Pak Nuh, bagaimana orang Indonesia yang sujudnya diluar negeri, beranak pinak 
di LN, mencari nafkah di LN dan matinya di LN, apakah harus mancintai 
Indonesia???
   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'j.gedearka' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; Persaudaraan 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; Sahala Silalahi <[email protected]>Terkirim: 
Sabtu, 16 Desember 2017 19.41.52 GMT+1Judul: [GELORA45] Kenapa Harus Bangga 
Jadi Orang Indonesia, Ini Kata M Nuh
     
 


 
 

 
 
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3772998/kenapa-harus-bangga-jadi-orang-indonesia-ini-kata-m-nuh?_ga=2.207664215.47362538.1513448916-1514668542.1513448916
 
 
Follow detikcom             
  Sabtu 16 Desember 2017, 21:57 WIB 
Kenapa Harus Bangga Jadi Orang Indonesia, Ini 
 
 
Kata M Nuh
 Rois Jajeli - detikNews     Share 0    Tweet     Share 0    0 Komentar     
Foto: Rois Jajeli                    Surabaya - Mantan Menteri Pendidikan dan 
Kebudayaan M Nuh mengajak masyarakat, untuk bangga dan cinta menjadi warga 
negara Indonesia. 
 
 "Kenapa kita harus bangga dan cinta Indonesia. Karena, setiap malam kita sujud 
di bumi Indonesia. Kita mencari nafkah di bumi Indonesia. Suatu saat nanti kita 
mati, juga dimakamkan di Indonesia. Masak nggak cinta dan bersyukur terhadap 
bangsa Indonesia," kata M Nuh saat memberikan sambutan di sela Seminar Nasional 
dan Launching Pusat pengembangan masyarakat dan peradaban Islam (PPMPI), 
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), di Surabaya, Sabtu (16/12/2017).
 
 "Aneh kalau sujud di Indonesia. Beranak-pinak di Indonesia. Meninggalnya pun 
di Indonesia. Kok nggak cinta dengan Indonesia, eman temen (sangat 
disayangkan)," tuturnya.
 
 Dalam kesempatan itu, M Nuh yang juga Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya 
(Yarsis) ini menerangkan, Unusa ingin betul menjadi atau berperan sebagai mesin 
keilmuan, produksi ilmu.
 
 "Jadi bukan hanya melaksanakan, tidak hanya mengajarkan, tapi menjadi mesin 
ilmu. Oleh karena itu, kita buat satu pusat yang sifatnya interdisipliner, 
tidak hanya bidang satu tapi beragam bidang, yaitu terkait dengan peradaban," 
terangnya.
 
 Katanya, peradaban modern sekarang ini yang mengemuka antara lain, 
ekstremitas. "Kita nggak ingin melihat ekstrimitas dari perspektif keagamaan 
semata, itu yang selama ini dipakai. Tapi kita melihat dari dimensi yang lain 
yaitu, dimensi sosial, dimensi psikologi," tuturnya.
 
 Psikologi itu berkaitan dengan perorangan. Kenapa orang itu menjadi ekstrem. 
"Itu tinjauan personalnya seperti apa, psikologinya kayak apa. Kedua, orang ini 
kan hidupnya di komunitas. Kita pun ingin melihat pengaruh sosial, terhadap 
pembentukan ekstremitas, baik ekstremitas skala nasional maupun skala komuniti 
atau kelompok," katanya.
 
 Ia mengatakan, pada tahun pertama ini, dilakukan pengkajian, dengan melibatkan 
para ahlinya.
 
 "Sehingga pada Tahun 2018 kita harapkan keluar semacam rekomendasi tentang 
ekstremitas dari perspektif psikologi dan perspektif sosial," tandasnya. 
 (fat/fat)
 
 
 
 
 
 
      

Kirim email ke