http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/17/12/10/p0qg0i396-ini-pengakuan-umat-kristen-yang-hidup-di-yerusalem-2



Ahad , 10 Desember 2017, 13:43 WIB
Ini Pengakuan Umat Kristen yang Hidup di Yerusalem - 2

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto

http://972mag.com

[image: Warga Kristen Nasrani Palestina]

Warga Kristen Nasrani Palestina



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di dalam kota tua Yerusalem kerap dijuluki
sebagai kota suci tiga agama. Pasalnya, di dalamnya hidup umat agama
Yahudi, Kristen dan Islam. Kota ini pun kembali ramai diperbincangkan
masyarakat Internasional setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
mengakui rumah mereka sebagai ibukota Israel.

Tiga umat bergama ini pun, umat Islam, Kristen, dan Yahudi menyampaikan
pengakuannya tentang Kota Yerusalem dan menanggapi sikap sepihak Trump.
Umat Islam dan Kristen mempunyai pandangan yang hampir serupa, namun
berbeda dengan sikap umat Yahudi.

Berikut pengakuan umat Kristen yang bekerja di sebuah restoran Kota Tua
Yerusalem, Jonathan Abu Ali (21) seperti dilansir laman *Australian
Broadcasting Corporation* (ABC), Ahad (10/12). Jonathan mengaku, bahwa
dirinya sejak kecil sudah tinggal Yerusalem, sehingga kota suci tiga agama
ini sangat berarti baginya.

"Yerusalem adalah rumah saya. Saya dibesarkan di sini, saya dibesarkan di
sini, itu berarti segalanya bagi saya, memiliki makna spiritual bagi saya.
Yesus disalibkan di sini dan ini adalah rumah bagi banyak orang Kristen,"
ujarnya.

Menanggapi sikap Donal Trump, dia mengatakan, bahwa seharusnya Trump tidak
mengganggu bisnis umat beragama di Yerusalem. Karena, menurut dia, tanah
Yerusalem adalah milik umat Kristen, Yahudi, dan Islam.

"Saya pikir orang itu ( Trump) sedikit lebih banyak daripada yang bisa dia
kunyah, Anda tahu? Tanah itu milik kita, sebagai orang Kristen, Yahudi, dan
Muslim. Saya pikir seseorang dari dunia luar seharusnya tidak mengganggu
bisnis kita," ucapnya.

Dia mengatakan, bahwa umat tiga agama itu telah tinggal selama berabad-abad
dan hidup rukun sebagai saudara. Namun, pemerintah kemudian menciptakan
masalah, sehingga menyebabkan banyak tindakan kekerasan.

"Kami telah tinggal di sini selama berabad-abad sebagai saudara dan
pemerintah menciptakan masalah. Permasalahan sudah dimulai. Saya pikir ini
akan menyebabkan lebih banyak kekerasan, di seluruh negeri," kata Jonathan.

"Ini bisa menyebabkan lebih banyak kekerasan karena semua orang
menginginkan sebidang tanah ini, semua orang mengira itu milik mereka,
orang Kristen, Yahudi dan Muslim," imbuhnya.

Kirim email ke