http://sains.kompas.com/read/2017/12/27/200230323/ilmuwan-indonesia-akankah-selamanya-
menjadi-ali
Ilmuwan Indonesia, Akankah Selamanya
Menjadi Ali?
Dyna Rochmyaningsih
Kompas.com - 27/12/2017, 20:02 WIB
Satu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di
Singapura pada awal 1862
Satu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di
Singapura pada awal 1862(Wallace Memorial Fund)
*
*
*KOMPAS.com* - Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda Melayu
bernama Ali. Dia sudah lama mati namun belum lama ini sosoknya bangkit
kembali.
Kebangkitannya bukan bermula dari tanah yang retak, tetapi dari sebuah
tulisan yang dibuat oleh seorang ahli sejarah sains
<http://indeks.kompas.com/tag/sains> yang bernama John van Wyhe
<http://indeks.kompas.com/tag/John-van-Wyhe>.
*Baca:* Remaja Melayu di Balik Ekspedisi Alfred Wallace di Asia Tenggara
<http://sains.kompas.com/read/2017/10/17/120200323/remaja-melayu-di-balik-ekspedisi-alfred-wallace-di-asia-tenggara>
Berdasarkan penelusuran John, Ali adalah sosok penting dalam ekspedisi
Alfred Wallace <http://indeks.kompas.com/tag/Alfred-Wallace> di
Kepulauan Melayu pada akhir abad ke-19.
Berawal dari seorang juru masak, Ali kemudian membantu Wallace dalam
mencari dan mengawetkan spesimen-spesimen burung dan serangga.
Dibandingkan dengan asisten Wallace yang berasal dari Inggris, Ali
dinilai lebih cekatan dan lebih produktif dalam mengumpulkan spesimen.
Ribuan spesimen yang disiapkan Ali ini merupakan sumber dari tercetusnya
Teori Seleksi Alam, sebuah teori yang membantu Charles Darwin
<http://indeks.kompas.com/tag/Charles-Darwin> mengembangkan Teori Evolusi.
Namun kisah tentang Ali hilang seketika sejak kepulangan Wallace ke
Inggris Raya. Buku harian Wallace merupakan sumber utama kisah Ali
sehingga ketika keduanya berpisah, secara otomatis kisahnya berhenti.
Walaupun demikian, para ahli sejarah sains seperti John terus mencari
tahu tentang sosok Ali, sebuah sosok penting yang masih tersembunyi
dalam bayang-bayang Alfred Wallace.
Ratusan tahun berlalu dan saya baru menyadari bahwa ternyata ‘sosok Ali”
masih hidup dalam kebanyakan tubuh ilmuwan Indonesia dan juga ilmuwan di
negara berkembang lainnya.
Kisah Ali memberikan perspektif baru bagi saya untuk melihat kondisi
sains dan teknologi di negara berkembang saat ini.
Kisah ini merupakan simbol dominasi sains oleh dunia Barat dan
pengabaian dunia atas kontribusi ilmuwan di negara berkembang untuk
sains itu sendiri.
Banyak ahli menyebutkan bahwa sains modern lahir dengan pendanaan dari
kaum kapitalis di zaman kolonial.
Yuval Noah Harari, dalam bukunya /Sapiens/, menyebutkan bahwa
pelayaran-pelayaran bangsa Eropa ke selatan dunia di abad 19 bukan hanya
ditumpangi oleh pelaut,pendeta, dan pedagang, namun juga oleh para
naturalis seperti Alfred Wallace dan Darwin.
Sedangkan Carl Sagan, dalam bukunya Cosmos, menyebutkan bahwa revolusi
sains modern tidak bisa dipisahkan dari dukungan pemerintah Belanda pada
abad 19 terhadap kebebasan berpikir (/free-thinking/).
Saat ini dunia sudah jauh meninggalkan kolonialisme. Sains
<http://indeks.kompas.com/tag/sains> modern yang tadinya dimiliki Barat
sekarang seharusnya sudah menjadi perjalanan bersama (/universal quest/)
umat manusia.
Melalui semangat kebebasan dan kesetaraan, banyak orang di Indonesia dan
negara berkembang lainnya turut serta mempelajari sains sehingga
akhirnya mereka menjadi pelaku dari perkembangan sains itu sendiri.
Namun sayangnya kebanyakan nasib mereka sama seperti Ali. Sumbangsih
mereka untuk ilmu pengetahuan masih berada di balik bayang-bayang kolega
mereka di Barat.
Berdasarkan penelitian di jurnal /Health Affairs/, ilmuwan Barat
cenderung meremehkan hasil penelitian kolega mereka di negara berkembang.
Dalam eksperimen tersebut, sebanyak 347 ilmuwan kedokteran meninjau
(/review/) empat buah abstrak penelitian yang berasal dari Amerika
Serikat, Jerman, Ethiopia, dan Malawi.
Satu bulan kemudian, mereka meninjau empat buah abstrak yang sama tetapi
mereka tidak menyadari bahwa afiliasi negara yang tertulis di abstrak
tersebut sudah ditukar oleh penguji.
Hasilnya, mereka memberikan nilai yang lebih tinggi untuk abstrak yang
berubah afiliasinya dari negara miskin ke negara kaya.
Jika pada kesempatan pertama mereka membaca abstrak A dari negara Malawi
dan memberinya nilai 6. Maka di kesempatan kedua,mereka memberi nilai 8
pada abstrak A yang telah berubah afiliasi menjadi institusi di Jerman.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa tingkat penerimaan (/acceptance rate/) makalah ilmiah
yang berasal dari negara-negara berbahasa Inggris lebih tinggi daripada
makalah negara-negara yang tidak berbahasa Inggris.
Ini tentunya sebuah hal buruk bagi infrastruktur sains dunia. Para
ilmuwan di negara berkembang akan sulit menyebarkan hasil penelitian
mereka karena mereka sudah “tersandung” di awal.
Mungkin karena sebab inilah kebanyakan ilmuwan kita mengandalkan
kolaborasi riset <http://indeks.kompas.com/tag/riset> internasional
untuk perkembangan karir mereka.
Namun kolaborasi riset ini juga tidak selamanya menguntungkan.
/*Halaman selanjutnya: Kendala penulis Indonesia*/