Mengenal 3 Aplikasi Pengganti FB, WA, dan Google yang Dipakai FPI
7 Hour's ago by Mufti Sholih


Front Pembela Islam (FPI) mencoba menepati janjinya untuk memboikot media 
sosial Facebook (FB) saat perayaan Natal 2017, Senin 25 Desember 2017. FPI juga 
tak jadi berdemonstrasi ke Kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi serta 
kantor Facebook Indonesia sebagai reaksi pemblokiran akun media sosial mereka 
di Facebook sejak Selasa (19/12/2017).

FPI menjalankan aksi boikot dengan berhijrah dari Facebook, Google, dan 
WhatsApp ke platform lain. Platform yang dimaksud FPI adalah Redaksitimes.com, 
Geevv.com, dan Callind.com. 

Sekretaris DPD FPI Jakarta Novel Bamukmin menceritakan, promosi tiga platform 
ini lantaran FPI dan sejumlah alumni 212 kerap diblokir pengelola media sosial, 
khususnya Facebook dan Twitter.

"Sejak diblokir sudah tidak buat Facebook lagi. Capek. Buat [akun kemudian] 
diblokir lagi," kata Novel kepada Tirto, Senin siang.

Kekesalan ini membuat mereka mencari platform lain supaya tetap bisa 
berkomunikasi di dunia maya. Dari hasil pencarian, ditemukan ketiga 
platformyang dibuat orang Indonesia. Ketiga platform ini, diakui Novel, memang 
belum sempurna tapi sudah layak untuk digunakan dan bisa dijadikan alternatif 
selain Facebook, WhatsApp, dan Google yang menurutnya produk Amerika Serikat.

"Cintai produk-produk Indonesia untuk kebangkitan bangsa," kata Novel.

Berikut ini beberapa media sosial yang rencananya menjadi platform baru bagi 
para anggota dan simpatisan FPI.



Redaksitimes.com

Redaksitimes atau Rtimes merupakan sebuah situs atau aplikasi jejaring sosial  
lokal mirip Facebook yang menggabungkan situs berita/media online dengan situs 
jaringan media sosial. Saat Tirto mencoba laman tersebut sudah terdapat lebih 
dari 44 halaman dengan jumlah 10 unggahan dalam setiap halaman. Setiap unggahan 
dalam laman jejaring sosial tersebut umumnya berasal dari akun yang baru aktif 
dan berisi meme bernuansa FPI atau syiar-syiar Islam.

Tampilan di laman Rtimes pun juga mirip dengan Facebook. Yang membedakan, 
dashboard Rtimes untuk Personal Computer mirip dengan dashboard Facebook untuk 
Mobile. Selain itu, kolom komentar dan menyukai (like) masih sangat sederhana 
dan mirip dengan tampilan Facebook pada 2008. Terkadang, situs jaringan sosial 
ini juga ngelack seperti handphone Android era awal yang belum di-upgrade.

Saat Tirto mencoba menghubungi admin Rtimes, admin menjelaskan mereka tidak 
pernah tahu bila FPI mempromosikan situs mereka.

“Kami tidak mengetahui ada ajakan FPI,” kata admin tersebut kepada Tirto.

Geevv.com

Geevv.com merupakan sejenis search engine yang dikembangkan Azka Asfari Silmi 
bersama Oxdream sejak 2016. Geevv.com mengadopsi konsep milik ecosia.org, 
sebuah search engine yang juga punya kegiatan donasi pohon di Jerman yang 
menggunakan database application programming Interface (API) milik Bing. API 
ini merupakan himpunan kode tertentu yang menjembatani komunikasi antara satu 
aplikasi dengan aplikasi lainnya.

Tampilan Geevv.com lebih sederhana dari Google, meskipun konsep yang diusung 
nyaris mirip. Yang membedakan, ada jumlah donasi yang tertera di pojok kanan. 
Jumlah donasi paling kecil sebesar Rp10 dan akan terus naik jika pengguna terus 
berselancar di Geevv.com. Jumlah donasi ini juga berbeda dengan yang ada di 
ecosia.org yang menampilkan jumlah donasi pohon yang disumbangkan di bawah 
kolom pencarian.

Kepada Tirto, Azka menceritakan Geevv.com sedang berusaha menjadi mesin 
pencarian daring lokal lantaran banyak pengguna yang mulai mencari alternatif 
mesin pencarian selain Google. Azka kaget ketika ditanya ihwal kabar mesin 
pencarian yang digagasnya dipromosikan FPI, ia juga baru mengetahui kabar 
tersebut dari berita Tirto.

“Ya enggak nyangka sih. Karena enggak kenal dan pernah bertemu sama orang FPI, 
tapi tiba-tiba dipromosiin,” kata Azka.

CallInd.com

Callind.com memiliki tagline 'Indonesia Memanggil'. Aplikasi ini dikembangkan 
PT Callind Network International yang berlokasi di Kebumen, Jawa Tengah. Dari 
keterangan yang dituliskan pengembangnya di Google Play Store, aplikasi ini 
dikembangkan untuk menjawab kebutuhan berkomunikasi, bukan sekadar untuk chat 
tetapi bisa untuk telepon, video call, kirim berbagai file, foto, video, dan 
juga untuk memasang iklan jual atau beli sebuah produk.

Tercatat aplikasi ini masih dalam bentuk versi 0.0.1 dengan pembaharuan 
terakhir pada 22 Mei 2017 lalu dengan 3.058 pengunduh sampai saat ini. Aplikasi 
ini berukuran 28,7 MB untuk dapat diunduh. Dengan ukuran file sebesar itu, tak 
butuh waktu lama bagi Tirto untuk mengunduhnya.

Setelah unduhan selesai, Tirto mencoba membuka aplikasi ini. Aplikasi berlogo 
menyerupai huruf 'C' ini mempunyai tampilan yang sederhana dengan latar 
berwarna biru dan tulisan berwarna putih. Sebagaimana WhatsApp, aplikasi ini 
membutuhkan persetujuan mengakses kontak, suara dan kamera dari gawai untuk 
menggunakannya.

Aplikasi ini juga meminta penggunanya memasukkan nomor telepon untuk mendaftar. 
Setelah itu, aplikasi akan mengarahkan penggunanya mengatur profil yang ingin 
ditayangkan, seperti nama dan foto.

Masalah terjadi ketika mulai mencoba menggunakannya. Aplikasi ini berhenti 
secara mendadak, lalu tertutup. Saat coba dibuka lagi, aplikasi ini tetap 
mengalami crash.

Gangguan ini ternyata juga dirasakan oleh pengguna lainnya. Beberapa pengguna 
mengeluh seringnya aplikasi ini mengalami crash saat digunakan.. Mereka juga 
mengeluhkan jeleknya kualitas tampilan foto profil yang diunggah. Namun, mereka 
tetap menyatakan kebanggaan dengan aplikasi bikinan Indonesia ini. Aplikasi ini 
pun mendapat rating 4,2 dari 5 bintang dari penggunanya.

Usaha FPI dan Pengembang Aplikasi Lokal

Promosi FPI ternyata memberi dampak signifikan buat Rtimes dan Geevv. Admin 
Rtimes menjelaskan, aplikasi jejaring media sosial ini dapat penambahan user 
yang signifikan sejak Senin (25/12/2017). Jumlah pengguna ini  terekam di 
statistik mereka selama tiga hari terakhir.  

Menurut admin, lonjakan paling besar terjadi Senin (25/12) yang tercatat 
mengalami penambahan pengguna baru sebanyak 13 ribu. “Itu yang sudah 
teregistrasi dan 327 akun yang belum tervalidasi,” ucap sang Admin yang enggan 
menyebutkan identitasnya.

Admin Rtimes tak menjelaskan lebih jauh berapa banyak pengguna yang sudah 
terdaftar hingga saat ini. Ia enggan menjelaskan data statistik lebih jauh 
terkait jejaring sosial mereka.

Kondisi serupa dialami Geevv.com, Azka menjelaskan, server milik 
Geevv..comsempat down karena server jebol Senin sore (25/12). Ia mencatat, 
lebih dari 1.200 pengguna per detik yang mengakses Geevv.com. Jumlah pengguna 
ini berbeda dari hari-hari sebelumnya.

“Langsung jebol. Sekitar pukul 16.00 WIB itu mati sampai sekarang [Senin 
malam],” ucap Azka.

Azka menjelaskan, jebolnya server Geevv.com juga karena servernya baru dipindah 
ke Indonesia, sehingga kapasitas pengguna yang berkunjung keGeevv.com tak 
mencukupi. “Kami baru pindah, enggak pernah ngetest jadi pas tadi sekalian 
[mengetahui kekuatan server],” kata Azka menjelaskan.

Soal tanggapan miring dari sejumlah pihak terkait Geevv.com yang masih 
menggunakan sejumlah infrastruktur dari luar negeri, Azka menanggapi dengan 
santai. Menurut dia, tanggapan bernada nyinyir biasa diberikan orang Indonesia. 
Ia hanya keberatan ketika ada pihak yang menyebut cloudflare yang masih 
menggunakan punya luar negeri.

“Terus aku mesti bikin sendiri? Situs online itu kebanyakan framework itu kan 
kebanyakan masih bergantung dari luar kan? Kalau kita enggak pakai, kita kan 
enggak akan ada,” sebut Azka.

Meski begitu, Azka menjelaskan, Geevv.com sedang berusaha menggunakan produk 
dalam negeri seperti untuk fasilitas email verifikasinya, hanya saja ada 
sedikit kendala untuk kecepatan jaringan, konfigurasi, dan harga. “Harganya 
agak mahal [dibanding buatan luar negeri],” kata Azka.

Menguji Klaim Novel

Promosi yang dilakukan FPI ini awalnya buat menghindari pemblokiran yang kerap 
mereka terima karena dilaporkan sejumlah pihak. Januari 2017, akun Twitter 
milik FPI juga sempat diblokir. Setelah 11 bulan berselang, giliran Facebook 
yang memblokir akun milik organisasi yang dipimpin Rizieq Shihab ini.

Pemblokiran yang dilakukan berulang kali ini membikin FPI jengah sehingga 
membuat mereka berpikir untuk mencari solusi. Setelah mendapatkan solusi, FPI 
kemudian mempromosikan tiga platform yang dibuat orang Indonesia ini.

Menurut Sekretaris DPD FPI Jakarta Novel Bamukmin, akan ada 50 juta pengguna 
Facebook dari anggota dan simpatisan FPI hingga alumni 212 di Indonesia yang 
akan migrasi ke jaringan media sosial yang mereka promosikan. Jika merujuk 
pernyataan tersebut, 50 juta pengguna yang akan hijrah dari Facebook itu setara 
dengan 37,04 persen dari 133.574.277 suara sah saat Pemilu Presiden 2014. 

Jumlah tersebut itu berselisih kurang sekitar 8 persen dengan jumlah suara yang 
diperoleh Prabowo Subianto-Hatta Rajasa tiga tahun lalu. Pada Pilpres 2014, 
pasangan Prabowo-Hatta memeroleh 62.576.444 suara atau 45,85 persen dari suara 
sah tersebut. Klaim Novel soal migrasi dari Facebook ini juga setara dengan 
27,38 persen jumlah penduduk Indonesia yang sudah memiliki KTP pada 2015, 
sebesar 182.588.494 jiwa.

Namun angka-angka itu tentu tak langsung berkorelasi dengan para pengguna media 
sosial, karena tak semua orang Indonesia memiliki akun di media sosial..

Angka pengguna Facebook di Indonesia diprediksi berkurang padahal saat ini, 
jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai 126 juta pengguna per 30 Juni 
2017. Klaim Novel itu hanya setara dengan 39 persen saja dari pengguna 
Facebook. 
Baca juga artikel terkait FPI atau tulisan menarik lainnya Mufti Sholih

Kirim email ke