Wang Yi Paparkan Pendirian Tiongkok mengenai Masalah Nuklir Semenanjung 
Korea 
        2017-12-11 11:19:39  CRI 
      Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dalam sebuah seminar pada hari Sabtu 
lalu (9/12) menyatakan, saat ini situasi Semenanjung Korea masih terjebak dalam 
lingkaran setan antara unjuk kekuatan dan konfrontasi, sehingga prospeknya 
kurang menggembirakan. Akan tetapi, yang patut diperhatikan ialah perdamaian 
masih belum kehilangan harapan, prospek perundingan belum buyar, sehingga 
pengerahan kekuatan bersenjata sama sekali tidak dapat diterima. Menilik 
diplomasi Tiongkok pada tahun depan, Wang Yi menunjukkan, pada tahun 2018, 
Tiongkok akan menjadi tuan rumah Forum Asia Bo'ao dan Pertemuan Puncak 
Organisasi Kerja Sama Shanghai di Qingdao. Melalui dua ajang tersebut, Tiongkok 
akan mendorong pembentukan komunitas senasib sepenanggungan dengan 
memprioritaskan negara-negara berkembang.

      Wang Yi dalam pidatonya di depan acara pembukaan Seminar Situasi 
Internasional dan Diplomasi Tiongkok Tahun 2017 menyatakan bahwa dalam 
diplomasinya sepanjang 2017, Tiongkok telah merancang cetak biru Satu Sabuk 
Satu Jalan, mengeluarkan sinyal kuat untuk menuntun arah globalisasi, dan telah 
memainkan peranan dominan dalam pembinaan hubungan antar negara besar. Hal ini 
membantu memelihara kestabilan situasi di sekitar Tiongkok dan tren kerja sama 
regional, sekaligus menandakan "dekade emas" kedua kerja sama BRICS telah 
dimulai. Diplomasi Tiongkok secara tegas menjaga kedaulatan dan keamanan 
negara, mengabdi bagi keterbukaan dan pembangunan di dalam negeri, serta 
mempercepat pembangunan kapasitas untuk melindungi kepentingan Tiongkok di luar 
negeri. Di samping itu, Tiongkok terus memperbarui metode diplomatik publik dan 
telah memulai reformasi mekanisme diplomatik yang berorientasi pada kinerja di 
luar negeri. Ini berarti diplomasi Tiongkok terus mengalami perkembangan secara 
lahir dan batin.

      Meneropong diplomasi Tiongkok pada 2018, Wang Yi mengatakan: "Kongres 
Nasional ke-19 PKT telah menunjukkan arah bagi upaya diplomasi. Sekjen Xi 
Jinping dalam laporannya menyatakan akan membangun hubungan antar negara tipe 
baru dan komunitas senasib sepenanggungan.

      Wang Yi menekankan, pembinaan hubungan antar negara tipe baru, kuncinya 
terletak pada negara-negara besar. Tiongkok akan terus meningkatkan koordinasi 
dan kerja samanya dengan negara-negara besar termasuk Rusia dan AS serta Eropa, 
membentuk kerangka hubungan antar negara besar yang pada dasarnya berkembang 
secara stabil dan seimbang, guna memelihara perdamaian dan ketenteraman dunia, 
serta mendorong pembangunan dunia secara harmonis.

      Wang Yi menambahkan, gagasan Presiden Xi tentang pembangunan komunitas 
senasib sepenanggungan akan dimulai dari negara-negara tetangga dan 
berorientasi pada negara-negara berkembang.

      Mengenai situasi Semenanjung Korea, Wang Yi menegaskan bahwa situasi 
Semenanjung Korea saat ini masih terjebak dalam lingkaran setan antara unjuk 
kekuatan dan konfrontasi, prospeknya kurang menggembirakan. Akan tetapi, 
harapan perdamaian masih belum hilang, prospek perundingan belum buyar dan opsi 
penggunaan kekuatan bersenjata sama sekali tidak bisa diterima. Tiongkok 
berpendapat, ke depannya berbagai pihak hendaknya secara sungguh-sungguh 
mempertimbangkan usulan Tiongkok tentang "dua penghentian", yaitu AS dan Korea 
menghentikan latihan militer, dan sebagai imbalannya, Korut menghentikan 
program nuklirnya. Semua pihak hendaknya berupaya meredakan ketegangan situasi, 
dan membawa situasi keluar dari "lubang hitam konfrontasi", sehingga dapat 
menciptakan prasyarat bagi dialog dan perundingan.

      Wang Yi menyatakan, terkait masalah nuklir Semenanjung Korea, Tiongkok 
telah melakukan upaya ekstra dibandingkan pihak-pihak lainnya, dan telah 
menanggung harga yang lebih mahal daripada pihak mana pun. Tiongkok selalu 
berpendapat bahwa berbagai pihak harus menaati resolusi-resolusi Dewan Keamanan 
PBB mengenai masalah nuklir Semenanjung Korea. Tiongkok menaati resolusi Dewan 
Keamanan secara ketat, oleh karena itu pihak mana pun yang mengajukan 
permintaan yang tidak sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan, mengambil tindakan 
yang tidak tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan, bahkan mengambil aksi 
sepihak, maka dipastikan dapat merusak persatuan Dewan Keamanan dan merugikan 
kepentingan sah negara lain. Tiongkok sama sekali tidak menyetujui dan tidak 
dapat menerima hal ini.
     

Kirim email ke