*Junjung tinggi kebonekaan dengan surat tiga menter???*


http://www.mediaindonesia.com/news/read/135958/junjung-tinggi-kebinekaan-nkri/2017-12-11


Junjung Tinggi Kebinekaan NKRI

Senin, 11 December 2017 12:06 WIB Penulis: *Richaldo Y Hariandja *

<http://www.mediaindonesia.com/files/news/2017/12/nkri.jpg>
<http://www.mediaindonesia.com/files/news/2017/12/nkri.jpg>

MI/Bary Fathahilah

INDONESIA yang begitu kaya atas suku, pulau, dan bahasa, memiliki tantangan
yang tidak mudah untuk dihadapi. Fanatisme kedaerahan jika tidak ditangani
dengan baik, justru berpotensi memecah bangsa.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua MPR 2014-2019 Mahyudin. Saat ditemui Media
Indonesia di acara sosialisasi empat pilar kebangsaan ke Balikpapan,
Kalimantan Timur, kemarin, Mahyudin menyatakan potensi itu yang lumrah
dialami masyarakat plural. "Negara lain juga banyak begitu. Misalnya,
belajar dari Yugoslavia yang pecah karena etnik daerah, yang bikin mereka
memisahkan diri. Tentu tantangan di Indonesia potensinya ada, pasti,
makanya itu tantangan kebangsaan yang harus kita selesaikan," terang
Mahyudin.

Menurutnya, konsep yang harus ditanamkan ke masyarakat saat ini ialah 'Saya
Indonesia'. Konsep kesatuan harus lebih tinggi daripada kesukuan.
"Primordialisme kedaerahan itu harus kita kikis, kurangi," lanjut politikus
Partai Golkar itu.

Menurut dia, primordialisme dan fanatisme kesukuan rentan untuk dijadikan
alat politik.

"Di Kaltim contohnya, saya sempat lihat beberapa calon itu melakukan riset
terhadap calon pemilih berdasarkan sukunya. Ini sudah tidak boleh, harusnya
kan memilih itu berdasarkan kinerja, visi, misi dan kemampuan calon
tersebut," imbuhnya.

Fanatisme kedaerahan yang dibalut dengan politik, menurut Mahyudin, akan
bertambah parah jika masyarakat tidak memiliki pemahaman kebinekaan. "Ini
benar-benar harus diantisipasi," tegas dia.

*Ciptakan harmoni*

Staf Khusus Presiden Jokowi, Diaz Hendropriyono, mengingatkan, di tengah
situasi global yang sedang tak menentu, yang paling penting saat ini adalah
menciptakan harmoni di negeri sendiri. Salah satunya ialah dengan
meningkatkan nasionalisme.

Nasionalisme masyarakat Indonesia harus ditumbuhkan kembali. Berbagai
peristiwa intoleransi tidak boleh lagi mencoreng kehidupan bernegara
seperti pembakaran gereja di Aceh Singkil, pembakaran wihara di Tanjung
Balai, serta pembakaran musala di Tolikara.

"Saat ini nasionalisme sedang tergerus, ditunjukkan oleh berbagai survei.
Menurut survei, ada 4% penduduk Indonesia yang mendukung IS (Islamic
State). Meski terlihat kecil, jika dibandingkan dengan 250 juta penduduk
Indonesia merupakan angka yang besar," ujar Diaz dalam Seminar Nasional
Agama dan Kebudayaan: Strategi Kebudayaan: Dialog Agama dan Kebudayaan
untuk Indonesia Berkemajuan oleh Komunitas Muda Nusantara di Jakarta, akhir
pekan lalu.

Ia menambahkan, perkembangan liberalisme dan revolusi teknologi juga
meningkatkan individualisme. Hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila, seperti gotong-royong.

Lebih jauh ia mengimbau agama harus dijadikan sebagai alat pemersatu, bukan
sebagai alat politik. "Tugas ulama, pemuka agama untuk menyatakan ini.
Agama yang beragam di Indonesia, harus menjadi berkah," tegas dia.

Sementara itu, Aaktivis milenial Danik Eka Rahmaningtyas mengingatkan,
kesadaran terhadap keragaman mesti ditingkatkan. "Konflik terjadi di
mana-mana karena kesadaran akan keberagaman belum terbentuk," terang
Danik.(Ssr/P-4)

Kirim email ke