritas yang diam ini tidak diam sepenuhnya. Mereka 
juga sudah bereaksi. Kita melihat ada agenda-agenda kebhinekaan yang mereka 
tampilkan di tengah masyarakat, bukan dalam bentuk demonstrasi. Itu sudah lebih 
nyata," tuturnya.
 Di samping itu, ia juga merujuk pada pertemuan ulama NU di Mataram pada 
November lalu, yang menurutnya, sudah semakin menegaskan bahwa kelompok ulama 
NU tidak termasuk dalam kelompok 212.

 

Kirim email ke