*Cerita agak lama, tetapi mungkin belum basi. hehehehe*


https://www.eramuslim.com/editorial/meneladani-orang-cina-dalam-belanjakan-uang.htm#.WjcYPjdG12E


Meneladani Orang Cina Dalam Belanjakan Uang



Redaksi – Sabtu, 1 Safar 1439 H / 21 Oktober 2017 17:00 WIB

Eramuslim.com – Suatu siang, seorang CEO sebuah publishing di Jakarta
bercerita tentang masa remajanya di kampung halamannya di Pekalongan, Jawa
Tengah. “Sejak dulu banyak warga Arab di Pekalongan. Usaha yang banyak
mereka tekuni adalah bidang furniture. Di Pekalongan, rata-rata pengusaha
furniture itu orang Arab. Tapi tentu saja ada juga satu-dua orang Cina yang
juga punya usaha furniture di sana. Di Pekalongan, orang Cina juga banyak.
Kita semua hidup dengan damai, sejak dulu sampai sekarang. Tapi ada
fenomena menarik, orang-orang Cina di Pekalongan dan sekitarnya, selalu
membeli furniture untuk rumah dan kantor-kantor yang mereka miliki dari
pengusaha furniture Cina Pekalongan lainnya. Tidak pernah mereka membeli
dari orang Arab. Kita sebenarnya bisa mencontoh mereka dalam membelanjakan
uang, dengan hanya membelanjakan uang ke orang-orang kita sendiri.”

Pengalaman sahabat saya itu ternyata juga sama dengan yang terjadi di
sebuah perusahaan besar, mentereng, yang ada di timur Jakarta, yang
dimiliki salah satu taipan apan atas negeri ini. Sudah menjadi pengetahuan
umum seluruh karyawan di sana, jika mau membeli sesuatu untuk keperluan
kantor, maka harus membelinya di supermarket atau toko yang juga dimiliki
oleh orang Cina. Bahkan untuk membeli satu kotak tissue, harus seperti itu.

Ada satu pengalaman seorang karyawan di sana yang kehabisan tissue dan
ternyata bagian gudang pun kehabisan stok. Karyawan ini kemudian membeli
sekotak tissue di warung kecil di pinggir jalan. Tak lupa dia meminta bon
agar uangnya bisa di-*reimburse*. Namun ketika sampai di kantor, petugas di
bagian gudang menyatakan uang karyawan yang tidak seberapa itu tidak bisa
di-*reimburse* hanya gegara membelinya di toko pinggir jalan, bukan “di
toko yang biasa”. Itu cuma untuk sekotak tissue!

Cara-cara seperti ini, selektif dalam membelanjakan uang hanya kepada
bangsanya sendiri, juga sudah lama dilakukan oleh orang Yahudi.

Seorang sahabat, pengusaha yang sering bepergian ke luar negeri, bercerita
tentang pengalamannya di New York, AS. Suatu siang, sehabis lunch di sebuah
kedai di pinggir jalan di kota Big Apple tersebut, dia memperhatikan
seorang kakek yang berdiri lama di pinggir jalan di dekat rambu penyetopan
taksi. Beberapa taksi yang kosong sudah memberi isyarat padanya, tapi si
kakek itu tidak mau juga naik. Dengan penasaran, pengusaha asal Indonesia
ini berjalan menghampiri sang kakek dan bertanya, “Kakek mau naik taksi?”

“Iya, saya mau memberhentikan taksi…,” jawabnya.

“Tapi bukankah sudah banyak taksi kosong yang tidak kakek berhentikan, dan
dibiarkan lewat?”

Si kakek itu tertawa, “Saya hanya mau naik taksi yang dimiliki pengusaha
Yahudi.”

“Tapi bukankah di sini panas? Kakek sudah lama menunggu…”

“Tidak apa-apa. Ini pengorbananku untuk saudara-saudaraku…”

Si pengusaha itu terdiam dan merenung.

Andaikata umat Islam yang banyak itu meneladani orang-orang Yahudi, dan
juga orang Cina, yang sangat selektif dalam membelanjakan uangnya, betapa
dahsyat hasilnya dalam membangun umat tauhid ini dalam sektor perekonomian.

Dr. Yusuf Qaradhawy pernah mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam
membelanjakan uangnya ke pihak Zionis, dan mewajibkan orang Muslim hanya
membelanjakan uangnya ke saudara-saudaranya sendiri. Namun gaung ini kurang
didengarkan agaknya.

Jangankan masyarakat awam, para aktivis Islam saja banyak yang tidak peduli
dengan jihad ekonomi ini. Mereka selalu ambil gampangnya dan tidak mau
berkorban seperti halnya kakek yahudi di New York di atas.

“Ngapain susah-susah belanja, toh jumlahnya tidak banyak.”

“Ngapain nyusahin diri sendiri….”

Itu sedikit dari sekian banyak dalih agar nurani tak berontak tatkala kita
membelanjakan uang kita ke kantong orang lain.

Nah, bagi yang mau memulai meneladani orang Cina dan Yahudi dalam
berbelanja, mulailah membeli barang-barang kebutuhan harian di
warung-warung saudara-saudara kita di sekitar rumah. Mahal sedikit, itu
anggap saja sedekah yang tidak akan hilang dan kelak akan kembali kepada
kita berlipat-lipat di hari akherat kelak.

Jika ingin membeli baju atau sepatu, belilah di sentra-sentra grosir yang
bertebaran di mana-mana, pilihlah toko atau produk yang dihasilkan oleh
saudara-saudara kita.

Kita bukannya rasis. Tapi kita hanya mencontoh orang-orang Cina dan Yahudi
dalam membelanjakan uangnya.

Bukankah begitu?

Kirim email ke