Jadi teringat seorang sahabat juga berusaha keras membantu anak-menantu nya untuk menemukan kedua orang-tua, tapi, ... sayang TIDAK BERHASIL. Rupanya, anak menantu nya diadobsi kedua orang-tua di Swedia ini berasal dari Jawa tanpa ada catatan resmi asal orang-tua sesungguhnya. Setelah menemui beberapa orang yang “MENGAKU” orang-tuanya, ternyata kisah yang diceritakan tidak sesuai dengan anak tsb. .
Kehidupan dalam masyarakat seringkali harus menelan kepahitan, baik penderitaan kemiskinan yang dihadapi maupun kebijaksanaan pemerintah. Akibat dari kemiskinan, untuk pertumbuhan anak-anak nya, dengan sendirinya orang-tua dihadapkan pada pilihan pahit. Melepaskan buah-hatinya itu pada orang lain yang dianggap mampu memelihara anaknya itu lebih baik, ... dijaman dahulu biasa dilakukan diantara sahabat. Cara demikian ini cukup baik, orang-tua tetap bisa mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak nya, sekalipun anak yang bersangkutan baru diberitahu setelah DEWASA. Dan dengan demikian, hubungan orang-tua dengan anaknya bisa berlangsung baik-baik dan wajar saja. Kemudian ada lagi orang-tua yang mengambil jalan fatal, “MEMBUANG” anak nya itu entah di vihara, gereja bahkan ada juga ditaroh begitu saja dibawah pohon atau tong sampah! Tentu yang KASIHAN nasib anak tsb., kebetulan bisa ketemu orang yang baik-hati memungut dan mengasuhnya sampai dewasa menjadi orang baik-baik, ... kalau tidak kebetulan, anak tsb. bisa terlantar atau masuk ke penitipan yatim-piatu. Di Tiongkok dalam 30 tahunan yl. keluarkan ketentuan Keluarga-Berencana anak TUNGGAL dengan ketat dan keras, akibatnya, dalam masyarakat terjadi “kelebihan” anak lebih dari SATU membebani orang-tua, karena TIDAK ada tunjangan pemerintah untuk anak-kedua, ketiga, ... Lalu? Muncul jalan pemecahan mengadobsikan anak pada pasangan keluarga yg tidak bisa punya anak. Dan ternyata banyak permintaan dari negara-negara maju, Eropah dan AS. Untuk menghindari kemungkinan “Jual-Beli” anak menjadi rusak, pemerintah keluarkan peraturan resmi ketentuan mengadobsi anak, ... Ooouuuh, rupanya ada pasaran dan “menguntungkan”, terjadilah “pencurian” bayi, anak-anak, ... membuat RESAH orang-tua. Sementara ada saja pejabat korup yg bisa meloloskan “Jual-Beli” anak, pekerjaan berat bagi POLISI untuk menertibkan, ... Bagaimanapun juga pertemuan kembali anak dengan orang-tua sangat mengharukan dan tentu menggembirakan! Yang lebih PENTING, pertemuan macam ini tidak menjadi BEBAN yg terjadi, khususnya bagi orang-tua yg merasa BERSALAH “membuang” anak nya karena terpaksa keadaan, ... berbahagialah melihat pertumbuhan anaknya menjadi seorang yang sehat dan baik-baik, ... yg mungkin tidak akan terjadi kalau dipaksakan diasuh sendiri! Dan dengan demikian hubungan anak dan orang-tua nya kembali bisa berlangsung wajar dan harmonis, ...! Salam, ChanCT From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] Sent: Monday, December 18, 2017 2:30 AM http://internasional.kompas.com/read/2017/12/17/22472221/kisah-mereka-yang-terpisah-temui-saya-di- jembatan-dalam-20-tahun Kisah Mereka yang Terpisah: Temui Saya di Jembatan dalam 20 Tahun... Kompas.com - 17/12/2017, 22:47 WIB Orangtua Kati, Lida dan Fenxiang, hanya meninggalkan catatan di atas kertas tentang harapan untuk bertemu kembali dengan sang anak di sebuah jembatan terkenal di kota itu kira-kira 10 atau 20 tahun kemudian.(BBC ) HANGZHOU, KOMPAS.com - Ketika usianya masih tiga hari, Kati Pohler ditinggalkan oleh orangtuanya di sebuah sudut pasar di Hangzhou, China. Orangtuanya, Lida dan Fenxiang, hanya meninggalkan catatan pada selembar kertas tentang harapan untuk bertemu kembali dengan sang anak di sebuah jembatan terkenal di kota itu dalam 10 atau 20 tahun kemudian. Setahun kemudian, bayi itu diadopsi oleh keluarga Ken Pohler dari Michigan, Amerika Serikat, dari sebuah panti asuhan di Suzhou, China. Mereka membawa serta catatan tersebut. Selama puluhan tahun, China memberlakukan kebijakan satu anak. Tidak main-main, bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak, hukumannya denda uang yang mencekik, aborsi paksa atau disteril. Dan pada tahun 1994, di luar kehendak, Fenxiang hamil anak kedua. Berusaha merahasiakannya, tetapi Lida dan Fenxiang bingung ketika dihadapkan jalan keluarnya. "Saya berdosa apabila kami membunuh janinnya," Lida belakangan bersaksi. Di hadapkan ketakutan dan kebingungan, Lida dan Fenxiang akhirnya berusaha meyakinkan diri sendiri. "Apabila kita tidak mampu membesarkannya, lebih baik kita melepaskannya." Lida mencoba mengingat lagi ucapan yang tidak akan dia lupakan sepanjang hidupnya. Di sebuah pagi, hari ketiga setelah bayi itu lahir, keluarga miskin ini akhirnya memilih jalan untuk "melepaskan" sang bayi. "Saya menyiapkan susunya, memeluknya, dan memeluknya. Lalu saya menuju ke pasar," sang ayah mencoba mengingat. "Saya ingat dia tidak menangis. Dia tertidur pulas." Orangtua Kati, Lida dan Fenxiang, hanya meninggalkan catatan di atas kertas tentang harapan untuk bertemu kembali dengan sang anak di sebuah jembatan terkenal di kota itu kira-kira 10 atau 20 tahun kemudian.(BBC) "Saya menciumnya dengan lembut." Lida melakukannya dengan penuh kasih sayang karena dia menyadari itu adalah pertemuan terakhir mereka. Bayi itu kemudian ditinggalkan di atas tumpukan barang di depan sebuah toko. Saat usianya memasuki 20 tahun, Kati Pohler -nama bayi yang ditinggalkan oleh orangtuanya di pasar- kemudian mencoba mencari orangtuanya, dan pada saat yang sama orangtua kandungnya di China masih berharap dan menunggu pertemuan di atas jembatan itu. 'Apakah saya lahir dari perutmu?' Ibu angkatnya, Ruth Pohler mengaku Kati kecil pernah menanyakan latar belakang keluarga kandungnya dalam sebuah percakapan ringan. Ketika usianya menginjak lima tahun, misalnya, dia menanyakan siapa ibu kandungnya. "Apakah saya lahir dari perutmu?" Kati mengulang pertanyaan anak angkatnya itu. "Dan saya jawab: tidak, kamu tidak lahir dari perutku." Dia lantas menjelaskan bahwa dia lahir dari seorang perempuan yang tinggal di China. "Tapi percayalah kamu adalah belahan hatiku." Menurutnya, Kati tidak terus-menerus mengajukan pertanyaan tentang siapa orangtua kandungnya. "Mungkin karena dia disibukkan hal lain." Namun demikian, yang selalu diingat Ruth, sang anak angkat itu terlihat bahagia setiap mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi keingintahuannya. Selanjutnya: 'Kadang penasaran, tapi tidak saya besar-besarkan'
