Secara konkrit..?? 
Okelah. Dalam skala personal, imperialisme itu konkritnya ya Anda ini. 
Boleh jadi Anda kaya-raya dan merasa mampu membeli / bayar apa saja 
sehingga begitu enteng menyimpulkan segala sesuatu dan memaksakan 
kehendak berdasarkan sudut pandang sendiri. Tapi memang, tidak perlu kaya 
untuk sekedar ngeyel putar-puter kata menjadi abu-abu.

Dalam skala komunal, samasekali tak usah kaya untuk bertabiat imperialis. 
Cukup bermodalkan mental kapitalis menengah-bawah Anda sudah boleh 
bergabung dengan sesama begituan untuk ngeyel bersama, sebagaimana 
pengikut Rizieq dan pecinta Ahok. Sekalipun begitu, imperialisme skala ini 
tidak menutup pintu bagi mental kapitalis atas. Yang pasti, para pemain 
di kedua skala ini umumnya berpangkat antek. 

Nah, imperialis yang berkualitas totok, mainnya di skala global. 
Pada skala ini tabiat imperialisme kecil-kecil tadi sudah menjelma jadi 
ideologi. 
Ideologi yang mutlak ditunjang kekuatan finans & otot, baik untuk membujuk, 
membeli, ngeyel, dan tak lupa menggebuk - urutan tergantung situasi. 
Semakin luas padang perburuannya, maka harus semakin kuat finans & ototnya. 
Dan ini cuma konkrit dilakukan melalui organisasi & instrumen kenegaraan. 

--- jonathangoeij@... wrote:
So true.
Secara kongkrit dalam hal Papua ini apakah anda bermaksud berkata terjadi 
pergantian imperialisme, dari imperialisme kulit putih berubah jadi 
imperialisme kulit berwarna (coklat).



--- ajegilelu@... wrote :

Imperialisme tidak mengenal suku, agama, ras, paspor. 

Tidak peduli Anda mengerti atau tidak, yang jelas 'Indonesia' 
bukan sekedar negara. Sejarah membentuknya sebagai 
perwujudan dari niat dan ikhtiar perlawanan terhadap praktek 
kolonialisme serta tabiat imperialisme. Dalam hal Hindia 
Belanda, praktek dan tabiat itu (kebetulan) diperankan pihak 
Belanda.
Jadi, bisa saja tabiat mental imperialis muncul dalam kemasan 
kulit putih maupun berwarna. Baik sekedar sebagai antek 
maupun imperialis totok. Sebaliknya, Belanda ada juga yang 
Danudirdja Setiabudi. Begitu juga Indian ada yang pengkhianat.
Tidak semua urusan boleh digeneralisir, sekalipun bisa. 

--- jonathangoeij@... wrote:
Apakah yang dikatakan Surya Anta itu tidak benar?
Coba anda mengenakan sepatu Papua, saat ini yang mereka perjuangkan itu 
referendum menentukan nasib sendiri apakah berdiri sendiri ataukah tetap 
bersama Indonesia. Juga orang2 yang sekarang ini boleh dibilang sebagian besar 
atau mungkin seumur hidupnya hidup dalam penjajahan Indonesia, itu yang mereka 
rasakan dan mereka perjuangkan untuk lepas dari belenggu penjajahan. Mereka itu 
orang2 yang melihat dengan mata kepala sendiri pemukiman dibakar, bapak dan 
saudara dibunuh, ibu dan saudari diperkosa, pelaku2nya adalah orang Indonesia 
bukan Belanda. 


On Thursday, December 7, 2017, 4:46:03 AM PST, jetaimemucho1@... wrote:

"After Dec. 1, 1961, [former president] Soekarno declared the Trikora 19 days 
later in Yogyakarta to seize West Papua and dissolve the country," said Surya 
Anta, spokesman for the People's Front of Indonesia for West Papua.Jelas dari 
kalimat di atas, mereka menuduh Soekarno menganeksi Papua Barat. Mereka sama 
sekali tidak bicara tentang kekuasaan kolonial yang setelah 17 agustus 1945 mau 
terus mengangkangi Papua Barat. Alasan ras mereka ajukan. Persis seperti 
penguasa kolonial Belanda yang juga menggunakan alasan ras untuk terus 
menduduki Papua Barat.  Kalau orang mau jujur mempelajari sejarah dengan benar, 
jangan melupakan peran penguasa kolonial Belanda. Mengapa kok pendukung 
separatisme itu menggunakan argumentasi yang datang dari pihak penguasa 
kolonial??? Kebenaran dan fakta sejarah lah yang selalu para pendukung 
separatisme ingin lupakan dan campakkan!!!
On Tuesday, December 5, 2017 10:32 PM, jonathangoeij@... wrote:
Apakah bisa dibantah?
---"We're not Indonesian, we're the Morning Star, the Morning Star, you've just 
said red and white," demonstrators chanted, referring to West Papua's 
historical flag
...."The relationship between Papua and Indonesia is like an illegal marriage," 
said one activist."We are different from Indonesia, it's been a long time. You 
are white, we are black, your hair is straight, we are curly, we are brothers 
or you just want our own natural wealth," an orator shouted in front of a 
police officer.
--- ilmesengero@... wrote :

Untuk melihat foto/foto click situs di bawah ini
http://jakartaglobe.id/eyewitness/march-west-papuan-independence   
   - 


March for West Papuan IndependenceOn Friday (01/12), dozens of demonstrators 
gathered in Central Jakarta to demand West Papuan independence from Indonesia. 
Marchers brought posters and sang traditional West Papuan songs in defiance 
what the demonstrators see as a foreign occupation of the territory. (JG Photo 
/ Yudha Baskoro)By : JG | on 11:42 AM December 04, 2017
Category : Eyewitness, Multimedia, Photos
Jakarta. On Friday (01/12), dozens of demonstrators gathered in Central Jakarta 
to demand West Papuan independence from Indonesia. Marchers brought posters and 
sang traditional West Papuan songs in defiance what the demonstrators see as a 
foreign occupation of the territory.
"We're not Indonesian, we're the Morning Star, the Morning Star, you've just 
said red and white," demonstrators chanted, referring to West Papua's 
historical flag.
Marchers, members of the Papuan Student Alliance and the People's Front of 
Indonesia for West Papua, also demanded that the Indonesian government force 
US-based mining giant Freeport McMoran to shut down operations in the province.
The demonstration came on the eve of West Papua's first declaration of 
independence on Dec. 1, 1961.
"The relationship between Papua and Indonesia is like an illegal marriage," 
said one activist.
"We are different from Indonesia, it's been a long time. You are white, we are 
black, your hair is straight, we are curly, we are brothers or you just want 
our own natural wealth," an orator shouted in front of a police officer.
"After Dec. 1, 1961, [former president] Soekarno declared the Trikora 19 days 
later in Yogyakarta to seize West Papua and dissolve the country," said Surya 
Anta, spokesman for the People's Front of Indonesia for West Papua.
In fact, Trikora was the name given to the Indonesian military operation to 
invade and annex the Dutch territory of New Guinea, which lasted nine 
months.Demonstrators planned to march to Freeport's offices in Kuningan, South 
Jakarta, but were stopped by police in front of the Megaria cinema in the 
center of the city.

   

Kirim email ke