----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Sabtu, 2 Desember 2017 09.47.32 GMT+1Judul:
[GELORA45] Bachtiar: Usai Reuni Alumni 212, Jangan Lagi Gontok-gontokan
Bachtiar: Usai Reuni Alumni 212, Jangan Lagi Gontok-gontokan
Reporter:
Alfan Hilmi
Editor:
Rina Widiastuti
Sabtu, 2 Desember 2017 15:30 WIB Bachtiar Nasir. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Atmodjo
TEMPO.CO, Jakarta - Pemuka Agama Bachtiar Nasir berharap tidak ada sekat-sekat
di internal umat Islam dan antaragama di Indonesia. Seluruh komponen, kata dia,
bisa membangun bangsa bersama-sama. Ia menyampaikan hal itu saat menghadiri
acara Reuni Alumni 212.
"Misalnya antara kita dan rezim pemerintahan sekarang, saya tidak mau ada
gontok-gontokkan lagi," kata Bacthiar di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu 2 Desember
2017.
Baca: Anies Baswedan: Semangat Reuni Alumni 212 adalah Persatuan
Ia juga berharap tidak ada lagi konflik antar-kelompok agama. Contohnya, ia
melanjutkan, antara Banser dan Alumni 212.
Dalam acara Reuni Alumni yang berlangsung di Monumen Nasional Jakarta tidak
hanya dihadiri oleh umat Islam. Bachtiar mencontohkan, Lieus Sungkahrisma,
tokoh non-muslim juga hadir. Kedatanggan Lieus, menurut Bachtiar, menjadi bukti
antarumat beragama bisa saling berbaur.
"Kalau ada masa lalu, sudahilah. Ini saatnya kita membangun kebersamaan,"
ujarnya.
Acara Reuni Alumni 212 hari ini dihadiri sekitar 3 juta peserta. Bachtiar
mengatakan, massa datang dengan membawa damai.
Baca: Amien Rais Berharap Reuni Alumni 212 Menggema ke Seluruh Dunia
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Fahri Hamzah, mengatakan umat Islam di
Indonesia itu moderat sehingga harus menjauhi paham-paham ekstrim. Menurut dia,
hal itu adalah syarat satu bangsa, harus ada umat pertengahan.
"Kita adalah umat yang menyampaikan salam yang berada di tengah, moderat," kaya
Fahri pada para peserta Reuni Alumni 212.
Fahri menilai ekstrimitas adalah proyek negara-negara barat. Menurut dia,
ekstrimitas hanya dapat memecah belah bangsa dan bukan menjadi karakter umat
Islam di seluruh dunia.