Yang bung paparkan itu adalah: give and take alias timbal balik.

Artikelnya beda. Pesannya adalah eksklusisme Islam. Ini tidak benar. Kenapa 
tidak benar?

Ya kalau konsumennya Islam menginginkan produk/jasa yang diproduksi oleh bukan 
Islam, kan artinya konsumen Islam ini tidak akan beli/punya barang yang bukan 
bikinan orang Islam.

Artinya orang islam tidak akan pernah bisa makan makanan jepang, minum coca 
cola,memakai Iphone atau Samsung yang semuanya adalah buatan orang non Islam.

 

Inilah akibat campur tangan manusia dalam agama yg keblinger.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, December 17, 2017 9:41 PM
To: Gelora45 <[email protected]>; Sunny ambon <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Meneladani Orang Cina Dalam Belanjakan Uang

 

  

Jaman dulu itu, pemilik toko melayani sendiri tokonya.

Kalau kenal baik yang beli, atau pembelinya sering datang, dia Kasih potongan.

Si pembeli kadang2 juga pengusaha, yang juga menawarkan sesuatu pada

pemilik toko.

Pemilik toko merasa berdasarkan ajaran Confucianisme timbal balik, punya

perasaan wajib membeli pada langganannya.

Lain dengan jaman sekarang. Pemiliknya tidak pernah kelihatan di tokonya.

Dulu kalau kami ke restaurant di negeri Belanda, ya rasanya enak, diajak

omong oleh pemiliknya. Sekarang hanya restaurant kecil, yang pemiliknya

keluar, ngobrol dengan langganan.

Sekarang ada yang masih lumayan, ada captainnya yang ngajaki ngobrol,

kalau orang sering datang. Ada yang perhatikan orang senang sambel minyak

( campuran lombok kecil, bawang puih dan kedelai hitam), dikasih satu

botol untuk dibawa pulang.

Satu rumah makan yang sering didatangi seorang dokter gigi, jadi patient

dokter gigi itu bersama seluruh pegawainya.

Kalau dia dibehandel gratis oleh si dokter gigi, dia balas si dokter gigi yang

pesan satu meja, disodori rekening dengan tulisan nul Euro. Pikir2 kan

pinter juga, sama2 tidak bayar pajak.........

 

2017-12-18 2:32 GMT+01:00 Sunny ambon [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >:

  

Cerita agak lama, tetapi mungkin belum basi. hehehehe 

 

 

https://www.eramuslim.com/editorial/meneladani-orang-cina-dalam-belanjakan-uang.htm#.WjcYPjdG12E

 


Meneladani Orang Cina Dalam Belanjakan Uang


 

Redaksi – Sabtu, 1 Safar 1439 H / 21 Oktober 2017 17:00 WIB

Eramuslim.com – Suatu siang, seorang CEO sebuah publishing di Jakarta bercerita 
tentang masa remajanya di kampung halamannya di Pekalongan, Jawa Tengah. “Sejak 
dulu banyak warga Arab di Pekalongan. Usaha yang banyak mereka tekuni adalah 
bidang furniture. Di Pekalongan, rata-rata pengusaha furniture itu orang Arab. 
Tapi tentu saja ada juga satu-dua orang Cina yang juga punya usaha furniture di 
sana. Di Pekalongan, orang Cina juga banyak. Kita semua hidup dengan damai, 
sejak dulu sampai sekarang. Tapi ada fenomena menarik, orang-orang Cina di 
Pekalongan dan sekitarnya, selalu membeli furniture untuk rumah dan 
kantor-kantor yang mereka miliki dari pengusaha furniture Cina Pekalongan 
lainnya. Tidak pernah mereka membeli dari orang Arab. Kita sebenarnya bisa 
mencontoh mereka dalam membelanjakan uang, dengan hanya membelanjakan uang ke 
orang-orang kita sendiri.”

Pengalaman sahabat saya itu ternyata juga sama dengan yang terjadi di sebuah 
perusahaan besar, mentereng, yang ada di timur Jakarta, yang dimiliki salah 
satu taipan apan atas negeri ini. Sudah menjadi pengetahuan umum seluruh 
karyawan di sana, jika mau membeli sesuatu untuk keperluan kantor, maka harus 
membelinya di supermarket atau toko yang juga dimiliki oleh orang Cina. Bahkan 
untuk membeli satu kotak tissue, harus seperti itu.

Ada satu pengalaman seorang karyawan di sana yang kehabisan tissue dan ternyata 
bagian gudang pun kehabisan stok. Karyawan ini kemudian membeli sekotak tissue 
di warung kecil di pinggir jalan. Tak lupa dia meminta bon agar uangnya bisa 
di-reimburse. Namun ketika sampai di kantor, petugas di bagian gudang 
menyatakan uang karyawan yang tidak seberapa itu tidak bisa di-reimburse hanya 
gegara membelinya di toko pinggir jalan, bukan “di toko yang biasa”. Itu cuma 
untuk sekotak tissue!

Cara-cara seperti ini, selektif dalam membelanjakan uang hanya kepada bangsanya 
sendiri, juga sudah lama dilakukan oleh orang Yahudi.

Seorang sahabat, pengusaha yang sering bepergian ke luar negeri, bercerita 
tentang pengalamannya di New York, AS. Suatu siang, sehabis lunch di sebuah 
kedai di pinggir jalan di kota Big Apple tersebut, dia memperhatikan seorang 
kakek yang berdiri lama di pinggir jalan di dekat rambu penyetopan taksi. 
Beberapa taksi yang kosong sudah memberi isyarat padanya, tapi si kakek itu 
tidak mau juga naik. Dengan penasaran, pengusaha asal Indonesia ini berjalan 
menghampiri sang kakek dan bertanya, “Kakek mau naik taksi?”

“Iya, saya mau memberhentikan taksi…,” jawabnya.

“Tapi bukankah sudah banyak taksi kosong yang tidak kakek berhentikan, dan 
dibiarkan lewat?”

Si kakek itu tertawa, “Saya hanya mau naik taksi yang dimiliki pengusaha 
Yahudi.”

“Tapi bukankah di sini panas? Kakek sudah lama menunggu…”

“Tidak apa-apa. Ini pengorbananku untuk saudara-saudaraku…”

Si pengusaha itu terdiam dan merenung.

Andaikata umat Islam yang banyak itu meneladani orang-orang Yahudi, dan juga 
orang Cina, yang sangat selektif dalam membelanjakan uangnya, betapa dahsyat 
hasilnya dalam membangun umat tauhid ini dalam sektor perekonomian.

Dr. Yusuf Qaradhawy pernah mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam 
membelanjakan uangnya ke pihak Zionis, dan mewajibkan orang Muslim hanya 
membelanjakan uangnya ke saudara-saudaranya sendiri. Namun gaung ini kurang 
didengarkan agaknya.

Jangankan masyarakat awam, para aktivis Islam saja banyak yang tidak peduli 
dengan jihad ekonomi ini. Mereka selalu ambil gampangnya dan tidak mau 
berkorban seperti halnya kakek yahudi di New York di atas.

“Ngapain susah-susah belanja, toh jumlahnya tidak banyak.”

“Ngapain nyusahin diri sendiri….”

Itu sedikit dari sekian banyak dalih agar nurani tak berontak tatkala kita 
membelanjakan uang kita ke kantong orang lain.

Nah, bagi yang mau memulai meneladani orang Cina dan Yahudi dalam berbelanja, 
mulailah membeli barang-barang kebutuhan harian di warung-warung 
saudara-saudara kita di sekitar rumah. Mahal sedikit, itu anggap saja sedekah 
yang tidak akan hilang dan kelak akan kembali kepada kita berlipat-lipat di 
hari akherat kelak.

Jika ingin membeli baju atau sepatu, belilah di sentra-sentra grosir yang 
bertebaran di mana-mana, pilihlah toko atau produk yang dihasilkan oleh 
saudara-saudara kita.

Kita bukannya rasis. Tapi kita hanya mencontoh orang-orang Cina dan Yahudi 
dalam membelanjakan uangnya.

Bukankah begitu?

 

 



Kirim email ke