https://www.antaranews.com/berita/670070/100-an-intelektual-yahudi-tuntut-trump-cabut-deklarasi-yerusalem


 100-an intelektual Yahudi tuntut


 Trump cabut deklarasi Yerusalem

Sabtu, 9 Desember 2017 16:25 WIB

Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Carlos Barria)

Jakarta (ANTARA News) - Sekitar 100 intelektual Yahudi menandatangani petisi yang mengutuk keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Mereka juga menuntut Trump mencabut kembali deklarasi pengakuan itu.

Dalam petisi yang dirilis Kamis waktu AS atau beberapa hari setelah pernyataan Trump itu, lebih dari 110 tokoh dari berbagai perguruan tinggi di AS menyeru Trump menarik kembali deklarasi Yerusalem ibu kota Israel itu.

"Kami menulis sebagai para intelektual Yahudi demi mengutarakan kecemasan kami atas keputusan pemerintahan Trump yang telah menjungkirbalikkan kebijakan bipartisan bertahun-tahun AS karena mengumumkan Yerusalem ibu kota Israel dan memerintahkan pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv," bunyi petisi ini seperti dikutip laman The Hill.

Mereka menyebut deklarasi dari pemerintah Amerika Serikat yang mendukung kepemilikan tunggal Yahudi atas Yerusalem telah menambah penderitaan yang dialami kota ini yang sekaligus memupuk api kekerasan baru.

Petisi ini juga mengecam pemerintah Israel karena telah diskriminatif terhadpa warga Palestina.

"Penduduk Palestina di Yerusalem mengalami ketimpangan yang sistematis, termasuk distribusi tidak merata anggaran daerah dan pelayanan kota, pengabaian izin bangun yang justru diberikan kepada penduduk Yahudi, penggusuran rumah, dan penyitaan properti Palestin demi permukiman Yahudi," kata para intelektual Yahudi ini dalam petisi tersebut.

"Sebaliknya, warga Palestina di Tepi Barat, tidak seperti penduduk Yahudi Israel di wilayah ini, diwajibkan memiliki izin khusus untuk bisa mengunjungi tempat-tempat suci di Yerusalem," tutup mereka.



Pewarta: -
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017


================


https://www.antaranews.com/berita/670018/buntut-yerusalem-donald-trump-ditinggalkan-orang-dekatnya


 Buntut Yerusalem, Donald Trump


 ditinggalkan orang dekatnya

Sabtu, 9 Desember 2017 10:21 WIB

Presiden Donald Trump (REUTERS/Kevin Lamarque)

Washington (ANTARA News) - Deputi Penasihat Keamanan Nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Dina Powell, berencana mengundurkan diri awal tahun depan, tetapi menyatakan akan terus memainkan peran dalam diplomasi AS di Timur Tengah, ungkap Gedung Putih seperti dikutip Reuters.

Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyatakan Powell yang selama ini memainkan peran sangat penting dalam diplomasi AS di Timur Tengah, memang selalu bilang hanya ingin bertahan satu tahun di Gedung Putih, untuk kemudian kembali ke kampung halamannya di New York.

Powell menjadi salah satu pejabat pemerintah yang mundur pada satu tahun pemerintahan Trump.  Menteri Luar Negeri Rex Tillerson juga kabarnya akan mundur untuk digantikan oleh Direktur CIA Mike Pompeo. Yang juga disebut-sebut bakal mengundurkan diri adalah penasihet ekonomi Gary Cohn.

Powell adalah satu dari orang dalam pemerintahan Trump dan sekutu terdekat Penasihat Keamanan Nasional H.R. McMaster. Dia terlibat dalam masalah Timur Tengah bersama dengan penasihat senior dan menantu Trump, Jared Kushner.

Keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah dikecam di seluruh penjuru dunia Arab.

Pewarta: -
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

 * TAGS:
 * yerusalem <https://www.antaranews.com/tag/yerusalem>
 * donald trump <https://www.antaranews.com/tag/donald-trump>
 * status yerusalem <https://www.antaranews.com/tag/status-yerusalem>









Kirim email ke