Apa maksudnya ? Junjung tinggi dari rendah ke tinggi, jadi sekarang ini rendah ? Junjung tinggi supaya tidak turun, jadi sekarang sudah tinggi?
2017-12-11 6:53 GMT+01:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > > *Junjung tinggi kebonekaan dengan surat tiga menter???* > > > > http://www.mediaindonesia.com/news/read/135958/junjung- > tinggi-kebinekaan-nkri/2017-12-11 > > > Junjung Tinggi Kebinekaan NKRI > > Senin, 11 December 2017 12:06 WIB Penulis: *Richaldo Y Hariandja * > > <http://www.mediaindonesia.com/files/news/2017/12/nkri.jpg> > <http://www.mediaindonesia.com/files/news/2017/12/nkri.jpg> > > MI/Bary Fathahilah > > INDONESIA yang begitu kaya atas suku, pulau, dan bahasa, memiliki > tantangan yang tidak mudah untuk dihadapi. Fanatisme kedaerahan jika tidak > ditangani dengan baik, justru berpotensi memecah bangsa. > > Hal itu dikatakan Wakil Ketua MPR 2014-2019 Mahyudin. Saat ditemui Media > Indonesia di acara sosialisasi empat pilar kebangsaan ke Balikpapan, > Kalimantan Timur, kemarin, Mahyudin menyatakan potensi itu yang lumrah > dialami masyarakat plural. "Negara lain juga banyak begitu. Misalnya, > belajar dari Yugoslavia yang pecah karena etnik daerah, yang bikin mereka > memisahkan diri. Tentu tantangan di Indonesia potensinya ada, pasti, > makanya itu tantangan kebangsaan yang harus kita selesaikan," terang > Mahyudin. > > Menurutnya, konsep yang harus ditanamkan ke masyarakat saat ini ialah > 'Saya Indonesia'. Konsep kesatuan harus lebih tinggi daripada kesukuan. > "Primordialisme kedaerahan itu harus kita kikis, kurangi," lanjut politikus > Partai Golkar itu. > > Menurut dia, primordialisme dan fanatisme kesukuan rentan untuk dijadikan > alat politik. > > "Di Kaltim contohnya, saya sempat lihat beberapa calon itu melakukan riset > terhadap calon pemilih berdasarkan sukunya. Ini sudah tidak boleh, harusnya > kan memilih itu berdasarkan kinerja, visi, misi dan kemampuan calon > tersebut," imbuhnya. > > Fanatisme kedaerahan yang dibalut dengan politik, menurut Mahyudin, akan > bertambah parah jika masyarakat tidak memiliki pemahaman kebinekaan. "Ini > benar-benar harus diantisipasi," tegas dia. > > *Ciptakan harmoni* > > Staf Khusus Presiden Jokowi, Diaz Hendropriyono, mengingatkan, di tengah > situasi global yang sedang tak menentu, yang paling penting saat ini adalah > menciptakan harmoni di negeri sendiri. Salah satunya ialah dengan > meningkatkan nasionalisme. > > Nasionalisme masyarakat Indonesia harus ditumbuhkan kembali. Berbagai > peristiwa intoleransi tidak boleh lagi mencoreng kehidupan bernegara > seperti pembakaran gereja di Aceh Singkil, pembakaran wihara di Tanjung > Balai, serta pembakaran musala di Tolikara. > > "Saat ini nasionalisme sedang tergerus, ditunjukkan oleh berbagai survei. > Menurut survei, ada 4% penduduk Indonesia yang mendukung IS (Islamic > State). Meski terlihat kecil, jika dibandingkan dengan 250 juta penduduk > Indonesia merupakan angka yang besar," ujar Diaz dalam Seminar Nasional > Agama dan Kebudayaan: Strategi Kebudayaan: Dialog Agama dan Kebudayaan > untuk Indonesia Berkemajuan oleh Komunitas Muda Nusantara di Jakarta, akhir > pekan lalu. > > Ia menambahkan, perkembangan liberalisme dan revolusi teknologi juga > meningkatkan individualisme. Hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai > Pancasila, seperti gotong-royong. > > Lebih jauh ia mengimbau agama harus dijadikan sebagai alat pemersatu, > bukan sebagai alat politik. "Tugas ulama, pemuka agama untuk menyatakan > ini. Agama yang beragam di Indonesia, harus menjadi berkah," tegas dia. > > Sementara itu, Aaktivis milenial Danik Eka Rahmaningtyas mengingatkan, > kesadaran terhadap keragaman mesti ditingkatkan. "Konflik terjadi di > mana-mana karena kesadaran akan keberagaman belum terbentuk," terang > Danik.(Ssr/P-4) > > > >
