From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, December 27, 2017 11:35 PM

  



http://sains.kompas.com/read/2017/12/27/200230323/ilmuwan-indonesia-akankah-selamanya-menjadi-ali


Ilmuwan Indonesia, Akankah Selamanya 

Menjadi Ali?
Dyna Rochmyaningsih
Kompas.com - 27/12/2017, 20:02 WIB

Satu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di Singapura 
pada awal 1862(Wallace Memorial Fund)



KOMPAS.com - Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda Melayu bernama 
Ali. Dia sudah lama mati namun belum lama ini sosoknya bangkit kembali. 

Kebangkitannya bukan bermula dari tanah yang retak, tetapi dari sebuah tulisan 
yang dibuat oleh seorang ahli sejarah sains yang bernama John van Wyhe. 

Baca: Remaja Melayu di Balik Ekspedisi Alfred Wallace di Asia Tenggara 

Berdasarkan penelusuran John, Ali adalah sosok penting dalam ekspedisi Alfred 
Wallace di Kepulauan Melayu pada akhir abad ke-19. 

Berawal dari seorang juru masak, Ali kemudian membantu Wallace dalam mencari 
dan mengawetkan spesimen-spesimen burung dan serangga. 

Dibandingkan dengan asisten Wallace yang berasal dari Inggris, Ali dinilai 
lebih cekatan dan lebih produktif dalam mengumpulkan spesimen. 

Ribuan spesimen yang disiapkan Ali ini merupakan sumber dari tercetusnya Teori 
Seleksi Alam, sebuah teori yang membantu Charles Darwin mengembangkan Teori 
Evolusi.

Namun kisah tentang Ali hilang seketika sejak kepulangan Wallace ke Inggris 
Raya. Buku harian Wallace merupakan sumber utama kisah Ali sehingga ketika 
keduanya berpisah, secara otomatis kisahnya berhenti. 

Walaupun demikian, para ahli sejarah sains seperti John terus mencari tahu 
tentang sosok Ali, sebuah sosok penting yang masih tersembunyi dalam 
bayang-bayang Alfred Wallace.

Ratusan tahun berlalu dan saya baru menyadari bahwa ternyata ‘sosok Ali” masih 
hidup dalam kebanyakan tubuh ilmuwan Indonesia dan juga ilmuwan di negara 
berkembang lainnya. 

Kisah Ali memberikan perspektif baru bagi saya untuk melihat kondisi sains dan 
teknologi di negara berkembang saat ini. 

Kisah ini merupakan simbol dominasi sains oleh dunia Barat dan pengabaian dunia 
atas kontribusi ilmuwan di negara berkembang untuk sains itu sendiri.

Banyak ahli menyebutkan bahwa sains modern lahir dengan pendanaan dari kaum 
kapitalis di zaman kolonial. 

Yuval Noah Harari, dalam bukunya Sapiens, menyebutkan bahwa pelayaran-pelayaran 
bangsa Eropa ke selatan dunia di abad 19 bukan hanya ditumpangi oleh 
pelaut,pendeta, dan pedagang, namun juga oleh para naturalis seperti Alfred 
Wallace dan Darwin. 

Sedangkan Carl Sagan, dalam bukunya Cosmos, menyebutkan bahwa revolusi sains 
modern tidak bisa dipisahkan dari dukungan pemerintah Belanda pada abad 19 
terhadap kebebasan berpikir (free-thinking).

Saat ini dunia sudah jauh meninggalkan kolonialisme. Sains modern yang tadinya 
dimiliki Barat sekarang seharusnya sudah menjadi perjalanan bersama (universal 
quest) umat manusia. 

Melalui semangat kebebasan dan kesetaraan, banyak orang di Indonesia dan negara 
berkembang lainnya turut serta mempelajari sains sehingga akhirnya mereka 
menjadi pelaku dari perkembangan sains itu sendiri. 

Namun sayangnya kebanyakan nasib mereka sama seperti Ali. Sumbangsih mereka 
untuk ilmu pengetahuan masih berada di balik bayang-bayang kolega mereka di 
Barat.

Berdasarkan penelitian di jurnal Health Affairs, ilmuwan Barat cenderung 
meremehkan hasil penelitian kolega mereka di negara berkembang. 

Dalam eksperimen tersebut, sebanyak 347 ilmuwan kedokteran meninjau (review) 
empat buah abstrak penelitian yang berasal dari Amerika Serikat, Jerman, 
Ethiopia, dan Malawi. 

Satu bulan kemudian, mereka meninjau empat buah abstrak yang sama tetapi mereka 
tidak menyadari bahwa afiliasi negara yang tertulis di abstrak tersebut sudah 
ditukar oleh penguji. 

Hasilnya, mereka memberikan nilai yang lebih tinggi untuk abstrak yang berubah 
afiliasinya dari negara miskin ke negara kaya. 

Jika pada kesempatan pertama mereka membaca abstrak A dari negara Malawi dan 
memberinya nilai 6. Maka di kesempatan kedua,mereka memberi nilai 8 pada 
abstrak A yang telah berubah afiliasi menjadi institusi di Jerman.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan 
bahwa tingkat penerimaan (acceptance rate) makalah ilmiah yang berasal dari 
negara-negara berbahasa Inggris lebih tinggi daripada makalah negara-negara 
yang tidak berbahasa Inggris. 

Ini tentunya sebuah hal buruk bagi infrastruktur sains dunia. Para ilmuwan di 
negara berkembang akan sulit menyebarkan hasil penelitian mereka karena mereka 
sudah “tersandung” di awal. 

Mungkin karena sebab inilah kebanyakan ilmuwan kita mengandalkan kolaborasi 
riset internasional untuk perkembangan karir mereka.

Namun kolaborasi riset ini juga tidak selamanya menguntungkan. 

Halaman selanjutnya: Kendala penulis Indonesia


Kirim email ke