Wah, kalau cemas, kan digolongkan pesimis oleh Anies ? 2017-12-03 8:47 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > Wajah-wajah Cemas Rakyat di Reuni Akbar 212 > Suriyanto, CNN Indonesia | Sabtu, 02/12/2017 16:46 WIB > [image: Wajah-wajah Cemas Rakyat di Reuni Akbar 212]Puluhan ribu orang > berkumpul dalam Reuni Akbar Alumni 212 di Lapangan Monas, Jakarta. (CNN > Indonesia/Adhi Wicaksono) > Jakarta, CNN Indonesia -- “Pak ke bandara ya?” kata seorang pria dengan > wajah cemas. Pria berpakaian batik itu bertanya pada sopir bus yang akan > membawa saya ke kampung halaman dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu > (2/12). > > Bukan cuma satu, sejumlah pria berwajah risau juga bertanya sama pada > sopir bus dan mendapat jawaban senada, “Ini bus ke Sumatera pak”. > Kebingungan memang melanda kami yang berada di di dalam bus. > > Sabtu, 2 Desember, lalu lintas di sekitar Gambir dan Monas bak neraka, > macet luar biasa. Ruas jalan berubah menjadi lahan parkir liar. Bukan cuma > motor dan kendaraan pribadi yang, bus berbadan besar dengan pelat daerah, > turut berhenti. > > > Pada hari itu, saat sebagian orang merayakan suka cita reuni di Monas, > sebagian lagi merutuk karena terlambat. > > Tepat di samping Monas, berdiri Stasiun Besar Gambir. Dari situ, selain > kereta api ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa, juga ada bus Damri, > penyambung antarmoda. Rute perusahaan otobus pelat merah ini selain menuju > Bandara Internasional Soekarno Hatta, juga ada ke sejumlah wilayah di > Provinsi Lampung. > > Mereka yang mengejar jadwal keberangkatan bus, kereta, bahkan pesawat, > dipastikan terganggu karena jalur di sekitar Monas, lumpuh. > > Polisi pun merekayasa lalu lintas di sekitarnya. Dari empat jalur Jalan > Medan Merdeka, hanya di sebelah timur (tepat di depan Gambir) yang masih > diperbolehkan untuk dilintasi. Itupun hanya satu lajur yang bisa dilintasi > kendaraan. > > Alhasil, mereka yang dari atau akan ke Gambir harus ekstra sabar. > > Termasuk beberapa pria berwajah cemas tadi. Mungkin sebagian dari mereka > terlambat atau terganggu perjalannya karena sebuah acara reuni di Monas. > > Acara tersebut untuk mengenang kembali sebuah acara aksi setahun lampau di > tempat yang sama. Semangatnya kala itu, menuntut satu orang penoda agama > agar segera dipenjara. > > Sudah 12 bulan lewat, keinginan mereka juga sudah terkabul. Tapi toh aksi > dengan embel-embel yang sama, 212, tetap digelar. Sejak awal mereka > menampik berpolitik, dan berdalih ini adalah kegiatan rakyat sebagai bentuk > rasa syukur bersatunya umat Islam. > > Acara ini sekaligus digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. > > Tak ada acara dukung-mendukung memang di reuni itu. Acara itu diklaim > murni acara agama sekaligus kumpul-kumpul bareng atau reuni. > > Sopir bus yang saya tumpangi berujar, “Beragama itu simpel, sangat simpel, > karena ini ditarik ke politik, jadi rumit”. > > Suara hati sopir itu mungkin mewakil perasaan sebagian orang yang gusar > pada acara tersebut, termasuk saya. > > Lalu, jika memang acara tersebut memang acara untuk memperingati kelahiran > Nabi Muhammad saya kok bertanya-tanya, seandainya kanjeng Rasul tahu, > bagaimana sikap beliau melihat kemacetan merajalela karena acara ultahnya? > > Dalam bayangan saya, beliau malah tidak akan suka atau mungkin marah, hari > ulang tahunnya dirayakan, dan menyusahkan orang. > > Wajah gelisah lain di Gambir saya lihat di depan toilet umum stasiun. > Puluhan orang mengantre membentuk barisan sekitar tujuh meter dari pintu > kakus. > > Berbeda dari wajah cemas sebelumnya, wajah yang terlihat di sini nampak > menahan sesuatu. > > Mereka, setidaknya dari gaya berpakaiannya, adalah peserta reuni 212, > bukan pengguna jasa Stasiun Gambir, yang merupakan alasan utama toilet umum > itu dibangun. > > Bukan cuma menumpang membuang sesuatu, peserta reuni juga memarkir > kendaraanya di area parkir Gambir. Hal ini membuat kondisi stasiun > semrawut, pengguna stasiun tak kebagian parkir, dan kendaraan butuh waktu > lama untuk keluar area parkir. > > Reuni Aksi 212 sudah digaungkan sejak jauh-jauh hari. Acara ini sempat tak > diizinkan kepolisian jika diselenggarakan di Monas. Polisi hanya memberi > izin jika digelar di Masjid Istiqlal. > > Namun Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengizinkannya. Ia beralasan, > Monas adalah rempat rakyat yang bisa digunakan untuk kegiatan masyarakat > umum, termasuk kegiatan keagamaan. > > Anies menegaskan, kegiatan keagamaan yang dimaksud, tidak merujuk pada > satu agama, tapi semua agama. Menurutnya, Monas adalah simbol persatuan. > > Mereka yang bergembira di Monas saat acara 212 itu memang benar rakyat. > Namun wajah-wajah cemas yang mengejar jadwal keberangkatan pesawat, bus dan > kereta juga adalah rakyat. Tapi rakyat mana yang lebih dulu dibela, itu > adalah soal pilihan penguasa, tergantung pada tingkat kepentingan. Baik itu > kepentingan umum atau kepentingan politik belaka yang sifatnya sementara. > > *(vws)* > > >
