From: Awind [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, December 3, 2017 7:25 AM

  



https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171202190219-20-259711/orde-baru-dinilai-lebih-alergi-islam-ketimbang-jokowi/


Orde Baru Dinilai Lebih Alergi Islam Ketimbang Jokowi 
Bimo Wiwoho , CNN Indonesia | Sabtu, 02/12/2017 19:20 WIB 
Bagikan :   
 Puluhan ribu orang menghadiri Reuni Akbar Alumni 212 di lapangan Monas. (CNN 
Indonesia/Andito Gilang) 

Jakarta, CNN Indonesia -- Presidium Alumni 212 baru saja menghelat reuni akbar 
di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (212). 

Dalam acara tersebut, sejumlah tokoh turut hadir dan berpidato. Mereka di 
antaranya Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah, pendiri Partai Amanat 
Nasional Amien Rais, dai Felix Siauw, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) 
Sobri Lubis. Kemudian hadir pula Ketua Presidium Alumni 212 selaku 
penyelenggara, Slamet Maarif. 

Isi pidato mereka cenderung tidak berbeda jauh yaitu mengajak peserta reuni 
untuk merenungi kembali yang mereka lakukan pada hari ini dan di tempat yang 
sama pada tahun lalu. 


      Lihat juga:
      'Amarah di Reuni Akbar Lebih Rendah dari Aksi 212' 


Di samping itu, pidato mereka berisi kritik terhadap pemerintahan Presiden Joko 
Widodo. Di antara sekian tokoh yang berpidato, Slamet Maarif bisa dibilang agak 
berbeda dengan tokoh yang lain. Terutama ketika Slamet menyatakan bahwa 
Pemerintahan Jokowi terindikasi alergi terhadap Islam atau Islam Phobia.

"Alumni 212, merasakan tiga tahun pemerintah sekarang tidak terlalu ramah 
dengan umat Islam, bahkan, kami rasakan semakin lama semakin menggigit,” ucap 
Slamet saat berpidato.

Buktinya, lanjut Slamet, tokoh FPI Rizieq Shihab dikriminalisasi. Slamet 
menilai kelompok yang selama ini mengkritik dan berseberangan dengan pemerintah 
kerap dikriminalisasi. 

Sementara, ketika kelompok pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok 
mengutarakan ujaran kebencian di media sosial malah dilindungi pemerintah. 

"Kasus Viktor Laiskodat menunjukkan islam phobia. Yang mengancam pembunuhan 
dimana mana tetap hidup aman karena dilindungi kekuasaan," ucap Slamet.

"Kami sampaikan bahwa kami merasakan nilai-nilai keadilan begitu jauhnya dengan 
umat Islam," lanjut Slamet.


      Lihat juga:
      Wajah-wajah Cemas Rakyat di Reuni Akbar 212 


Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, tidak setuju 
pernyataan Slamet tersebut dan  justru mempertanyakan Islam yang dimaksud 
Slamet.

"Umat Islam yang mana yang digigit?" ucap Adi, Dosen Universitas Islam Negeri 
Syarif Hidayatullah Jakarta, kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, 
Minggu (2/12).

Mengenai Rizieq Shihab yang disebut Slamet sebagai bukti kriminalisasi 
pemerintah terhadp umat Islam, Adi sangat tidak sepakat. Adi menegaskan bahwa 
umat Islam di Indonesia bukan hanya Rizieq dan kelompoknya saja. 

Rizieq tidak bisa disebut sebagai simbol umat Islam karena ada ratusan juta 
warga negara Indosia yang juga beragama Islam. Oleh karena itu, setiap tingkah 
laku Rizieq tidak bisa disebut sebagai cerminan penganut Islam di Indonesia. 
Kemudian, apabila Rizieq merasa dikriminalisasi, bukan berarti seluruh umat 
Islam di Indonesia merasa terkriminalisasi. 


      Lihat juga:
      Fadli Zon Kritik soal Keadilan Umat Islam di Reuni Alumni 212 


"Lagipula, Rizieq pun diduga bersalah, jadi harus bertanggung jawab. Enggak 
usah bawa-bawa umat Islam. Setya Novanto (tersangka dugaan korupsi) juga Islam 
kok," ucap Adi.

Adi menilai anggapan Slamet bahwa pemerintahan Jokowi Islam Phobia itu terlalu 
berlebihan. Jika memang Islam Phobia, seharusnya pemerintah tidak memilih-milih 
dalam menentukan sikap terhadap kelompok Islamis.

"Berlebihan, karena cuma Rizieq kena kasus diburu penegak hukum lalu bilang 
pemerintah Islam Phobia. Sementara NU dan Muhammadiyah enggak dibubarkan atau 
diburu. Pun organisasi mahasiswa Islam seperti HMI, PMII, IMM enggak 
dibubarkan," ucap Adi.

Adi lalu mengulas kembali tentang bagaimana rezim Orde Baru bersikap terhadap 
kelompok-kelompok Islam.

Kala itu, Orde Baru bisa disebut Islam Phobia karena sangat membatasi ruang 
gerak kelompok Islam dalam panggung politik. 

Misalnya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, dan sejumlah partai Islam lainnya difusikan 
menjadi satu partai saja, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tujuannya 
agar memudahkan pemerintah dalam mengontrol kelompok Islam. 


      Lihat juga:
      Ragam Cuitan Netizen soal #ReuniAkbar212 


Hal itu juga dilakukan Soeharto, selaku pimpinan Orde Baru,karena merasa 
kelompok Islam adalah kekuatan yang berpotensi merong-rong kekuasaannya.

"Di luar itu Orba juga memberlakukan asas tunggal Pancasila untuk semua ormas. 
Akibatnya, ormas islam banyak yang dibubarkan," kata Adi.

Sikap Orde Baru tersebut, lanjut Adi, jelas sangat berbeda dengan sikap 
Pemerintahan Jokowi. Adi mengatakan bahwa banyak kelompok dan partai Islam yang 
berdiri selama Jokowi menjabat sebagai presiden. 

Ormas-ormas yang berasaskan Islam pun tidak dibubarkan asalkan tidak 
bertentangan dengan Pancasila. Bahkan, Jokowi juga tidak pernah mengurung ruang 
gerak ormas Islam seperti yang dilakukan Soeharto di masa lalu.

"Jadi istilah islam phobia untuk saat ini ya berlebihan," ucap Adi. (osc) 
Bagikan :   
alumni 212 presidium alumni 212 jokowi presiden jokowi








Kirim email ke