Wajah-wajah Cemas Rakyat di Reuni Akbar 212
Suriyanto, CNN Indonesia | Sabtu, 02/12/2017 16:46 WIB
Puluhan ribu orang berkumpul dalam Reuni Akbar Alumni 212 di Lapangan Monas, 
Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)Jakarta, CNN Indonesia -- “Pak ke 
bandara ya?” kata seorang pria dengan wajah cemas. Pria berpakaian batik itu 
bertanya pada sopir bus yang akan membawa saya ke kampung halaman dari Stasiun 
Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12).

Bukan cuma satu, sejumlah pria berwajah risau juga bertanya sama pada sopir bus 
dan mendapat jawaban senada, “Ini bus ke Sumatera pak”. Kebingungan memang 
melanda kami yang berada di di dalam bus.

Sabtu, 2 Desember, lalu lintas di sekitar Gambir dan Monas bak neraka, macet 
luar biasa. Ruas jalan berubah menjadi lahan parkir liar. Bukan cuma motor dan 
kendaraan pribadi yang, bus berbadan besar dengan pelat daerah, turut berhenti. 


Pada hari itu, saat sebagian orang merayakan suka cita reuni di Monas, sebagian 
lagi merutuk karena terlambat. 

Tepat di samping Monas, berdiri Stasiun Besar Gambir. Dari situ, selain kereta 
api ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa, juga ada bus Damri, penyambung 
antarmoda. Rute perusahaan otobus pelat merah ini selain menuju Bandara 
Internasional Soekarno Hatta, juga ada ke sejumlah wilayah di Provinsi Lampung.

Mereka yang mengejar jadwal keberangkatan bus, kereta, bahkan pesawat, 
dipastikan terganggu karena jalur di sekitar Monas, lumpuh. 

Polisi pun merekayasa lalu lintas di sekitarnya. Dari empat jalur Jalan Medan 
Merdeka, hanya di sebelah timur (tepat di depan Gambir) yang masih 
diperbolehkan untuk dilintasi. Itupun hanya satu lajur yang bisa dilintasi 
kendaraan.

Alhasil, mereka yang dari atau akan ke Gambir harus ekstra sabar.

Termasuk beberapa pria berwajah cemas tadi. Mungkin sebagian dari mereka 
terlambat atau terganggu perjalannya karena sebuah acara reuni di Monas.

Acara tersebut untuk mengenang kembali sebuah acara aksi setahun lampau di 
tempat yang sama. Semangatnya kala itu, menuntut satu orang penoda agama agar 
segera dipenjara.

Sudah 12 bulan lewat, keinginan mereka juga sudah terkabul. Tapi toh aksi 
dengan embel-embel yang sama, 212, tetap digelar. Sejak awal mereka menampik 
berpolitik, dan berdalih ini adalah kegiatan rakyat sebagai bentuk rasa syukur 
bersatunya umat Islam.

Acara ini sekaligus digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tak ada acara dukung-mendukung memang di reuni itu. Acara itu diklaim murni 
acara agama sekaligus kumpul-kumpul bareng atau reuni.

Sopir bus yang saya tumpangi berujar, “Beragama itu simpel, sangat simpel, 
karena ini ditarik ke politik, jadi rumit”.

Suara hati sopir itu mungkin mewakil perasaan sebagian orang yang gusar pada 
acara tersebut, termasuk saya.

Lalu, jika memang acara tersebut memang acara untuk memperingati kelahiran Nabi 
Muhammad saya kok bertanya-tanya, seandainya kanjeng Rasul tahu, bagaimana 
sikap beliau melihat kemacetan merajalela karena acara ultahnya?

Dalam bayangan saya, beliau malah tidak akan suka atau mungkin marah, hari 
ulang tahunnya dirayakan, dan menyusahkan orang.

Wajah gelisah lain di Gambir saya lihat di depan toilet umum stasiun. Puluhan 
orang mengantre membentuk barisan sekitar tujuh meter dari pintu kakus.

Berbeda dari wajah cemas sebelumnya, wajah yang terlihat di sini nampak menahan 
sesuatu. 

Mereka, setidaknya dari gaya berpakaiannya, adalah peserta reuni 212, bukan 
pengguna jasa Stasiun Gambir, yang merupakan alasan utama toilet umum itu 
dibangun.

Bukan cuma menumpang membuang sesuatu, peserta reuni juga memarkir kendaraanya 
di area parkir Gambir. Hal ini membuat kondisi stasiun semrawut, pengguna 
stasiun tak kebagian parkir, dan kendaraan butuh waktu lama untuk keluar area 
parkir.

Reuni Aksi 212 sudah digaungkan sejak jauh-jauh hari. Acara ini sempat tak 
diizinkan kepolisian jika diselenggarakan di Monas. Polisi hanya memberi izin 
jika digelar di Masjid Istiqlal.

Namun Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengizinkannya. Ia beralasan, Monas 
adalah rempat rakyat yang bisa digunakan untuk kegiatan masyarakat umum, 
termasuk kegiatan keagamaan.

Anies menegaskan, kegiatan keagamaan yang dimaksud, tidak merujuk pada satu 
agama, tapi semua agama. Menurutnya, Monas adalah simbol persatuan.

Mereka yang bergembira di Monas saat acara 212 itu memang benar rakyat. Namun 
wajah-wajah cemas yang mengejar jadwal keberangkatan pesawat, bus dan kereta 
juga adalah rakyat.  Tapi rakyat mana yang lebih dulu dibela, itu adalah soal 
pilihan penguasa, tergantung pada tingkat kepentingan. Baik itu kepentingan 
umum atau kepentingan politik belaka yang sifatnya sementara.

(vws)

Kirim email ke