Gerakan anti korupsi Indonesia raih penghargaan PBB
 Senin, 11 Desember 2017 12:27 WIB
 
Peringatan Hari Anti Korupsi Petugas Kejaksaan Tinggi Sidoarjo menunjukkan pin 
yang akan dibagikan kepada pengguna jalan ketika melakukan aksi memperingati 
Hari Anti Korupsi Internasional di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (9/12/2016). 
Pembagian pin dan stiker tersebut merupakan salah satu bentuk memperingati Hari 
Anti Korupsi. (ANTARA /Umarul Faruq)

Jakarta (ANTARA News) - Gerakan "Saya Perempuan Anti Korupsi" dari Indonesia, 
yang merupakan bagian dari kegiatan peringatan Hari Anti Korupsi Internasional, 
mendapatkan penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Perwakilan Tetap Republik 
Indonesia (PTRI) Jenewa yang diterima di Jakarta, Senin.

Gerakan "Saya Perempuan Anti Korupsi" (SPAK) dari Indonesia itu diwakili oleh 
Yuyuk Andriati Iskak dari Komite Pemberantasan Korupsi dan Judhi Kristantini 
dari SPAK Indonesia dan mendapat penghargaan "International Anti-Corruption 
Excellence (IACE) Award". 

IACE Award merupakan penghargaan bergengsi yang diberikan langsung oleh Emir 
Qatar, Sheikh Tamim Bin Hamad Al Thani dan didukung oleh PBB, atas pendekatan 
yang efektif dan sukses sebagai kontribusi nyata dalam pencegahan dan 
perlawanan terhadap korupsi. 

Pemberian penghargaan dari Emir Qatar, Sheikh Tamim Bin Hamad Al Thani, yang 
didukung oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) tersebut 
dilaksnakan di Gedung PBB di Jenewa, Swiss.

Penghargaan diberikan kepada SPAK Indonesia atas keberhasilannya dalam 
meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya perilaku antikorupsi dalam 
kegiatan sehari-hari, mulai dari suap, gratifikasi hingga penggelapan dana.

"Penghargaan ini tentunya ditujukan untuk seluruh agen SPAK di Indonesia yang 
sudah menjadi inspirasi perubahan dimulai dari diri sendiri dan lingkungan 
terdekat. Sebuah langkah kecil yang sangat nyata untuk perbaikan Indonesia di 
masa depan," kata Yuyuk dari Komite Pemberantasan Korupsi.

Sementara itu, Judhi dari SPAK Indonesia mengatakan peran perempuan dan 
keluarga sangat strategis dalam melakukan perubahan melalui pencegahan tindakan 
korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Performa gerakan SPAK Indonesia dinilai memiliki visi, kepemimpinan, 
kreativitas, antusiasme dan komitmen serta dedikasi dalam menangani korupsi 
sehingga dapat menginspirasi pihak lain untuk melakukan cara-cara yang sama.

Gerakan SPAK sebagai gerakan anti korupsi berbasis pendekatan keluarga berhasil 
melatih lebih dari 1.300 agen pembaru di 34 provinsi di Indonesia untuk 
bergerak secara kolektif meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama perempuan, 
dalam menanamkan nilai-nilai dasar di keluarga untuk mencegah perilaku korupsi, 
yaitu kejujuran, keadilan, kerjasama, kemandirian, disiplin, tanggung jawab, 
kegigihan, keberanian dan kepedulian. 

Acara pemberian penghargaan tersebut dihadiri oleh sejumlah Pejabat PBB, antara 
lain Direktur Jenderal Kantor PBB Jenewa, Michael Moller dan Direktur Eksekutif 
UNODC, Yuri Fedotov, Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib.

"Di abad 21 ini tidak ada tempat untuk perilaku korupsi. Penganugerahan 
penghargaan hari ini merupakan bagian dari upaya masyarakat internasional 
menciptakan dunia tanpa korupsi," kata Dirjen PBB di Jenewa Michael Moller.

Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Dubes Hasan Kleib sangat menyambut baik 
terpilihnya SPAK dalam perolehan penghargaan tersebut.

"Pemberian penghargaan IACE merupakan pengakuan terhadap kontribusi Indonesia 
dalam gerakan dunia untuk mencegah perilaku korupsi sejak dini, dan juga 
dinilai penting oleh PBB karena merupakan bagian yang sangat strategis dalam 
mendukung upaya PBB untuk implementasi Konvensi Anti-Korupsi PBB," ujar Dubes 
Hasan Kleib. 
Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: AA Ariwibowo

Kirim email ke