---------- Forwarded message ----------

*Kolom Asaaro Lahagu Skenario Lanjut 212 Tumbangkan Jokowi*
https://sorasirulo.com/2017/12/06/kolom-asaaro-lahagu-skenario-lanjut-212-
tumbangkan-jokowi/
Pertanyaan besar publik saat ini adalah, seberapa besar kekuatan gerakan
212 dalam menumbangkan Jokowi? Apa saja skenario mereka? Mungkinkah gerakan
212 berbau politis ini bisa menumbangkan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang?
Adalah terlalu naïf jika ada pihak yang meremehkan, mengabaikan atau tak
memperhitungkan kekuatan gerakan 212 dalam peta politik di Indonesia saat
ini. Gerakan 212 jelas punya kekuatan mumpuni untuk menjungkalkan Jokowi
pada Pilpres 2019 mendatang. Jika gerakan ini dicap sebagai gerakan
politik, maka hal itu sah-sah saja di alam demokrasi.
Pasca ‘kemenangan’ gerakan 212 di Pilkada DKI Jakarta, gerakan ini semakin
intens dalam mengkonsolidasi kekuatannya ke depan. Dengan klaim bahwa
berkat aksi 212 Ahok dapat ditumbangkan dan bahkan memasukkannya ke dalam
penjara, gerakan 212 akan dijadikan motivasi besar untuk menumbangkan
Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.
Lalu bagaimana kekuatan gerakan 212 itu?
Kekuatan gerakan 212 bisa dilihat dari 3 partai yang ada di belakangnya
selama ini. Ada PKS, Gerinda dan PAN yang melebur dengan cerdik dalam
gerakan ini. Ketiga partai ini ‘ketiban rejeki nomplok’ dengan menunggangi
gerakan 212 termasuk Amin Rais untuk mencapai kepentingan politiknya.
Ormas-ormas radikal semacam FPI dan HTI (telah mencari nama lain setelah
dibubarkan) adalah juga kekuatan inti dari gerakan ini. Ditambah sejumlah
tokoh antithesis seperti Amin Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah dan pendatang
politikus baru semacam Ahmad Dhani, AA Gym, Ustad Kiwil dan seterusnya,
maka kekuatan gerakan ini cukup mendapat banyak dukungan.
Dengan 3 partai yang berkolaborasi dengan sejumlah ormas radikal, maka bisa
diperkirakan bahwa kekuatan gerakan 212 sudah melebihi 58% di DKI. Di Jawa
Barat dan Banten kekuatannya gerakan 212 bisa mencapai 50%. Kalkulasi ini
berdasarkan presentase kemenangan Anies vs Ahok di DKI Jakarta. Sementara
di Jawa Barat yang dikuasai oleh PKS selama 10 tahun, kekuatan ini
diperkirakan juga mencapai 50%.
Di level nasional dengan menggabungkan kekuatan tiga partai Gerinda, PKS
dan PAN, maka secara real kekuatan gerakan 212 itu sudah mencapai 25%
sesuai dengan hasil pemilu 2014 yang lalu. Ditambah dengan Ormas dan
simpatisannya, maka secara kasar kekuatan gerakan 212 sudah mencapai 30%.
Belum lagi simpatisan dari partai lain, maka hitungan kasar kekuatan
gerakan 212 tidak bisa dipandang remeh. Jika kekuatan kasarnya sudah
mencapai 30%, maka tinggal mencari 20% plus satu untuk menumbangkan Jokowi.
Lalu, dari mana diperoleh kekuatan 20% plus satu agar bisa menjungkalkan
Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang?
Ada 4 skenario untuk memperbesar kekuatan gerakan 212 itu agar raihan 58%
seperti yang terjadi di DKI dapat terulang di pentas nasional.
Pertama, lewat serangan langsung kepada Jokowi. Isu yang pasti digoreng
lagi adalah isu komunis (walapun sudah mulai digebuk Jokowi), utang dan
penjualan BUMN (diiklankan kepada rakyat yang kurang paham bisnis, dan isu
otoriter Jokowi (UU Ormas). Isu-isu ini bisa dipastikan akan menjadi menu
utama yang dibahas di tempat-tempat ibadat di seluruh Indonesia dengan
strategi ala Eep Syaifullah. Lewat serangan ini saja partai Gerinda sudah
mulai memanen hasilnya. Menurut hasil salah satu Survei, elektabilitas
Gerinda kini sudah menyalib PDIP. Jika isu-isu ini tak bisa diredam oleh
para pendukung Jokowi, maka lewat isu ini saja Jokowi akan bisa
ditumbangkan oleh lawannya.
Ke dua, lewat pintu Anies di Jakarta. Motto Anies: “bahagiakan warganya”
akan terus dimainkan oleh Anies-Sandiaga lewat APBD, Pergub dan kebijakan
lainnya. Dana hibah Rp. 1,7 Triliun yang dikucurkan kepada Ormas, lembaga
dan seterusnya adalah bertujuan untuk membahagiakan warga Jakarta. Anggaran
untuk DPRD yang membengkak juga bertujuan untuk membahagiakan anggota DPRD.
Begitu juga pembiaran preman dan PKL di Tanah Abang dan di tempat-tempat
lain bertujuan untuk membahagiakan warga.
Untuk membahagiakan para Ketua RT dan RW, Anies berencana menaikkan biaya
operasional RT dan RW tanpa perlu melaporkannya. Pemakaian Monas, pemberian
izin motor melewati jalan protokol aneka pencabutan Pergub masa Ahok adalah
cara Anies mengambil hati warga Jakarta. Nantinya strategi Anies yang
sukses membahagiakan warga Jakarta, akan dijadikan iklan oleh Anies dalam
bursa Capres 2019. Ingin bahagia seperti warga Jakarta? Pilihlah Anies
menjadi presiden. Jokowi yang bermotto: kerja, kerja, kerja bisa tidak
menarik lagi bagi pemilih.
Ke tiga, membangun opini bahwa Jokowi adalah musuh Islam, musuh ulama,
antek asing dan aseng. Jelas kampanye ini amat laku di kalangan rakyat yang
tidak kritis. Bisa dipastikan bahwa serangan terhadap Jokowi yang akan
dicap sebagai musuh Islam dengan iklan mengkriminalisasi ulama, akan
semakin gencar dilakukan. Asalkan iklannya pas, maka Jokowi sebagai musuh
Islam, musuh ulama, bisa mempengaruhi pemilih pada Pilpres 2019 mendatang.
Jika hal ini terjadi, maka Jokowi bisa ditumbangkan dengan mudah.
Ke empat, menunggu terpelesetnya Jokowi. Gerakan 212 ibarat macan, harimau
atau singa di padang rumput, buaya di sungai dan elang di udara yang sedang
mengintai mangsanya. Para lawan-lawan Jokowi kini terus menunggu dan bahkan
aktif memancing dan menjebak Jokowi agar terpeleset. Mereka mengharapkan
Jokowi melakukan blunder kata-kata seperti Ahok. Jika ada sedikit saja
kesalahan verbal, Jokowi maka kesalahan itu akan mereka gelembungkan
berkali-kali lipat lewat demo. Jika hal ini terjadi maka apa yang dialami
Ahok, bisa juga terjadi pada Jokowi.
Reuni ala 212 yang baru saja dilakukan, hanyalah konsolidasi kekuatan
menjelang Pilpres 2019. Dengan dana tak terbatas dari para pewaris Orba,
maka gerakan 212 dalam sekejap dapat berubah menjadi demo besar dengan
tujuan untuk melahap Jokowi. Ketika Jokowi melakukan blunder, para alumni
212 siap bereaksi sekali seminggu, sekali dua minggu atau sekali sebulan
dengan tanggal cantik.
Nah, pada saat demo-demo itulah nantinya Riziq yang saat ini masih kabur ke
Arab Saudi, akan kembali memanfaatkan situasi. Ia mungkin disambut bak
pahlawan dan sebagai figur pujaan penentang Jokowi. Jika Rizieq ditangkap
oleh aparat, maka gerakan 212 akan bereaksi membelanya. Jika aparat
melakukan kekerasan, maka demo-demo dilakukan lebih gegap untuk menekan
Jokowi. Pada saat itulah pesona Riziq dan Amin Rais kembali berkibar. Demo
pun akan semakin ditingkatkan untuk menarik simpati lebih banyak pihak
untuk menentang Jokowi.
Jadi, kesimpulannya, gerakan 212 saat ini cukup kuat dan sangat berpotensi
menumbangkan Jokowi. Jika salah satu dari 4 skenario di atas berhasil, maka
kekuatan gerakan 212 dengan 3 partai di belakangnya beserta sejumlah Ormas
radikal, tinggal memilih pasangan Capres dan Cawapresnya. Apakah pasangan
Prabowo-Anies atau Anies-Rizieq, Ahmad Dhani atau AA Gym yang dipilih,
tinggal dikocok-kocok sesuai dengan selera.
Lalu, bagaimana strategi Jokowi dalam menghadapi gerakan 212 tersebut?
Apakah Jokowi bisa disamakan dengan Ahok yang sukses ditumbangkan oleh
gerakan ini? Simak tulisan kami selanjutnya. Salam Towi-towi.

Kirim email ke