----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada:
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Selasa, 19 Desember 2017
19.03.37 GMT+1Judul: [GELORA45] Aksi Boikot AS, JK: Berani Gak Kita tak Pakai
Google dan WA?
Selasa , 19 December 2017, 15:48 WIB
Aksi Boikot AS, JK: Berani Gak Kita tak Pakai Google dan WA?
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Aksi Boikot AS, JK: Berani Gak Kita tak Pakai Google dan WA? | Republika...
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi Indonesia Bersatu Bela Palestina tentang
penolakan terhadap penetapan Yerusalem...
|
|
|
Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Jusuf Kalla
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi Indonesia Bersatu Bela Palestina tentang
penolakan terhadap penetapan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel menghasilkan
sejumlah petisi. Salah satu isi petisi dalam aksi tersebut yakni memboikot
produk-produk buatan Amerika Serikat dan Israel.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla
mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu emosional untuk memboikot
produk-produk buatan Amerika Serikat. Menurutnya, produk-produk buatan
Amerika Serikat yang ada di Indonesia adalah produk teknologi tinggi yang
memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Jangan emosional, sebenernya yang paling gampang berani nggakuntuk memboikot
iPhone, jangan pakai Google, WhatsApp, gak bisa hidup tanpa itu sekarang,
keluar rumah sekarang langsung mengantongi itu," ujar
Jusuf Kalla yang ditemui dikantornya, Selasa (19/12).
Jusuf Kalla mengatakan, masyarakat tidak bisa menghindari produk-produk
teknologi tinggi yang diproduksi Amerika Serikat karena dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari. Sementara, barang-barang kelontong saat ini sudah
diambil oleh Asia seperti Cina dan Korea Selatan. "Jadi itu yang paling
penting, kalau film masih bisa kita menghindari, kalau produk-produk itu
susah," kata Jusuf Kalla.
Sebelumnya diberitakan, Utusan Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama antar Agama
dan Peradaban Din Syamsuddin menilai, negara anggota Organisasi Kerja Sama
Islam (OKI) harus menjadi motor dan mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) agar
memberikan sanksi kepada Israel dan Amerika Serikat. Hal ini menyusul adanya
kesepakatan sepihak dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui
Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Selain itu, harus ada kesepakatan pemboikotan global dari negara-negara anggota
OKI terhadap keputusan Presiden Trump tersebut. Bentuk pemboikotan yakni
kesepakatan untuk tidak membuka kantor kedutaan besar di Yerusalem. "Harus ada
gerakan internasional yang bersifat pemboikotan global, jangan sampai ada
negara-negara OKI yang membuka kedutaan di Yerusalem, saya kira Inggris,
Perancis juga menyuarakan yang sama," ujar Din ketika ditemui di Istana Wakil
Presiden, Rabu (13/12).