----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 17 Desember 2017 04.16.47 
GMT+1Judul: [GELORA45] “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam 
Hatimu!”(Kol. 3:15a)
     








Pesan Natal Bersama KWI dan PGI 2017


 Jumat, 15 Desember 2017 15:45 WIB


BBC Indonesia

Pohon Natal di depan masjid Lebanon. 



TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan 
Gereja-gereja di Indonesia (PGI)mengeluarkan pesan Natal bersama 2017.





Tema Pesan Natal PGI-KWI Tahun 2017 ini adalah: "Hendaklah Damai Sejahtera 
Kristus Memerintah dalam Hatimu" (Kolose 3:15a).



Berikut isi pesan Natal bersama KWI dan PGI 2017 yang ditandatangani Ketua KWI 
Mgr Ig Suharyo dan Sekjen KWI Mgr. Antonius S. Bunjamin, OSC serta Ketua Umum 
PGI Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang dan Sekretari Umum PGI Pdt. Gomar Gultom.




Berikut teks selengkapnya:

“Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!”(Kol. 3:15a)

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat dan Raja Damai. Perayaan ini 
mengajak kita untuk menyimak kembali pesan utamanya. Karena kasih-Nya yang 
begitu besar kepada manusia, Allah telah mengutus Putra-Nya ke dunia (bdk. Yoh 
3:16). Putra-Nya itu mengosongkan diri sehabis-habisnya dan menjadi manusia 
seperti kita (bdk. Flp 2:7). Ia datang untuk memberi kita hidup yang 
berkelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Ia, yang adalah Raja Damai dan Imanuel, 
Allah-beserta-kita, datang untuk membawa damai sejahtera kepada dunia, seperti 
yang diwartakan para malaikat kepada para gembala,“Kemuliaan bagi Allah di 
tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang 
berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14).

Bagi kita umat Kristiani, kelahiran Sang Raja Damai merupakan suatu momentum 
untuk membaharui hidup pribadi maupun hidup bersama. Sebagai umat beriman, yang 
dilahirkan kembali, kita harus membuka diri agar damai sejahtera Kristus 
benar-benar memerintah dalam hati kita (bdk. Kol 3:15a). Kita mendambakan damai 
sejahtera, baik dalam hidup pribadi maupun dalam hidup bersama. Kita merindukan 
suatu bumi yang penuh damai dan umat manusia yang makin bersaudara. Hanya 
dengan demikian, kita akan mengalami sukacita sejati.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Sudah sepatutnya kita semua berusaha menemukan makna dan relevansi perayaan 
Natal bagi kita umat Kristiani dan bagi bangsa Indonesia. Perayaan Natal 
seharusnya menjadi momentum indah bagi kita untuk menyadari kembali tugas 
perutusan serta komitmen kita, sebagai elemen bangsa dan negara tercinta ini. 
Kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini merupakan tantangan sekaligus 
panggilan bagi kita untuk merenungkan dan menarik secara lebih seksama makna 
dari seruan Santo Paulus, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam 
hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan 
bersyukurlah” (Kol 3:15a).

Kata-kata Paulus ini seharusnya mendorong kita untuk terus-menerus mengupayakan 
terwujudnya damai sejahtera, karena hanya dengan demikian kita memahami makna 
sejati Natal.

Sebagai anak-anak Allah, sumber damai kita, kita harus mewujudkan komitmen 
kristiani kita, yakni menjadi pembawa damai (bdk. Mat 5:9).

Saat ini kita sedang cemas. Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang 
terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa beberapa tahun 
belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara samar-samar atau pun secara 
terang-terangan, tergoda untuk menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan 
konsensus dasar kebangsaan kita, yaitu Pancasila. Hal itu terlihat dalam banyak 
aksi dan peristiwa: dalam persaingan politik yang tidak sehat dan yang 
menghalalkan segala cara, dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak 
sungkan membawa-bawa serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lainnya. 
Dengan demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi 
sulit terwujud.

Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan UUD 
1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan damai sejahtera, bukan 
saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih perlu kita perjuangkan terus 
bersama-sama. Sistem dan mekanisme demokrasi masih perlu kita tata dan benahi 
terus agar mampu mewujudkan secara efektif cita-cita bersama kita. Tentu saja 
hal ini tidaklah mudah.

Sebagai elemen bangsa, yang adalah kawanan kecil, kita, umat Kristiani tidak 
mampu menyelesaikan semua persoalan yang kita hadapi hanya dengan mengandalkan 
kekuatan sendiri. Inilah saatnya bagi kita untuk membiarkan damai Kristus 
memerintah dalam hati. Damai Kristus, yang memerintah dalam hati kita, 
merupakan kekuatan yang mempersatukan dan merobohkan tembok pemisah, “Karena 
Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang 
telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef 2:14). Hanya dengan 
damai Kristus yang menguasai hati kita, kita akan dimampukan untuk membuka 
diri, merangkul dan menyambut sesama anak bangsa dan bersama mereka merajut 
kesatuan dan melangkah bersama menuju masa depan yang semakin cerah.

Inspirasi dan kekuatan spiritual yang mendorong kita untuk mewujudkan kesatuan 
dan untuk sungguh-sungguh melibatkan diri dalam pembangunan bangsa dan negara 
Indonesia yang tercinta, kita timba dari kabar sukacita Yesaya: “Sebab seorang 
anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan kepada kita; lambang 
pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat 
Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan 
damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam 
kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan 
kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya”(Yes 9:5-6).

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus

Kita selalu mendambakan damai sejati, yang dilandaskan pada keadilan dan 
kebenaran. Isi kabar sukacita Natal adalah kelahiran Sang Messias, yang akan 
mengokohkan Kerajaan-Nya, yaitu kerajaan keadilan dan kebenaran, di mana kita 
semua adalah warganya. Sebagai warga Kerajaan itu kita ditantang untuk 
memperjuangkan kesatuan, persaudaraan, kebenaran dan keadilan serta damai 
sejahtera. Memperjuangkan keadilan, memperkecil jurang kaya dan miskin, 
memberantas korupsi, merobohkan tembok pemisah atas nama suku, agama dan ras 
adalah mandat Injili yang mesti kita perjuangkan di bumi Indonesia ini.

Ketika kita sendiri berusaha memberikan kesaksian dalam usaha mewujudkan 
keadilan, kebenaran, damai sejahtera dan persaudaraan, tentu kita patut mawas 
diri. Mungkin kita masih menutup diri dalam kenyamanan hidup menggereja, 
sehingga lalai mewujudkan diri sebagai garam dan terang dunia. Mungkin kita 
sendiri masih enggan mengulurkan tangan kasih dan persaudaraan kepada sesama 
anak bangsa, terutama kepada mereka yang kecil dan terpinggirkan. Bukankah 
damai sejahtera hanya dapat terwujud ketika kita berhasil mengalahkan 
kepentingan diri demi kebaikan bersama? Bukankah Raja Damai yang lahir ke dunia 
menyadarkan kita bagaimana Dia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa 
seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:7)?

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus

Sebagai warga Kristiani, kita sendiri ditantang untuk tak henti-hentinya 
mewujudkan damai sejahtera, kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Karena 
itu, kita patut bersyukur atas hasil kerja keras dari Komisi Gereja Lutheran 
dan Katolik untuk menggalang persatuan. Selama 500 tahun, kita merajut 
kerukunan dan kehangatan persaudaraan di antara kita dengan jatuh bangun. Dari 
Juru Selamat, yang adalah Jalan, Kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6), kita belajar 
untuk merendahkan diri dan membuka diri satu sama lain. Dalam semangat itulah, 
kita belajar mengulurkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Kita belajar saling 
mengampuni dan memaafkan. Jika ada kasih dan damai dalam hati kita 
masing-masing, kita akan bersukacita dan dapat bersama-sama mewujudkan 
komunitas ekumenis. Dengan bersatu sebagai umat Kristiani, kesaksian kita 
tentang kerukunan dan persaudaraan kepada masyarakat majemuk di negeri ini 
lebih berarti dan meyakinkan.

Selain rukun dengan sesama, damai yang dibawa Sang Juru Selamat juga mengajak 
kita untuk berdamai dengan segenap ciptaan. Saat ini ciptaan sedang menjerit 
karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya. Tanpa tanggungjawab 
kita menggunakan dan menyalah-gunakan kekayaan yang ditanamkan Allah di 
dalamnya. Mewujudkan damai sejahtera dengan alam ciptaan berarti 
bertanggungjawab memulihkan keutuhannya. Selain itu, kita wajib mewujudkan 
keadilan dalam hidup bersama, karena alam merupakan sumber hidup yang 
disediakan Tuhan bagi semua manusia, dan bahwa segala sesuatu bersatu dan 
tertuju kepada Kristus sebagai kepala (Kol 1:15-22). Dengan demikian, masih ada 
banyak yang perlu kita kerjakan untuk menciptakan kerukunan dan persaudaraan, 
sementara dilain pihak kita patut selalu bersyukur karena karya besar Tuhan 
yang kita alami bersama.

Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita semua untuk belajar dan 
mengembangkan kemampuan menerima perbedaan dan menyukurinya sebagai kekayaan 
kehidupan bersama kita di negeri ini. Marilah kita menghidupi dan mengembangkan 
damai sejahtera yang merupakan anugerah dari Allah, dengan jalan merangkul 
sesama, merawat ciptaan serta memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara 
kita. Hanya dengan demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera 
Kristus memerintah dalam hati kita. Selamat Natal, Tuhan memberkati.

SELAMAT NATAL 2017 DAN TAHUN BARU 2018

Jakarta, 22 November 2017

Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA                                                       
 KONFERENSI WALIGEREJA

DI INDONESIA (PGI)                                                              
               INDONESIA (KWI)

Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang                                                   
       Mgr. Ignatius Suharyo

Ketua Umum                                                                      
                  Ketua

Pdt. Gomar Gultom                                                               
             Mgr. Antonius S. Bunjamin, OSC



Sekretaris Umum                                                                 
               Sekretaris Jenderal



    

Kirim email ke